Aceh Trip

Tanggal 16-18 Oktober 2017, saya ke Banda Aceh dalam rangka monev beasiswa jadilah kunjungan kerja ke Universitas. Gak usah diceritain soal kerjaannya, ada kok di artikel media online kampus πŸ˜€ Cerita selipannya saja bagaimana di sela-sela wawancara kerjaan bisa sambil jalan-jalan πŸ˜€

Oiya, berhubung Aceh menganut syariat Islam, saya agak was-was nih jangan-jangan nanti ribet. Nyatanya bayar hotel saja bisa gesek debit, gak ketemu tuh sama polisi syariat (padahal ngapain juga parno, kan gak melanggar apapun), ngeri masih ada sisa gerakan (padahal warkop dan mini market saja buka sampe malam, hampir 24 jam. Aman pokoknya), trus di kampus kan ada bertemu dengan mahasiswa asal Papua dan mereka bisa berbaur dan diterima lalu ada quote dari salah satu mahasiswa Papua begini, “awal saya di sini belum bisa menahan emosi. Orang Papua keras, orang Aceh juga”. Makanya jangan kebanyakan baca berita Jakarta nih. Suudzon saja sis!

Yang jangan sampai terlewat pastilah kuliner Aceh. Etapi jujur ya, selama di Jakarta dan Tangsel ini saya belum bisa sreg sama rasa mie Aceh, terlalu blenek berbumbu. Jadilah pas diajak makan di Mie Razali sempat terpikir, “ada menu lain gak ya?” eh ndilalah, enak banget! kuahnya pekat tapi bumbunya terkecap halus di lidah. Pantesan Pak Jokowi saja pernah makan di sini. Selain Mie Razali kami juga mencicipi nasi goreng Daus yang posisinya bersebelahan dengan Mie Razali, makan siang di warung makan Cut Mun (ayam tangkapnya enakkk). Oiya, kami juga sempat nongkrong di warkop Solong, obat kangen kopi Vietnam.

Selain kulineran kami pun mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman (masya Allah cantiknya) dan Museum Tsunami (merinding membayangkan peristiwa tsunami yang melanda Aceh, Al Fatehah).

Untuk oleh-oleh, saya beli tas bordir khas Aceh untuk mamah, peci untuk suami dan #1, tidak lupa beli kopi Aceh. Beli yang masih biji kopi biar lebih awet karena masih banyak stok kopi di rumah :D.

Advertisements

Balikpapan Trip

Selamat datang di Balikpapan *kucek-kucek mata* #sujudsyukur.

Alhamdulillah sepulang dari TCVtrip2017 dikasih kerjaan ke Balikpapan. At least, gak backpacker amat ya karena dibayarin kantor :D.

Kota Balikpapan adalah spesial di hatiku dan keluargaku karena kami pernah tinggal selama 3 tahun di sana (tahun 1988-1990), diingatanku sih masa indah tapi setelah dewasa saya baru tahu kalau kehidupan merantau kami susah. Karena acara dimulai malam dan keesokan harinya, maka tidak kusia-siakan kesempatan langka ini untuk bernostalgia masa kecil. Jujur sudah banyak yang lupa, maklumlah ingatan anak SD kelas 2-4 dan kota Balikpapan sudah banyak mengalami perkembangan.

Setiba di hotel, check-in lanjut cari makan siang di mall. Hotelnya satu blok dengan mall πŸ˜€ senang deh anak kota kalau hotel dan mall jadi satu. Balik ke rencana nostalgia, sayangnya saya lost contact dengan teman masa kecil (dulu kan gak ada sosmed ya) dan tidak ada sanak saudara di sini, ada teman SMA yang kerja di Balikpapan tapi karena akhi dan gangguin jam kerja ya gak enaklah mau minta tolong. Saya bingung kan tapi…

UNTUNGLAH ADA OJOL!

Jadilah saya pesan ojol dengan rute ke Balikpapan Permai dan di perjalanan saya utarakan maksud sesungguhnya yaitu minta diguide keliling kota Balikpapan. Alhamdulillah pak ojolnya mau. Terima kasih Pak Muji Burachman driver Gojek!

