Ghita & Lomba Mewarnai

39786307_10217305710182823_6393655386758447104_n

39535900_10217305710622834_8935079611310538752_n

39851707_10217305710942842_8880164923968061440_n

Sabtu siang kemarin, kami mengantar mbak Ghita lomba mewarnai di Perpustakaan Umum Kota Tangsel. Mbak Ghita sudah berani, tidak mau ditunggu.

Berhubung cuaca panas, kami melipir ke dalam perpustakaan. Koleksi bukunya lumayan banyak. Ada bukunya Pak Ahmad Tohari, bapaknya Sita, teman SMA saya (baru tau kalau film Sang Penari diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya beliau) 😅. Waktu SMA kelas 3, saya dan teman-teman sekelas pernah menginap di rumahnya dan senang mendengarkan beliau bercerita. Baru inget juga kalau kami dulu menulis cita di selembar kertas yang dimasukkan ke dalam kaleng ditanam di di halaman depan rumahnya. Apa kabarnya ya kertas harapan tersebut?

Kembali ke acara lomba mewarnai, sambil menunggu pengumuman, bocils akur makan ayam goreng. Sayang sekali mbak Ghita belum beruntung dalam lomba kali ini. Saya pun memeluk dan menghiburnya. Tetap semangat ya!

Kabar gembira untuk warga Tangsel, perpustakaan umum akan pindah ke gedung baru 4 lantai di Jalan Raya Ciater. Jujur nih, saya baru tau lokasi perpustakaan karena ada acara lomba hehehe. Semoga di lokasi baru, perpustakaannya tambah ciamik ya!

Advertisements

Bread Maker Kenwood BM250

Jadi… beberapa tahun silam sempat trending bread maker di kalangan ibu sosmed, ya saya pun ikutan ngiler pengen punya secara saya suka makan roti tapi harga bread maker ini terbilang mahal dan juga pertimbangan lain seperti warm-warm chicken poo di setiap kitchen gadget, rajin di awal doang 😀 .

Beli bread maker ini pun gak sengaja karena keseringan dapat newsletter dari toko perkakasku.com lalu rajin memasukkan barang ke keranjang sampai diberitahukan ada belanjaan yang tertinggal 😀 eh kok ada produk promo tapi kardusnya rusak, beli gak ya? saya chat sellernya, minta foto kondisi barang dan kepastian garansi. Fix, tergoda juga beli bread maker sale 50% ini.

Pas paket bread maker ini datang, kondisi rumah sedang berantakan renovasi kecil sementara itu bocils yang kepo langsung maksa minta dibuatkan roti tawar. Sabar nak.

Sejauh ini sudah 3 kali membuat roti tawar diantaranya Chia Seed White Bread ini. Percobaan pertama mengikuti buku manual, hasilnya roti ala orang barat yang keras di luar hambar tapi cukup lembut isinya.

Selanjutnya saya rajin googling resep roti tawar, simpan resepnya di google keep, praktekan. Alhamdulilah hasilnya enak. Lumayan menu sarapannya roti tawar home made lebih sehat tanpa bahan pengawet (walaupun masih karbo ya).

Pengennya sih bikin jenis roti lainnya tapi harus melibatkan oven tangkring dan kompor gas satu tungku di halaman yang mana ribet menyiapkannya. Beneran deh saya pengen punya oven gas. Mulai deh alasan belanja lagi 😀

Oiya jangan puji-puji saya atas roti ini ya! Karena yang bekerja adalah bread maker, saya sih cuma cemplung-cemplung bahan. Next challenge mungkin DIY ragi roti?

Meriah Merah Putih

Awalnya bagaimana ya sampai saya bisa mau ikutan duo ibu sekre D5 ini ke Pasar Jatinegara? 🤔 Oiya… Tadinya saya mau ngajak mereka turun ke ruang rapat di bawah karena kata Ayu ada yang jual ikan. Namanya juga buibuk ya… Gak lepas dari belanja lauk pauk etapi belanja ikannya batal trus saya nurut saja kemana mereka pergi 😂.

Jadi, sebut saja mbak Sri mau beli bendera karena belum pasang di rumahnya. Maklumlah rumahnya jauh di pelosok Bogor, setiap hari pergi pagi pulang malam sampai gak sempat beli bendera di tukang bendera keliling. Sedangkan ibu Marli hendak membeli karpet untuk rumah ibadahnya. Itu niat awalnya ya… Begitu sampai Pasar Jatinegara godaannya banyak bener, ada yang beli duku, gantungan scarf, boneka, combro endess di dalam gang pasar. Saya saja ikutan beli garland dan balon.

Lalu yang bikin hatiku hangat adalah melihat kemeriahan merah putih menyambut 17an. Saya percaya Indonesia baik-baik saja. Beneran deh buat kalian yang selama ini sibuk menyaksikan atau nyemplung di kehidupan maya yang sedang huru hara politik dan mulai eneg maka sebaiknya kalian turun ke pasar tradisional, beli hiasan 17an untuk disematkan di sudut meja kantor, di rumah, di sepeda anak, dll.

