Hati Random

Postingan kali ini benar-benar #notetomyself, muncul karena Jakarta sore hari seperti Gotham City. Suram.

Makan makanan yang tersedia. Sejak kecil orang tua selalu mengajarkan untuk menghabiskan makanan yang ada di piring, kasihan Dewi Sri, kasihan petani kalau nasinya gak habis. It works  for me! Mungkin karena terlalu penurut dan penakut ya. Semakin besar kita bisa menakar berapa kapasitas perut jadi mulai mengira-ngira berapa sendok nasi/sayur yang kita ambil. Pernah ambil nasi kebanyakan dan gak sanggup lagi memakannya sambil melirik bersalah ke Bapak, untungnya Bapak mengerti sambil menasehatiku. Hal tersebut perlahan tertanam dan menjadi kebiasaan, makan apapun yang Mama masak lagipula masakannya paling juara! Terus hati bisa sedih banget kalau lihat orang makan gak dihabisin.

Memasuki masa dimana kita punya uang untuk membeli makanan pun pasti pernah impulsif membeli makanan yang kelihatannya enak padahal gak. Menumpuk stok sayur yang ternyata kelamaan di kulkas akhirnya busuk. Semua berakhir di tong sampah. Well, ketika punya uang kita selalu berpikir: “duit gue ini, terserah gue!”.

Lain lagi kalau urusan makan dibeliin (minta tolong OB beliin makanan). Dulu suka kesal deh, pesan A kok yang datang B? Padahal dijamin OBnya mumet kesana-kemari beliin makanan pesanan orang-orang. Di kantor sekarang yang makan tinggal makan pun sebisa mungkin gak request yang aneh-aneh, kalau gak suka yasudah sebisa mungkin diam. Jangan makan sampai tandas terus bilang “duh gak enak, coba tadi minta beliin yang lain saja”. Mending bawa bekal sekalian deh.

Jangan iri akan hak orang lain. UMR buruh di Jakarta naik? Yasudah biarin saja itu haknya kok, kedengerannya memang fantastis dari Rp 1.3juta menjadi Rp 2.2juta tapi percaya deh angka segitu pas banget buat hidup sederhana di Jakarta. Tempat tinggal saya dekat dengan KBN dan beberapa tetangga adalah buruh di KBN tsb, ketika anak mereka sakit mereka tidak punya asuransi untuk menutupi biaya periksa ke dokter. Mereka juga manusia walau pendidikan hanya SMA tapi mereka punya ketrampilan dan punya keluarga untuk dinafkahi. Semoga pemerintah melihat mereka sebagai manusia bukan sekedar angka. Kalau pun masih iri dengan berasumsi “mereka cuma buruh” sedangkan kita kan berpendidikan tinggi kenapa gaji jadi 11-12? Semoga kita masih bisa berpikir jernih dan mengenal kata “perjuangan” dan “negosiasi”.

Kemapanan adalah semu. Di kantor lagi rame soal restrukturisasi organisasi, ada yang dicopot jabatannya. Duh pasti galau banget! Biasa enak, akses gampang. Kalau saya pasti sangat sedih, marah, why me?! Bawaannya negatif terus, mencurigai adanya konspirasilah, dsb. Jatuh memang tidak enak, saya sering membayangkan kalau saya mengalami masa susah seperti dulu apakah saya bisa bertahan dan melaluinya atau malah terpuruk jauh? Pasti lama muncul kesadaran bahwa ini takdir, suratan nasib, ada pintu lain yang dibuka oleh Allah atau menerima kenyataan bahwa ini adalah peringatanNya. Duh Gusti Allah…

Ada kalanya untuk pasrah saat berdesakan di metro mini yang pengap dan bocor dan menatap marah ke arah mobil pribadi. Ada kalanya tertegun saat melewati jembatan penyeberangan melihat anak kecil berselimutkan plastik dan beralaskan koran basah. Ada kalanya merasa bersyukur lebih baik daripada orang lain tidaklah cukup. Ada kalanya kecewa kepada diri sendiri karena tak mampu berarti. Ada kalanya lebih baik diam daripada menyesali apa yang telah terucap/tertulis. Ada kalanya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s