Foto sama dedek emesh πŸ˜‚

Bakery legenda kota Balikpapan

Ke mana saja rute nostalgia Balikpapannya? mampir ke SD-ku dulu (patokannya cuma SD dekat lapas :D), Pantai Kemala, Klandasan, Pantai Melawai, Pelabuhan Semayang, Jalan Minyak, Pasar Kebon Sayur (di sini berhenti sebentar beli gelang manik-manik dan tas anyaman), Rapak, Roti Bondi (mampir beli kastangel dan roti bantal, sebagian buat pakde dan bude Cinere yang telah bersama kami selama merantau di Balikpapan) dan masih belum kesampaian mampir ke rumah kontrakan kami dulu, entah yang mana gangnya. Gak cukup deh, cuma 2 hari di Balikpapan.

Sepulang dari Balikpapan, saya dijemput suami sengaja mampir ke rumah pakde dan bude Cinere untuk mengantarkan oleh-oleh juga menceritakan kota Balikpapan. Pakde dan budeku pun punya rencana ke Balikpapan, see? bagi kami kota Balikpapan adalah kota penuh kenangan. Senangnya bisa berbagi sedikit nostalgia kebahagiaan dengan mereka.

 

TCVtrip2017 part 5 – Ho Chi Min City

Dua hari kami di Cambodia rasanya campur aduk, ada sedih melihat kondisi Siem Reap tapi terpuaskan di Angkor Wat, ya capek ya senang.

Sepulang dari Angkor Wat kami gegoleran tak berdaya di hostel dan sebelum meninggalkan Cambodia, tak lengkaplah tanpa wiskul. Kebetulan tadi kami sempatkan mencari masjid di Siem Reap yang beda 1 blok dari hostel dan menemukan beberapa rumah makan halal. Jadi check-out dari hostel kami berjalan kaki menuju masjid untuk sholat dilanjutkan makan malam di rumah makan belakang masjid yang sedang dipenuhi oleh turis Malaysia. Saya sih pesannya tomyam untuk menghangatkan badan sekalian biar gak masuk angin karena selama di Angkor Wat habis badan ini terkena panas dan hujan. Nunu yang pesan makanan khas Cambodia yaitu amok dan loklak. Di rumah makan ini kami bertemu dan mengobrol dengan wong kito yang merantau di Bangkok dan sering bolak-balik ke Siem Reap untuk bisnis, entah bisnis apa lha wong mbayarin kita makan juga enggak, cis! :D. Yasudahlah ya…

Dari Siem Reap menuju last destination alias Ho Chi Min City kami menggunakan transportasi sleeper bus. Pas banget buat relaksasi karena badan masih pegel-pegel keliling Angkor Wat trus bisa istirahat tidur selonjoran di dalam bus, tapi saya kehilangan kacamata di dalam bis. Sleeper bus hanya sampai di Phnom Penh selanjutnya kami naik bis biasa ke Ho Chi Min City. Oiya perbatasan Cambodia dan Vietnam lebih bersahabat, kami pun sempat istirahat makan siang di restoran di No Man Land (iya, tanah tak bertuan) dan juga menukarkan USD ke VND (ratenya lebih bagus daripada di HCMC).

Tiba di HCMC itu pas mendung dan suasananya seperti kota kecil di Jawa. Feels home… apalagi ada Miniso di sini (yee dikira kedutaan apa). Di HCMC ini banyak motor seliweran sesuka hati tapi gak ada yang maki-maki trus banyak coffee shop lokal dan kopinya the best! me likey.

Hostel kami letaknya di District 1, daerah turis kemana-mana dekat tinggal jalan kaki. Selama di HCMC kami kesulitan mencari makanan halal, baru ngeh pas hari terakhir bahwa makanan halal banyak di sekitar Ben Thanh Market ada jalan yang didominasi ruko orang Malaysia. Akhirnya kami bisa makan pho halal di rumah makan Hajah Basiroh.

Selama di HCMC kami kemana saja?