Sudah sepantasnya perayaan kemerdekaan bukan hanya di tanggal 17 Agustus tetapi satu bulan penuh di bulan Agustus. Meriahkan dengan merah putih. Yuk, mulai dari diri sendiri kita kobarkan semangat merah putih.

Chia Seed White Bread

Sebentar, nafas dulu. Bikin roti saja pake drama.

Setelah googling resep roti yang oke, roti percobaan pertama sudah habis dimakan, masih penasaran dong bikin roti. Sekarang pake metode delay timer, bikin malam matang di pagi hari. Setelah bocils tidur, siapkan bahan, ikuti prosedur, colokin kabel BM ke stop kontak. Yuk, ditinggal tidur.

Kata siapa bisa tidur tenang, bolak-balik ngecek dong… Lah ndilalah BM mati! Waduh, stop kontaknya memang agak renggang sih. Pindahinlah ke stop kontak lain yang lebih stabil, taro di atas bangku eh kok gak stabil ya, ganti pake meja tamu. Setting ulang timernya. Bismillah…

Pagi harinya, saya cek roti sudah mengembang. Ditinggal mandi sebentar eh kok mamah mindahin meja tamu karena mau dipake, saya lihat BMnya mati dong 😭.

Haduh mau kesel tapi itu emak sendiri ntar kualat. Ah sudahlah, ntar saja dipikirin karena masih riweuh rutinitas pagi hari seperti siapin bekal dan bantu anak pakein baju seragam. Setelah beres urusan domestik, saya keluarkan roti dari bake pan, dari luar sih sudah oke crust light padahal saya mau crust medium. Cekrek-cekrek dulu buat dokumentasi. Dinginkan sebentar terus diiris pengen lihat dalamnya. Alhamdulillah rotinya lembut. Kata Ghita yang sudah nyicip, rotinya enak.

Untuk resep, ini nyontek dari resep Basic White Bread dari manual book Kenwood BM 250, air diganti susu cair UHT, gula ditambah 1 sdm, skimmed milk powder diskip karena sudah pakai susu cair, tambahin chia seed.

Jodoh Pasti Bertemu

Cerita-cerita ini ada yang sudah diposting di FB, mau posting lagi takut gumoh followerku di sana 😂

Cerita #1

Pada suatu hari, tepatnya tanggal 13 Juni 2018. Berangkat bareng suami naik motor trus dia lupa bawa hp. Gimana cara janjiannya nanti malam?

Susah kan ya, hari gini gak bawa hp. Menurut cerita suami terpaksa naik ojek pangkalan dari stasiun Palmerah ke kantornya dengan tarif di atas tarif ojek online.

Saya males telepon ke kantor suami karena gak direct line. Dulu pernah juga sih seperti ini akhirnya komunikasi via messenger FB.

Balik ke persoalan pertama, gimana cara janjian pulang bareng?

Pas lagi mikir gitu, gak lama kemudian suami telepon, tanya jam berapa pulang biar bisa estimasi waktu perjalanan sekalian menentukan tempat menunggu. Gak enaknya selama menunggu adalah gak bisa nanya “sudah di stasiun mana?” dan beneran harus duduk manis di tempat biar gak selisipan atau saling mencari. Singkat cerita, saya duluan yang sampai di parkiran motor kemudian disusul oleh suami. Ternyata bisa juga janjian tanpa hp.

Nah, kalau momen ini disambungin ke film kayak film apa ya? 😂

Cerita #2

Suami balik dari Jogja. Saya malah ke Jogja. Di hari yang sama.

Tadi pagi, antar bocils sekolah, titip motor ke parkiran dekat stasiun, nge-grab ke pool damri buat ke bandara. Trus sambil menunggu boarding, chattingan sama suami, katanya besok mau make motornya buat nganter bocils. Lah gimana? kuncinya kan saya bawa. Flightnya 208-209 pesawatnya sama (tadi sempat tanya pramugari, tapi nanti akan ganti crew).

Plan 1: titip kunci ke pramugari. Kan ganti crew? Oiya gak bisa dong.
Plan 2: ketemuan di bandara. Emang bisa? Alhamdulillah BISA. Untungnya keberangkatan dan kedatangan gak pake garbarata jadi bisa ketemuan di balik pintu ruang tunggu keberangkatan. Tentunya suami sudah minta izin ke petugas ya.

Duhhh… Berasa Rangga dan Cinta gak sih? 😂

Nanti kalau ada cerita lain disambung lagi ya~

Pembangunan Kebudayaan

Sebagai warga negara, apa yang anda inginkan dari pembangunan kebudayaan?

