TCVtrip2017 part 3 – Siem Reap

21 September 2017, setelah cuci muka (saya gak mandi lagi karena malamnya sudah mandi :D) dan sarapan kami berangkat dari hostel menuju Bangkok Bus Terminal (Chatuchak) untuk melanjutkan TCVtrip2017. BTW, sudah bisa nebak belum TCV singkatan apa? πŸ˜€

Untuk menghemat waktu, kami order uber ke terminal dan datanglah mobil Isuzu D-Max. Keren amat uber kami πŸ˜€ Ternyata setelah diperhatikan di Bangkok hingga pinggiran kota banyak sekali mobil sejenis pick up ini dengan beragam merek. Malah saya gak nemu Xenia Avanza :D. Sesampai di terminal kami menuju loket bis untuk check-in (Nunu sudah pesan by onlineΒ di 12go.asia sebelumnya). Sambil menunggu waktu mampir dulu ke mini market dalam terminal. Suasana terminal sih tergolong sepi, terminal lama tapi terawat dengan baik. Buat yang jomblo mungkin dipikirkan untuk mencari jodoh orang Thailand, semua fasilitas umum saja terawat masa iya hubungan cinta gak terawat #krik. Oiya, pas teng jam 8 pagi kami yang sedang duduk kaget oleh suara lagu kebangsaan dan otomatis semua orang beranjak dari bangku tunggu untuk berdiri sikap hormat, kami pun ikutan berdiri. Salut deh akan nasionalisme mereka!

Penumpang bis yang kami naiki mayoritas memang backpacker lintas negara jarang warga lokalnya. Perjalanan kami ini cukup lama sekitar 9 jam perjalanan, mirip deh pulang kampung ke Purwokerto via jalur Pantura πŸ˜€ karena masih ngantuk jadi kebanyakan dalam perjalanan ya dibawa tidur, sesekali berhenti untuk melihat pemandangan. FYI, operator bis yang kami naiki adalah Transport Co Intl. Pelayanannya bagus, kami dapat istirahat di pemberhentian sebanyak 2 kali, dapat makan siang, dibagikan Customs Declaration form, dikasitau petunjuk saat memasuki perbatasan. Profesyenel pokoknya!

Perbatasan Thailand dan Cambodia ini bagaikan langit dan bumi menurutku, begitu masuk teritori Cambodia ini agak lost sempat ada bule salah jalur dan kasih permen ke anak pengemis yang kemudian diikuti oleh teman pengemis lainnya. Terasa banget perbedaannya karena banyak anak jalanan, pengemis, dan suasananya agak tegang entahlah apa karena pas tengah hari panas kami dikumpulkan di satu ruangan berkipas angin, memandang keluar rasanya sungguh gersang padahal sebrang imigrasi adalah hotel Casino megah tapi jalannya masih jelek aspal bercampur debu tanah coklat, warga hilir mudik lewat menggunakan sepeda motor jadul dan takjublah saya melihat mobil Lexus, Camry wara-wiri. Kontras.

Sampai di Siem Riep kami diturunkan bukan di terminal tapi hanya semacam teras rumah warga. We (feel) got lost menginjakkan kaki di antah berantah mana suasananya mendung rintik, gloomy. Untungnya ada Roy, supir tuk-tuk kami yang sudah menunggu untuk mengantarkan kami ke hostel. Roy dengan ramah menyambut kami. Ternyata jauh-jauh kami ke Siem Reap eh ketemu banjir depan hostel, agak ngeri juga tuk-tuknya oleng atau mogok. Nasib… jadi kangen Pak Ahok kan… tapi masuk kamar hostel kami langsung selonjoran. Nikmat sekali…

Agenda kami hari ini setelah dihabiskan untuk perjalanan darat hanya mengunjungi night market di Siem Reap. Ternyata night marketnya rame bener kalah deh pasar kaget komplek πŸ˜€ banyak bule kongkow di pub, semakin malam muncul cabe-cabean lokal, banyak warga lokal lainnya, banyak turis asia juga, banyak pedagang souvenir dan tentunya penjual jus buah kayak jamur di musim hujan. Saya cuma beli gantungan kunci buat syarat kalo ditagih oleh-oleh dan nyobain mix fruit juice. Nunu beli coconut juice setelah dicicip mirip santan plus parutan kelapa :D. Di Siem Reap menggunakan mata uang USD (tekor deh kita karena minimal harga barang 1 USD) dan Riel. Tenang saja di Siem Reap ada Miniso tapi ya bayarnya USD dikembaliinnya campur Riel :D.

Sepulang dari night market kami kembali ke hostel untuk istirahat. Bulan September ini low season, jadi hostel pun sepi dalam satu kamar hanya kami bertiga. Cerita tentang Siem Reap dibagi 2 saja ya biar gak kepanjangan.