  1. Ben Thanh Market. Pasar tradisional wajib kunjung para turis, jualannya beragam mulai dari suvenir, pecah belah, kopi, dll. Yang lain belanja magnet, saya belanja kaos, kopi dan tea set. Tea set terinspirasi oleh instagram @rnirwana saat kunjungannya ke Vietnam. Mungkin ini yang dinamakan berjiwa emak-emak :D.
  2. Ngopi-ngopi di Phuc Long Coffee & Tea Express, Highlands Coffee. Dua coffee shop ini merajai sudut kota HCMC, bertebaran… kalah deh Starbucks. Kopinya terhitung murah dan enak, pantesan ya rame banget anak muda pada nongkrong.
  3. Makan malam di Sense Market. Kebetulan sedang ada acara persahabatan negara-negara ASEAN, beragam food stall dari negara ASEAN sayangnya dari Indonesia gak ada. Makan pun nasi lemak dan kuetiaw saja, oiya sama octopus grill.
  4. Snack shopping di Circle-K dan Family Mart. Saya ini hobi banget ke minimarket atau pasar tradisional kalau pergi kemana-mana, ya buat lihat apa saja sih yang dikonsumsi oleh orang lokal trus dinamika kehidupan dan perniagaan tercermin disitu.
  5. Cu Chi Tunnel. Terowongan Cu Chi ini adalah terowongan tentara Vietkong tempat mereka berlindung dan menyusun strategi gerilya melawan tentara AS. Canggih loh mereka bikin tentara AS kocar-kacir.
IMG_20170924_194050_001.jpg
tentara Vietkong kebanyakan perempuan loh. Girl power!
IMG_20170924_194050_012.jpg
tuh kan! nyangkut di dalam lubang terowongan.

IMG_20170924_194050_015.jpg
tentara guide kami yang ganteng πŸ˜€

Cu Chi Tunnel ini terletak di pinggir kota HCMC. Kami ke sana menggunakan bis umum, tidak ikut rombongan tour karena biar irit dan punya pengalaman sendiri :D. Gampang kok! Saya ikut petunjuk dari blog ini. Dua kali berganti bis, berbaur dengan orang lokal, ongkosnya murah pun. Oiya, bis yang kami tumpangi sudah tua tapi ber-AC. Perjalanan ke Cu Chi Tunnel pun sudah terasa ke negeri antah berantah, seperti perjalanan di luar pulau Jawa, begitu sederhana, santai, dan bahagia.

Padahal tempat yang kami kunjungi ini bukanlah tempat bersenang-senang. Bagaimana bisa senang kalau kehidupan yang damai tiba-tiba direnggut dengan dibombardirnya wilayah mereka oleh tentara AS dan mereka terpaksa menjalani kehidupan di dalam terowongan? Sebelum kami mencoba sendiri lubang terowongan kami disuguhi film dokumenter perjuangan tentara Vietkong, asli mbrebes mili akan perjuangan mereka.

Apa tadi mencoba sendiri lubang terowongan? iyes, gak afdol jauh-jauh ke sini kalau gak coba masuk ke dalam terowongan (tapi jangan buat yang menderita asma, penyakit jantung dan claustrophobia). Mana badan saya gemuk dan merasa gak bisa masuk eh sama tentara guide tetap disuruh masuk juga dan muat sih πŸ˜€ Kami ditunjukkan beberapa terowongan, ada yang tempat istirahat, tempat pertemuan, macam-macam jebakan yang mereka buat, terakhir kami disuguhi singkong rebus dicocol gula-garam dan kacang tanah bubuk miriplah seperti bubuk pecel cuma gak dicairini saja. Nikmat banget makan singkongnya, mungkin karena lelah ya ndhodhok dalam terowongan.


Karena keterbatasan waktu masih banyak objek wisata di HCMC yang belum sempat kami kunjungi. Next time pengen balik lagi ke HCMC dan kota lain di Vietnam.

Di bandara Tan Son Nhat, HCMC, kami diwajibkan untuk melepaskan alas kaki saat melewati security checking. Perjalanan pulang saya sendirian karena Nunu dan Linda menggunakan flight berikutnya. Sempat transit sebentar di KL (cuma sekitar satu jam) sebelum lanjut ke Jakarta. Pulangnya saya naik Malindo Air, dapat makan (pizza) dan pesawatnya lebih bagus daripada Scoot. Akhir kata, terima kasih Nunu dan Linda sudah nemenin saya jalan-jalan perdana ke luar negeri :*

TCVtrip2017 part 4 – Angkor Wat

Ini postingan tentang Siem Reap bagian kedua khususon bahas Angkor Wat. Kayak inception deh di dalam postingan TCVtrip ada tentang Siem Reap, di postingan Siem Reap ada Angkor Wat! πŸ˜€

Gong atau klimaks trip backpackeran ini memang sepertinya di Angkor Wat, segala kemudahan dan kesulitan ngumpul di perjalanan ke Angkor Wat. Duh, gimana nanti kalau umroh atau haji ya?