Googling dulu peran kebudayaan dalam pembangunan…

1. Nemu artikel di sini: http://presidenri.go.id/berita-aktual/peran-budaya-dalam-membangun-bangsa.html
Highlight di kalimat: Tanpa pembangunan kebudayaan, baik itu kesenian, sastra, tradisi lokal ataupun pemikiran budaya, sebuah bangsa akan kehilangan spirit dan ruh kehidupan masyarakatnya. Peran budaya dalam membangun bangsa sangat mendasar karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi sebuah tatanan kehidupan masyarakat.
Lanjut baca ini :Question on @Quora: Is there any relationship between culture and development? https://www.quora.com/Is-there-any-relationship-between-culture-and-development?share=4a413e84&srid=uKmb0

2. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/uu-no-5-tahun-2017-tentang-pemajuan-kebudayaan/

Dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia, pemerintah bersama dengan Komisi X DPR RI akhirnya mengeluarkan UU Pemajuan Kebudayaan RI.

UU Pemajuan Kebudayaan merupakan gagasan antarkementerian, yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penunjukan Kemendikbud sebagai koordinator atau pimpinan antar-kementerian tersebut berdasarkan surat Presiden RI nomor R.12/Pres/02/2016, tanggal 12 Februari 2016, perihal Penunjukan Wakil untuk Membahas RUU tentang Kebudayaan. Kementerian lain yang masuk dalam tim tersebut adalah Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Agama, dan Kementerian Hukum dan HAM.

Di UU Pemajuan Kebudayaan sudah dijelaskan hak dan kewajiban setiap orang dalam pemajuan kebudayaan, tugas dan wewenang pemerintah dalam pemajuan kebudayaan. Tinggal implementasinya nih 😂

3. Nemu lagi di quora sebagai sumbernya orang pinter di dunia 😂
Question on @Quora: What are explicit and implicit characteristics of a culture? https://www.quora.com/What-are-explicit-and-implicit-characteristics-of-a-culture?share=b1df19fd&srid=uKmb0

Beberapa orang Indonesia berharap negara kita semaju Jepang, Korea atau negara Eropa tapi bingung harus dimulai dari mana? Balik ke Indonesia ya begitu lagi 😂 tapi orang Indonesia kayaknya gak mau semaju Cina loh? Padahal Cina sudah mendominasi dunia 🤔.

Question on @Quora: How did Japan’s culture change from a country of beheaders in the world war period to super-nice, helpful, cultured people of today? https://www.quora.com/How-did-Japans-culture-change-from-a-country-of-beheaders-in-the-world-war-period-to-super-nice-helpful-cultured-people-of-today?share=dae23193&srid=uKmb0

Question on @Quora: Why are Indonesians so obsessed with Korean culture? https://www.quora.com/Why-are-Indonesians-so-obsessed-with-Korean-culture-1?share=eb0c6994&srid=uKmb0

Sudah ah capek, kalo menurutku sih tujuan pembangunan mau bidang apa saja ya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, menjadikan kehidupan masyarakat lebih baik.

23 Juli 2018

Dalam rangka keep the moment not the material seperti kata Kim Ji-woon di drama Korea Your House Helper maka saya akan bercerita apa saja kejadian hari ini:

1. Kesiangan nganterin mbak Ghita sekolah, mana upacara yekan… Untungnya ada pintu samping yang masih dibuka. Saking terburu-buru sampai lupa pake helm, yasudahlah balik ke rumah dulu buat ambil helm.

2. Antisipasi chaos di Stasiun Rawa Buntu akibat pergantian sistem maka saya sudah siapin uang pas buat beli tiket (thanks to WAG JS yang terdepan dan terpercaya untuk informasi terkini per-commuterline-an) eh ternyata antrian normal, petugas banyak dan sigap melayani. Tentunya tak lupa fotoin tiket kertas buat di-share ke IGstory (anaknya update banget ya sis…). Eh, selfie secimit juga sih karena kabarnya di WAG JS mau ada SoTD 😚. Beneran ya muka saya kalo pagi judes pisan padahal sudah senam muka aiueo loh.

3. Izin sebentar ke RSCM buat daftar konsul Hafsha. Aslik ini sebenarnya capek bolak-balik pindah gedung dan lantai demi prosedur pengobatan yang sistematis. Mampir juga ke Lab. Prodia buat cek biaya dan syarat untuk tes lab.

4. Pulang kerja nemenin Ayu COD di KoKas, lumayan ditraktir kopi sama roti 😂.

5. Om Kokok Dirgantoro masih cari pemenang kuis selfie dengan tiket kertas. Ih daripada mubazir selfie tadi pagi, setor sajalah meskipun saya malu 🙈. Alhamdulillah, menjadi salah satu pemenang kuis. Terima kasih ya om, semoga segera pulih dan sukses selalu (ini sok kenal banget sih).

Sekarang saya butuh air putih buat netralisir kopi.