Nonton Film

Dalam dua bulan terakhir ini saya jadi sering menonton film di bioskop padahal saya bukan pencinta film. Prinsip saya nonton film bisa dimana saja dan kapan saja. Jadi kalau kelewatan nonton juga santai dengan alasan nanti juga tayang di tv, nanti juga bisa nonton di pesawat (ceileee), nanti juga bisa streaming di internet atau nonton di LSF šŸ˜€ (padahal baru sekali doang).

Tapi kalau dipikir mendalam kenapa akhir-akhir ini saya sering nonton film karena butuh hiburan, lelah dinda. Egile aja keadaan sekarang ya kancah perpolitikan bikin gerah, belum ditambah urusan kerjaan, rumah dan tugas kuliah. Huft. Banyak alasan ya šŸ˜…. Dengan mengambil metode relaksasi diri yang dikenal dengan me-time maka sepulang kantor saya dan teman mampir dulu ke bioskop terdekat. Eh ada juga sih yang bukan me-time yaitu saat menonton Pororo bareng krucils.

Film yang saya tonton antara lain Kartini, Critical Eleven, Pororo, dan terbaru Ziarah. Please deh film yang saya tonton ternyata bukan menyenangkan diri malah memberi banyak pertanyaan. Membuka pikiran akan adanya kekuatan cinta dan kasih sayang keluarga.

Kartini, menyadarkan saya akan beratnya upaya Kartini untuk bisa setara. Masa sekarang saya diam atau malah memperburuk kesempatan yang ada?

Critical Eleven, sweet newly married couple yang langsung dapat guncangan dan bagaimana bisa berdamai dan melalui segala masalah yang ada. Eh ini rada heboh sih, awalnya pengen bisa nonton premiere terus gotix error karena diserbu dan gagal deh ketemu babang HD. Jadinya nonton CE di XXI Atrium, tau sendiri kan hawa-hawa Atrium Senen šŸ˜€ dari kantor ke Senen macet pula bikin ketinggalan 10 menit awal film.

Totoro, film animasi lawas tapi ceritanya masih relatable dengan kehidupan sekarang yaitu betapa sederhananya cinta dan kebaikan.

Ziarah, mengingatkan akan mbahku dulu tapi gak sesedih mbah Sri dalam cerita ini sih. Ini juga tentang cinta, kematian, keikhlasan. BTS nonton ini karena Ayu gak kuat jalan kaki ke Tosari dan menawarkan untuk nonton di TIM. Ada yang segitunya kepengen duduk šŸ˜‚.

Oiya, sebenarnya saya kalau lagi nonton bawel juga karena sambil ngobrol dan bahas alur film mau dibawa kemana nih ceritanya. Belum lagi protes kecil yang terucap kek harusnya diganti ini nih. Aakkk…

Mulai deh jadi pemerhati film šŸ™Š etapi saya gak bandingin kualitas film kok, saya cukup menikmati sinematografi film, saya menikmati properti film seperti kecenya rumah Kartini šŸ˜», penasaran cat biru tembok rumah Anya-Ale, rustic vintage desa Jawa di Ziarah secara saya kan home living enthusiast ala-ala šŸ˜‚.

Akhir kata, alhamdulillah bisa nonton film ya… Oiya, ternyata lebih enak nonton di bioskop yang gedung sendiri bukan yang di dalam mall karena dari parkiran bisa langsung sedangkan kalau di dalam mall harus cari eskalator/lift.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s