 

 

 

Advertisements

TCVtrip2017 part 2 – Bangkok

Lanjutan postingan disini. Postingan part 2 didedikasikan untuk Bangkok :D.

Dari Terminal 1 Don Muang kami naik bis menuju hostel yang terletak di Rachathewi. Naik bis A1 ke Catuchak Park/dekat BTS Mo Chit ongkosnya 30 THB per orang. Bis di Bangkok ini jadul ya ala-ala bis Jepang di Jakarta tapi biarpun jadul tetap terawat kebersihannya. Dari BTS Mo Chit lanjut ke BTS Rachathewi N1 (Sukhumvit line) ongkosnya 37 THB. Baru tau, BTS itu skytrainnya Bangkok, jangan disamakan dengan commuterline jabodetabek ya karena beda tarif, beda line πŸ˜€ ya pastinya lebih nyaman tapi insya Allah kita juga bisa maju seperti Bangkok (berdoa semoga proyek pembangunan MRT dan LRT cepat rampung).

*insert caption quote* padahal gak ngerti gimana bacanya πŸ˜‚

Hostelnya cuma jalan kaki sedikit dari BTS, ya kami ke hostel buat nitip carrier dan pinjam toiletnya buat bebersih dan ganti baju. Sebelum berkeliling mengeksplorasi kota Bangkok kami juga sempatkan sarapan di warung halal dekat BTS Rachathewi.

Karena kami cuma sehari di Bangkok jadi destinasi wisatanya terbatas sekali, gapapa ya namanya pengenalan dulu :D. Tujuan awal kami ke Wat Arun. Naik BTS sambung taksi kapal. How to get there? untuk ke dermaga taksi kapal naik BTS tujuan BTS Saphan Taksin lanjut keluar jalan kaki sedikit ke Sathorn Central Pier, naik Express Boat River Taxis yang Orange Flag Line (yang murce) turun di pier 8. Di Wat Arun kami kehujanan dan sempat berteduh di gazebo yang sedang dicat oleh tukang. Oiya, kami juga bertemu 3 nenek dari Afsel yang sedang travelling. Seru deh bercengkerama dengan traveller lain.

Setelah Wat Arun, kami menuju Grand Palace naik taksi kapal lagi, sayangnya pas kami tiba di Grand Palace banyak orang berpakaian hitam sepertinya ada upacara kematian jadilah kami jalan-jalan menyusuri jalan sekitar dan mampir ke The Maharaj, ini tempat local brand kumpul gitu deh. Foto-foto setitik dan terpenting cari wifi gratisan, dasar turis kismin :D.

Destinasi berikutnya adalah The Asiatique. Sampai sini sudah sore, kelaparan tentunya. Kami butuh ishoma! alhamdulillah ada masjid seberang asiatique dan kuliner sekitar masjid insya Allah halal. Di asiatique cuma belanja sedikit di Miniso dan Tae Kae Noi store.

Keliling cuma Wat Arun-Grand Palace-The Asiatique saja bikin jebol langkah kakiku di angka 12ribuan. Wohooo! Seru juga boat taxi hoping dari satu dermaga ke dermaga lain, untung nenekku seorang pelaut ya gak mabuk sungai :D. Semoga kalau ibu kota jadi pindah ke Palangkaraya, sungai Kahayan dibikin cantik seperti sungai Praya.

Sebelum tidur, mandi air hangat lanjut packing untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. It will gonna be long road trip! Lintas negara bok.

TCVtrip2017 part 1

Carrier modal minjem πŸ˜‚


Pecah telooorrr… First time travelling abroad. Yeay!

Preambule dulu deh, sebenarnya pasca travelling malah sakit kecapekan dan belum ada mood buat ngeblog mana kudu nguber ketinggalan ngerjain pe-er kuliah selama 2 minggu. Setelin video youtube Mario Teguh deh buat motivasi nulis :D.

Di postingan part 1 ini akan bercerita bagaimana awalnya bisa travelling abroad padahal bikin paspor saja males? Eh sedikit cerita paspor ada disini. Jadi saya kan berteman dengan NunuΒ sejak jaman nebengers, dia ini solo traveller gitu, sudah profesyenel deh urusan jalan-jalan πŸ˜€ bikin open trip ke 3 negara dan biayanya murce. Duh, saya sebagai emak-emak ogah rugi kepincut dong… sekali bayar bisa 3 negara terlampaui. Setelah mendapat izin dari suami, akhirnya saya ikutan dong rencana open tripnya dan waktu itu masih sekitar 2 bulan sebelum hari H sehingga saya sempatkan bikin paspor dan nyicil belanja keperluan travelling. Deg-degan euy secara baru pertama kali. Norak to the max! hehehe…