Dari hostel kami berangkat menuju Angkor Wat mengendarai tuk-tuk dan surprise gedung tempat pembelian tiket masuknya bagus banget, kontras dengan kondisi sekeliling. Tiket masuk ke Angkor Wat ini mahal banget, USD 37 tapi dengan prinsip daripada nyesel sudah jauh-jauh ya sudah kurelakan. Mungkin begini rasanya jadi turis asing yang digetok tiket masuk mahal. Yang bikin keren tiketnya ada pasfoto kami, ini kali ya yang bikin mahal :D.

Angkor Wat tour ini tanpa persiapan baca sejarahnya, nyesel sih. Jadi cuma dapat sedikit info sejarah dari supir tuk-tuk kami. Menurut informasi dari Roy, supir tuk-tuk kami (next disebut Roy saja ya…). Oiya, Angkor Wat ini kompleks candi yang cukup besar kalau mau dibandingkan ibaratnya tur dari Candi Borobudur – Candi Prambanan – Candi Ratu Boko dan candi-candi kecil lain di sekitar Prambangan (saya belum pernah ke Candi Ratu Boko sih :D) tapi kompleks candi di Angkor Wat ini memang terkoneksi dalam satu lingkungan dan jauh dari rumah penduduk which is ini jadi nilai lebih Angkor Wat dibandingkan dengan Borobudur karena sekali dayung dua tiga candi terlampaui dan suasananya memang dijaga seasli mungkin, kalau Borobudur kan sudah komersil dekat dengan permukiman penduduk dan area niaga, kalau Angkor Wat feels into the jungle.

Karena Angkor Wat sedang ramai dikunjungi jadi untuk pembukaan tour kami berlawanan arah mengunjungi candi yang lainnya.

Srah Srang. Danau buatan manusia, digunakan untuk reservoir dan juga pemandian Raja. Menenangkan deh memandangi air dengan pemandangan kehijauan dan batuan candi. But wait, baru datang sudah disuguhi pemandangan begini? Kurang menantang ya! mana Nunu dan Linda sudah terpikat belanja di kios suvenir :D.

Banteay Kdei. Candi ini merupakan kuil Buddha. Jadi kerajaan Khmer ini awalnya di bawah kepemimpinan agama Hindu kemudian berganti dikuasai oleh kepemimpinan Buddha, makanya di dalam kompleks Angkor Wat ini diisi dengan candi Hindu dan juga candi Buddha. Menurut sejarah, candi ini persembahan raja Jayavarman II kepada gurunya.

Ta Prohm. Di sini akan menemukan kehebatan akar pohon yang melilit mencengkeram bangunan candi. Instagramable tapi ya gitu ramai penuh oleh pengunjung. Gak bisa deh, foto ala Tomb Raider.

Sebelum menuju ke candi berikutnya, kami sudah di masa kelaparan mendera, oleh Roy kami diantarkan ke rumah makan di pinggir jalan tetapi karena ada menu pork kami batal makan disitu. Selama trip ini saya bawa CTM alias Cranberry Trail Mix jualannya @irrasistible sampai ledes bibirku makan kacang-kacangan ini πŸ˜€ tapi ya teteplah gak kenyang. Akhirnya kami menemukan penjual jagung walaupun aneh tidak seperti jagung di tanah air tapi karena lapar dan kayaknya cuma itu yang halal yasudahlah sikat saja. Beneran ternyata jagungnya beda, teksturnya lebih pulen lengket dikunyah di mulut. Sambil makan, istirahat di tepi danau sebelum masuk ke Baphuon.

Baphuon. Menurut saya ini candi tercantik di kompleks Angkor Wat ini. Sebelum memasuki candi ada kolam kecil kemudian ada jembatan menuju candi. Harusnya yang foto pre-wed bikinnya di sini. Oiya setelah ujian lapar ternyata di sini titik awal harus manjat-manjat ke atas candi.

Angkor Thom & Bayon. Bayon ini the second famous temple. Apa keistimewaannya? kabarnya ini adalah masterpiece Raja Jayavarman VII. Menurut lonelyplanet.com: “It epitomises the creative genius and inflated ego of Cambodia’s most celebrated king. Its 54 Gothic towers are decorated with 216 gargantuan smiling faces of Avalokiteshvara, and it is adorned with 1.2km of extraordinary bas-reliefs incorporating more than 11,000 figures.”

