Lebaran Ciamis (bagian 2)

Rasanya nuansa lebaran hanya terasa di hari pertama saja, hari berikutnya ya berjalan normal seperti biasanya. Kita sebagai warga kota metropolitan merasa terjebak dalam keheningan desa 😀 😀 😀 Kita putuskan agenda hari ini adalah jalan-jalan…horeee!!!

Eits, sebelumnya di pagi hari selain menghilangkan rasa suntuk Hamad kita ajak Hamad mengenal alam lingkungan lebih dekat, lingkungan alami yang ga ditemuin di Jakarta. Semuanya ada di halaman rumah Radi (diatas rumah Radi kan hutan). Kebetulan Radi mempunyai beberapa hewan piaraan seperti ayam, burung hantu dan domba garut (domba ini sebenarnya punya saudara jadi hanya bantu merawat & memelihara). Lumayan deh pengetahuan fauna Hamad semakin luas sebelum dikenalkan dengan kebun binatang Ragunan.

with brown owl

with domba garut

Siangnya kita siap jalan-jalan keliling desa ehm salah deh lintas kabupaten. Start dari dusun Citeureup (di desa Cinyasag, kecamatan Panawangan) terus persinggahan pertama di Cikijing – Majalengka untuk mampir ke ATM BNI dan belanja makanan ringan untuk persiapan balik dan tujuan akhir adalah waduk Dharma yang sudah masuk wilayah kabupaten Kuningan.

@waduk darma kuningan

Waduk Dharma ini ramai sekali dikunjungi, berderet motor parkir di dekat jembatan tak lupa banyak pedagang kakilima. Kita cukup berfoto di dekat jembatan saja, terlihat seperti di luar negeri kan?

Pulangnya kita mampir lagi di Cikijing untuk mengisi perut dengan membeli bakso (salah satu makanan favorit ayah). Saat berangkat tadi kita melihat beberapa warung bakso yang ramai dikunjungi oleh orang dan dari sekian banyaknya warung bakso adalah warung bakso Ronasari yang terletak di pasar Cikijing inilah yang paling ramai pembelinya sampai-sampai yang jualan ga kelihatan 😀 begitu pesanan datang terlihat 8 buah bakso ukuran bola pingpong memenuhi mangkuk (pantes aja rame, banyak gitu baksonya) dan rasanya lumayan enak, kita juga beli beberapa porsi bakso untuk nenek dan saudara.

Dalam jalan-jalan naik motor kali ini, bunda melakukan kesalahan yaitu tidak memakaikan Hamad celana panjang+kaos kaki alhasil perjalanan pulang sekitar sehabis maghrib Hamad nangis kedinginan walaupun sudah diselimuti kain gendongan (bunda dimarahi ayah, agar lebih mengenal situasi jangan disamakan dengan kondisi Jakarta) maka sesampainya di rumah Hamad langsung dibaluri minyak kayu putih dan berganti pakaian piyama tak lupa pakai kaos kaki. Maafkan bunda ya Hamad telah membiarkan Hamad kedinginan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s