Oiya, karena perjalanan 3 negara ini berbudget rendah maka travelling ala backpacker-lah pilihannya. Chatting di WA dan ketemuan dulu di Wendy’s buat bahas how to do secara disini newbie kan… kayak bingung pake ransel kayak gimana? segede apa? apa saja yang dibawa? Urusan ransel berbekal tanya ke teman grup WA akhirnya dapat pinjaman carrier dari Venny (aakkk… belum sempat ngelondri carriernya). Daripada beli atau susah cari tempat sewa carrier kan? Ternyata saya kebanyakan bawa baju! pertimbangannya daripada saya kesulitan membeli baju di negara orang (budget belanja bertambah pastinya) lebih baik bawa spare.

19 September 2017, CGK-SG naik Tigerair (sekarang Scoot). Pesawat malam, berangkat ke bandara dari kantor ngegrab bareng Nunu dan Linda. Ternyata pesawatnya delay, untung sempat jajan Bakmi GM untuk makan malam karena cuma dapat Aqua botol sebagai kompensasi keterlambatan. Tengah malam sampai di Terminal 2 Changi trus bergantian nyobain Osim pemijat kaki (hahaha baru berangkat saja sudah minta pijet) dan kemudian mencari tempat duduk buat selonjor tiduran menanti flight berikutnya ke Bangkok. Jadi buat yang nginep di Terminal 2 Changi bisa melipir ke Oasis Lounge (dekat gate E11) buat bobo cantik ya… Paginya sempatkan dulu jajan roti panggang buat ganjel perut. Sempat perhatiin pekerjanya sudah manula dan pagi buta sudah on. Hebat ya!

20 September 2017, SG-BKK naik Scoot lagi tapi pesawatnya airbus gede 3 row dan dingin banget untung sedia jaket. Norak lagi karena biasa naik boeing kan ya :D. Mendarat kami di Terminal 1 Don Muang. Sebelumnya nuker receh dulu buat ongkos naik bis ke hostel.

Part 1 sampai sini dulu deh. Part 2 akan bercerita tentang aktivitas seharian di Bangkok. Don’t miss it!

 

 

 

 

#home101 – Piring Hias


Setelah saya dihantui oleh piring hias sejak DLK ke Kendari dan Surabaya akhirnya meneguhkan saya untuk browsing piring hias di Instagram maupun Tokopedia :D. Susahnya di bagian mencari piring hias dengan warna dan motif yang pas sesuai keinginan yang anti mainstream tapi ngirit :D. Permasalahan lain adalah warna dinding di rumah yang akan dipasang piring hias sudah cukup kuat, gak boleh terlalu menonjol. Halah ribetnya…

Kekhawatiran belanja online untuk barang pecah belah adalah barang pecah, alhamdulillah sellernya ok, paket barang terbungkus rapi dan aman. Oiya, meskipun sepertinya saya bisa bikin sendiri kawat piringnya tapi kali ini saya beli yang sudah jadi saja, tinggal pasang pokoknya.

Memberdayakan suami yang sedang rajin membantu bebenah rumah maka saya terbebas dari urusan mengukur jarak dan mengebor dinding. Susah euy karena lokasinya tinggi, bisa gemeteran di tangga. Sekalian plang Indomie dipasang juga untuk melengkapi hiasan di dinding.

BTW, sebenarnya piring hias yang selalu menghantui saya adalah piring hias ukuran besar dengan diameter 40 cm dan kabarnya di Wonogiri ada sebuah rumah kolektor piring hias besar yang instagramable (pengen ke sana tapi jauh) dan menurut artikel yang saya baca piring hias tersebut dibeli di Majalengka. Penasaran di Majalengka sebelah mana yang jualan? secara saya mudik lewat tol Kertajati, Majalengka kan enak kalau bisa mampir beli piring hias.

Weekend Project: DIY Notice Board

Setelah saya bersusah payah mencari tau warna cat dinding di rumah yang alhamdulillah masih terarsip dengan baik di toko cat sejak tahun 2014 yang lalu maka langsunglah mengecat dinding ruang belajar/musholla/perpustakaan di rumah. Memang terlihat nyaman di mata apabila warna cat dinding merata, selama ini sakit mata lihatnya :D. Memang ya namanya dekor rumah gak ada habisnya… etapi memang sudah direncanakan sejak awal pengen punya message board/notice board gitu tapi gak mau pake corkboard karena sudah terpasang dekat dapur, pengennya pakai kawat grid tapi belum nemu yang sreg di kantong :D, untungnya saya anak yang rajin browsing OLS jadi nemu deh hanger jilbab berbentuk segitiga yang dialihkan sebagai notice board. Untuk melengkapi dinding sebelahnya yang masih kosong dan biar tidak terasa illuminati amat (hanger jilbabnya berbentuk segitiga soalnya :D) maka mulailah kembali mencari ide di Pinterest.