Iya sih, di sini akan melihat patung raksasa wajah Avalokiteshvara di mana-mana. Kami muterin Bayon karena mencari-cari di mana tuk-tuk parkir, mana hujan lokal, basah trus kering dan udara di sana lembab sekali. Capek luar biasa. Eits, ini belum berakhir karena kami belum sampai di Angkor Wat.

Karena kelelahan sangat, sebelum masuk ke Angkor Wat kami istirahat sejenak di parkiran sambil jajan mie goreng yang kata penjualnya halal. Lain kali ke Angkor Wat kudu bawa rantang dan termos nasi nih :D.

Angkor Wat. Sebelum masuk ke Angkor terlebih dahulu kita berjalan di jembatan apung yang bergoyang. Angkor Wat ini seperti kastil yang dikelilingi parit tapi paritnya besar seukuran sungai. Namanya juga atraksi utama jadilah di sini ramai sekali pengunjung padahal kami tiba sudah sore. Dan memanglah, magnificent! (sudah kehabisan kata-kata :D)

Sedikit berbagi tips mengunjungi Angkor Wat:

  1. Baca-baca dulu sejarah Angkor Wat biar gak merasa cuma lihat batu berserakan πŸ˜€
  2. Sewa tuk-tuk seharian.
  3. Bawa topi, payung, jas hujan.
  4. Bawa cemilan, bekal makan mengingat susah cari makanan halal. Oiya jangan lupa bawa air minum karena bakal dehidrasi kecapekan naik turun candi, keliling candi.
  5. Jangan bawa tas yang ribet biar badan leluasa dan gak keberatan bawa beban.
  6. Better ke Angkor Wat beli yang 3 days pass, biar puas dan gak kecapekan. Apalagi kalau kalian peminat candi, benda purbakala, arsitektur candi, dll.

TCVtrip2017 part 3 – Siem Reap

21 September 2017, setelah cuci muka (saya gak mandi lagi karena malamnya sudah mandi :D) dan sarapan kami berangkat dari hostel menuju Bangkok Bus Terminal (Chatuchak) untuk melanjutkan TCVtrip2017. BTW, sudah bisa nebak belum TCV singkatan apa? πŸ˜€

Untuk menghemat waktu, kami order uber ke terminal dan datanglah mobil Isuzu D-Max. Keren amat uber kami πŸ˜€ Ternyata setelah diperhatikan di Bangkok hingga pinggiran kota banyak sekali mobil sejenis pick up ini dengan beragam merek. Malah saya gak nemu Xenia Avanza :D. Sesampai di terminal kami menuju loket bis untuk check-in (Nunu sudah pesan by onlineΒ di 12go.asia sebelumnya). Sambil menunggu waktu mampir dulu ke mini market dalam terminal. Suasana terminal sih tergolong sepi, terminal lama tapi terawat dengan baik. Buat yang jomblo mungkin dipikirkan untuk mencari jodoh orang Thailand, semua fasilitas umum saja terawat masa iya hubungan cinta gak terawat #krik. Oiya, pas teng jam 8 pagi kami yang sedang duduk kaget oleh suara lagu kebangsaan dan otomatis semua orang beranjak dari bangku tunggu untuk berdiri sikap hormat, kami pun ikutan berdiri. Salut deh akan nasionalisme mereka!

Penumpang bis yang kami naiki mayoritas memang backpacker lintas negara jarang warga lokalnya. Perjalanan kami ini cukup lama sekitar 9 jam perjalanan, mirip deh pulang kampung ke Purwokerto via jalur Pantura πŸ˜€ karena masih ngantuk jadi kebanyakan dalam perjalanan ya dibawa tidur, sesekali berhenti untuk melihat pemandangan. FYI, operator bis yang kami naiki adalah Transport Co Intl. Pelayanannya bagus, kami dapat istirahat di pemberhentian sebanyak 2 kali, dapat makan siang, dibagikan Customs Declaration form, dikasitau petunjuk saat memasuki perbatasan. Profesyenel pokoknya!

Perbatasan Thailand dan Cambodia ini bagaikan langit dan bumi menurutku, begitu masuk teritori Cambodia ini agak lost sempat ada bule salah jalur dan kasih permen ke anak pengemis yang kemudian diikuti oleh teman pengemis lainnya. Terasa banget perbedaannya karena banyak anak jalanan, pengemis, dan suasananya agak tegang entahlah apa karena pas tengah hari panas kami dikumpulkan di satu ruangan berkipas angin, memandang keluar rasanya sungguh gersang padahal sebrang imigrasi adalah hotel Casino megah tapi jalannya masih jelek aspal bercampur debu tanah coklat, warga hilir mudik lewat menggunakan sepeda motor jadul dan takjublah saya melihat mobil Lexus, Camry wara-wiri. Kontras.

