Beberes Kertas

Beresin tumpukan kertas di rumah memang melelahkan. Tumpukan kertas itu berupa fotokopian dokumen, worksheet/printables anak-anak, buku sekolah anak, surat dari sekolah anak, surat dari RT, brosur, dll.

Sabtu kemarin tumben-tumbenan nih saya mau beberes kertas. Yang pertama dibongkar adalah buku sekolah anak mengingat sekarang sudah akhir tahun ajaran sekolah perlu melapangkan space penyimpanan di lemari.
1. Buku pelajaran (buku paket/buku cetak) yang sudah tidak dipakai dipindahkan, tidak dibuang karena bisa digunakan untuk belajar adiknya.
2. Buku tulis pun tak luput dari penyortiran. Yang mengejutkan ternyata anak sekarang cuma sedikit mencatat di bukunya sehingga masih banyak lembar kosong di buku tulis. Saya sobek saja agar sisa buku bisa dipakai untuk tahun ajaran berikutnya. Lumayan ngurangin belanja buku tulis setiap tahunnya 😂. Tinggal ganti sampul bisa deh dipakai lagi.
3. Worksheet dari sekolah termasuk yang langsung disingkirkan. Yang numpuk tuh worksheet Kumon, dibuang sayang kalau inget bayaran setiap bulannya tapi gak dibuang bingung menyimpannya.
4. Kertas gambar anak pun tidak kalah banyak mengingat anak-anak saya hobi sekali menggambar dan mewarnai. Ini perlu disortir, gambar yang bagus saya simpan dan di lain kesempatan saya foto/scan untuk diupload di akun instagram khusus gambar anak. Pengen bebikinan dari gambar anak-anak tapi nanti dulu deh.
5. Surat dari sekolah anak yang informasinya sudah lewat pun langsung saya singkirkan.

Selesai merapikan kertas anak-anak, saya berpindah ke kotak kontener surat penting seperti ijazah, kartu keluarga, akte lahir, dll. Dari dulu kami sudah membuat penyimpanan khusus untuk surat penting tersebut di document keeper tapi disatukan padahal lembar penyimpanannya terbatas sehingga banyak surat penting yang hanya diselipkan dan besar kemungkinan tercecer. Ditambah fotokopian surat penting yang tak kalah banyaknya. Mulai terasa lemes ya beresinnya 😌.
1. Memisahkan surat penting per nama anggota keluarga. Jadi setiap orang memiliki satu document keeper sendiri.
2. Fotokopian surat penting yang masih berlaku saya simpan di map tersendiri.
3. Dokumen yang tidak penting tapi berisikan informasi nama/NIK/alamat/norek dikumpulkan di satu kantong terpisah untuk dihancurkan, mgeri disalahgunakan untuk pencurian identitas. Kemungkinan akan dicacah menggunakan shredder machine (pinjam punya kantor 😬), kalau dibakar bikin polusi, atau kalau kerajinan digunting acak (ternyata di marketplace banyak yang jual shredder manual).
4. Brosur produk tak luput untuk dibuang. Saya kan hobi ya ke berbagai pameran. Zaman hunting rumah tuh bisa sampai sekantong besar isinya brosur perumahan 😂. Zaman bangun dan isi rumah pun rajin ke pameran semacam indobuildingtec, inacraft cuma buat ngumpulin brosur 😌. Sekarang sudah tidak terpakai dan banyak informasi yang bisa diperoleh dari internet.

Lumayan banget nih hasil beberes kertas ada sekardus dan sekantong kertas yang akan dibuang. Saya tanya mama saya laku berapa kalau dijual? Dikiloin apa gimana? Jawabnya, “gak dikilo, borongan dan dihargai murah”. Yowis gapapa deh, semoga sampah kertas ini diolah untuk didaur ulang ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s