Akhirnya IKEA hack deh! menggunakan alas panci IKEA heat dan cat decoupage. Cara membuatnya bisa dilihat di sini. Cat decoupagenya masih sama seperti yang saya gunakan pada Weekend Project: DIY Moon Phases. Pengiritan judulnya πŸ˜€

Begini foto sebelum dan sesudahnya ya…

Weekend Project: DIY Moon Phases


Dalam rangka memanfaatkan piring bambu/rotan yang menumpuk di gudang maka browsinglah di pinterest mencari ide dan menemukan bebikinan DIY Moon Phases alias fase bulan dari bulan sabit hingga bulan purnama. Senangnya bebikinan selain menggunakan barang bekas juga bikin saya belanja perlengkapan lainnya πŸ˜€ dalam hal ini belanja cat decoupage, ya memang gak punya stok cat seperti itu di rumah. Lagipula sisa catnya masih banyak bisa buat weekend project lain #pembenaran.

DIY Moon Phases

Bahan yang diperlukan :

  • 7 buah piring bambu/rotan. Bisa diganti dengan barang lain yang penting berbentuk lingkaran πŸ˜€
  • 3 cat decoupage (abu, peach, dan gold), ini juga bebaskan mau pilihan warna catnya seperti apa, sesukamu saja.
  • kuas cat.
  • kertas koran bekas untuk alas, biar gak kotor.

Cara membuat :

  • Siapkan bahan yang diperlukan.
  • Cat piring bambu/rotan dengan cat dasar (saya pakai cat warna abu-abu), jemur hingga kering.
  • Lanjutkan mengecat lapisan kedua yaitu bentuk bulan (saya pakai cat warna peach), jemur hingga kering.
  • Tahap akhir, berikan sentuhan gemerlap dengan menorehkan cat warna gold secara acak.
  • Gantung deh di dinding rumahmu, bisa secara vertikal maupun horizontal.

DIY Moon Phases ini selain mempercantik dinding ruangan juga bermanfaat sebagai media pembelajaran IPA untuk anak-anak.

 

Movie Date Cars 3

Sabtu lalu, setelah mengantar Ghita ke sekolah TK untuk mengikuti perlombaan 17an, saya mengajak Vito movie date Cars 3 di BSD Plaza XXI, bioskop termurah se-Tangsel :D. Sengaja berdua saja karena Ghita sudah menang banyak hari itu dapat piala dan goodie bag dari sekolah. Hahaha… dalam upaya memberikan keadilan kepada bocils.

Jarak film Cars ini jauh-jauh ya… 2006, 2011, dan terakhir 2017 jadi ada beberapa bagian cerita ya lupa dan tercampur ingatan dengan film Planes yang buatan Disney Pixar juga. Sebagaimana rekomendasi dari Gemma, sungguhlah baper nonton film animasi ini mana ada bagian flashback Mcqueen dan Doc Hudson, pencarian Mcqueen ke kampung halaman Doc Hudson, okelah film Cars 3 ini memanglah tribut untuk Doc Hudson.

Berikut beberapa hikmah yang bisa diambil dari film Cars 3 :

  1. The struggle is real. Perjuangan Mcqueen yang memasuki masa pensiun dan berhadapan dengan pembalap baru. Dalam kehidupan nyata seperti saya generasi X (anak 90an) harus berhadapan dengan anak milenial. Bagaimana bisa bekerjasama dengan anak milenial? Bahkan menjadi mentor.
  2. Lanjutan dari poin 1: Tentukan masa pensiun daripada baper karena tersingkir dengan generasi muda. Kapan mulai dan kapan berakhir harus kita tentukan dalam berkarir. Apalagi saat merasa di puncak kejayaan pasti sulit menerima kenyataan harus mundur. Alhamdulillah lagi kalau bisa menjadi teladan bagi generasi penerus.
  3. Ambil kenangan manis sebagai pemacu semangat. Kenangan indah akan Doc Hudson bikin Mcqueen melangut, membuncah kerinduan akan sosok mentor untuk hadir dalam setiap pertandingan. Untunglah sosok Doc Hudson selalu ‘hadir’ memberi semangat. BTW, sepanjang film mencoba mengingat kapan Doc Hudson meninggal?

Etdah, animasi Disney memanglah super… panteslah Pak Ahok merasa dirinya sebagai NemoΒ #sambunginsajashayyyΒ πŸ‘πŸ‘πŸ‘.