Sampai di Siem Riep kami diturunkan bukan di terminal tapi hanya semacam teras rumah warga. We (feel) got lost menginjakkan kaki di antah berantah mana suasananya mendung rintik, gloomy. Untungnya ada Roy, supir tuk-tuk kami yang sudah menunggu untuk mengantarkan kami ke hostel. Roy dengan ramah menyambut kami. Ternyata jauh-jauh kami ke Siem Reap eh ketemu banjir depan hostel, agak ngeri juga tuk-tuknya oleng atau mogok. Nasib… jadi kangen Pak Ahok kan… tapi masuk kamar hostel kami langsung selonjoran. Nikmat sekali…

Agenda kami hari ini setelah dihabiskan untuk perjalanan darat hanya mengunjungi night market di Siem Reap. Ternyata night marketnya rame bener kalah deh pasar kaget komplek πŸ˜€ banyak bule kongkow di pub, semakin malam muncul cabe-cabean lokal, banyak warga lokal lainnya, banyak turis asia juga, banyak pedagang souvenir dan tentunya penjual jus buah kayak jamur di musim hujan. Saya cuma beli gantungan kunci buat syarat kalo ditagih oleh-oleh dan nyobain mix fruit juice. Nunu beli coconut juice setelah dicicip mirip santan plus parutan kelapa :D. Di Siem Reap menggunakan mata uang USD (tekor deh kita karena minimal harga barang 1 USD) dan Riel. Tenang saja di Siem Reap ada Miniso tapi ya bayarnya USD dikembaliinnya campur Riel :D.

Sepulang dari night market kami kembali ke hostel untuk istirahat. Bulan September ini low season, jadi hostel pun sepi dalam satu kamar hanya kami bertiga. Cerita tentang Siem Reap dibagi 2 saja ya biar gak kepanjangan.

 

 

 

TCVtrip2017 part 2 – Bangkok

Lanjutan postingan disini. Postingan part 2 didedikasikan untuk Bangkok :D.

Dari Terminal 1 Don Muang kami naik bis menuju hostel yang terletak di Rachathewi. Naik bis A1 ke Catuchak Park/dekat BTS Mo Chit ongkosnya 30 THB per orang. Bis di Bangkok ini jadul ya ala-ala bis Jepang di Jakarta tapi biarpun jadul tetap terawat kebersihannya. Dari BTS Mo Chit lanjut ke BTS Rachathewi N1 (Sukhumvit line) ongkosnya 37 THB. Baru tau, BTS itu skytrainnya Bangkok, jangan disamakan dengan commuterline jabodetabek ya karena beda tarif, beda line πŸ˜€ ya pastinya lebih nyaman tapi insya Allah kita juga bisa maju seperti Bangkok (berdoa semoga proyek pembangunan MRT dan LRT cepat rampung).

*insert caption quote* padahal gak ngerti gimana bacanya πŸ˜‚

Hostelnya cuma jalan kaki sedikit dari BTS, ya kami ke hostel buat nitip carrier dan pinjam toiletnya buat bebersih dan ganti baju. Sebelum berkeliling mengeksplorasi kota Bangkok kami juga sempatkan sarapan di warung halal dekat BTS Rachathewi.

Karena kami cuma sehari di Bangkok jadi destinasi wisatanya terbatas sekali, gapapa ya namanya pengenalan dulu :D. Tujuan awal kami ke Wat Arun. Naik BTS sambung taksi kapal. How to get there? untuk ke dermaga taksi kapal naik BTS tujuan BTS Saphan Taksin lanjut keluar jalan kaki sedikit ke Sathorn Central Pier, naik Express Boat River Taxis yang Orange Flag Line (yang murce) turun di pier 8. Di Wat Arun kami kehujanan dan sempat berteduh di gazebo yang sedang dicat oleh tukang. Oiya, kami juga bertemu 3 nenek dari Afsel yang sedang travelling. Seru deh bercengkerama dengan traveller lain.

Setelah Wat Arun, kami menuju Grand Palace naik taksi kapal lagi, sayangnya pas kami tiba di Grand Palace banyak orang berpakaian hitam sepertinya ada upacara kematian jadilah kami jalan-jalan menyusuri jalan sekitar dan mampir ke The Maharaj, ini tempat local brand kumpul gitu deh. Foto-foto setitik dan terpenting cari wifi gratisan, dasar turis kismin :D.

Destinasi berikutnya adalah The Asiatique. Sampai sini sudah sore, kelaparan tentunya. Kami butuh ishoma! alhamdulillah ada masjid seberang asiatique dan kuliner sekitar masjid insya Allah halal. Di asiatique cuma belanja sedikit di Miniso dan Tae Kae Noi store.

Keliling cuma Wat Arun-Grand Palace-The Asiatique saja bikin jebol langkah kakiku di angka 12ribuan. Wohooo! Seru juga boat taxi hoping dari satu dermaga ke dermaga lain, untung nenekku seorang pelaut ya gak mabuk sungai :D. Semoga kalau ibu kota jadi pindah ke Palangkaraya, sungai Kahayan dibikin cantik seperti sungai Praya.

Sebelum tidur, mandi air hangat lanjut packing untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. It will gonna be long road trip! Lintas negara bok.

TCVtrip2017 part 1

Carrier modal minjem πŸ˜‚


Pecah telooorrr… First time travelling abroad. Yeay!

Preambule dulu deh, sebenarnya pasca travelling malah sakit kecapekan dan belum ada mood buat ngeblog mana kudu nguber ketinggalan ngerjain pe-er kuliah selama 2 minggu. Setelin video youtube Mario Teguh deh buat motivasi nulis :D.

Di postingan part 1 ini akan bercerita bagaimana awalnya bisa travelling abroad padahal bikin paspor saja males? Eh sedikit cerita paspor ada disini. Jadi saya kan berteman dengan NunuΒ sejak jaman nebengers, dia ini solo traveller gitu, sudah profesyenel deh urusan jalan-jalan πŸ˜€ bikin open trip ke 3 negara dan biayanya murce. Duh, saya sebagai emak-emak ogah rugi kepincut dong… sekali bayar bisa 3 negara terlampaui. Setelah mendapat izin dari suami, akhirnya saya ikutan dong rencana open tripnya dan waktu itu masih sekitar 2 bulan sebelum hari H sehingga saya sempatkan bikin paspor dan nyicil belanja keperluan travelling. Deg-degan euy secara baru pertama kali. Norak to the max! hehehe…

Oiya, karena perjalanan 3 negara ini berbudget rendah maka travelling ala backpacker-lah pilihannya. Chatting di WA dan ketemuan dulu di Wendy’s buat bahas how to do secara disini newbie kan… kayak bingung pake ransel kayak gimana? segede apa? apa saja yang dibawa? Urusan ransel berbekal tanya ke teman grup WA akhirnya dapat pinjaman carrier dari Venny (aakkk… belum sempat ngelondri carriernya). Daripada beli atau susah cari tempat sewa carrier kan? Ternyata saya kebanyakan bawa baju! pertimbangannya daripada saya kesulitan membeli baju di negara orang (budget belanja bertambah pastinya) lebih baik bawa spare.

19 September 2017, CGK-SG naik Tigerair (sekarang Scoot). Pesawat malam, berangkat ke bandara dari kantor ngegrab bareng Nunu dan Linda. Ternyata pesawatnya delay, untung sempat jajan Bakmi GM untuk makan malam karena cuma dapat Aqua botol sebagai kompensasi keterlambatan. Tengah malam sampai di Terminal 2 Changi trus bergantian nyobain Osim pemijat kaki (hahaha baru berangkat saja sudah minta pijet) dan kemudian mencari tempat duduk buat selonjor tiduran menanti flight berikutnya ke Bangkok. Jadi buat yang nginep di Terminal 2 Changi bisa melipir ke Oasis Lounge (dekat gate E11) buat bobo cantik ya… Paginya sempatkan dulu jajan roti panggang buat ganjel perut. Sempat perhatiin pekerjanya sudah manula dan pagi buta sudah on. Hebat ya!

20 September 2017, SG-BKK naik Scoot lagi tapi pesawatnya airbus gede 3 row dan dingin banget untung sedia jaket. Norak lagi karena biasa naik boeing kan ya :D. Mendarat kami di Terminal 1 Don Muang. Sebelumnya nuker receh dulu buat ongkos naik bis ke hostel.

Part 1 sampai sini dulu deh. Part 2 akan bercerita tentang aktivitas seharian di Bangkok. Don’t miss it!