Ketinggalan Barang di Commuterline

Lupa cerita kalau saya pernah tidak sengaja meninggalkan barang di commuterline dalam perjalanan berangkat kerja.

Disini saya ceritakan langkah-langkah menemukan kembali barang tersebut ya… Memang bisa? Insyaallah selama ada orang baik maka barang ketinggalan akan ditemukan kembali.

Barang yang ketinggalan sih cuma buku di kantong kresek, yah bagi orang lain gak berharga tapi bagi saya berharga karena buku kuliah, lumayan kan kalo harus beli lagi. Buku dalam kantong kresek tersebut saya taruh di rak atas kereta dan pas turun berganti kereta saya melenggang kangkung lupa babarblas #tepokjidat. Inget-inget sesampai di kantor karena saya mau mengerjakan tugas kuliah di waktu senggang :D. Saya tanya-tanya dong dengan teman komunitas dan sempat bertanya di akun twitter commuterline.

Saat pulang kerja, di stasiun Tanah Abang langsung saya menuju bagian informasi dan memberitahukan ketinggalan barang, saya diminta mengisi formulir sembari menunggu konfirmasi dari petugas commuterline untuk memastikan ada barang milik saya yang tertinggal tersebut. Jadi setiap selesai perjalanan PKD akan menelusuri gerbong kereta dan memeriksa kondisi kereta termasuk apakah ada barang yang tertinggal dan akan mereka simpan. Untuk jalur hijau (Tanah Abang – Serpong/Rangkas) disimpan di stasiun Serpong. Lalu saya diinformasikan untuk mengambil barang tertinggal di stasiun Serpong, untunglah dekat dengan stasiun yang biasa saya naik/turun.

Sesampainya di stasiun Serpong saya menuju kantor petugas kereta dan memberitahukan perihal barang tertinggal sambil menyodorkan formulir. Alhamdulillah buku kuliah saya berhasil ditemukan. Saya diminta foto bareng saat serah terima barang sebagai bukti, sayang saya gak minta fotonya 😀

Tapi sekadar mengingatkan memang sebaiknya menjaga barang berharga seperti laptop hindari deh taruh di rak atas atau disamping tempat duduk karena dari berbagai cerita sering didapati kehilangan laptop. Sebaiknya disimpan di tas ransel dan diposisi depan bukan punggung.

Advertisements

Cara Mengurus Perubahan Data Paspor

Sebagai pembuka postingan saya mau cerita pengalaman bikin paspor via aplikasi android Antrian Paspor. Langkah pembuatan paspor via aplikasi antara lain:

1. Install aplikasi Antrian Paspor di handphone android dan daftarkan diri anda di aplikasi tersebut (cukup isi username, password, NIK, nomer telepon, email dan alamat).

2. Login dan pilih kantor imigrasi pembuatan paspor. Untuk sementara baru di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, ULP Wilayah 1 dan ULP wilayah 2. Saya memilih ULP Wilayah 1 karena cukup dekat dari rumah (padahal setelah berangkat ke sana teemasuk jalur macet 😌). *Update informasi: sekarang ada 26 kantor imigrasi termasuk Jaktim, Jakut, Jakbar, Bandara Soetta, Depok, Bandung, Surabaya, Makassar, dll.

3. Isi data permohonan antrian paspor. Pilih tanggal dan waktu serta jumlah pemohon (nanti akan terlihat kuota tersedia).

4. Di tab jadwal akan terlihat jadwal pembuatan paspor sesuai pilihan dan qr code untuk dipindai oleh petugas imigrasi.

5. Persiapkan fotokopi dokumen (KTP, Kartu Keluarga, Akta Lahir, Buku Nikah, Ijazah) sebelum datang ke kantor imigrasi.

6. Di kantor imigrasi, tunjukkan qr code ke petugas untuk mendapatkan nomer antrian dan isi formulir yang ada. Setelah dipanggil antriannya kita akan ditanyai oleh petugas untuk konfirmasi data dan pengambilan foto dan sidik jari.

7. Untuk pembayaran biaya pembuatan paspor melalui transfer/setor ke kas negara. Bukti pembayaran jangan sampai hilang ya.

8. Waktu pembuatan paspor sekitar 3 hari kerja dan paapor dapat diambil siang/sore hari. Kembali ambil nomer antrian tapi cuma sebentar kok. Selesai deh.

Terus kenapa saya mau cerita tentang perubahan data paspor? Ternyata nama saya antara akte lahir dan dokumen berikutnya berbeda, di akte hanya 2 kata di dokumen lain 3 kata. Jadi kurang spasi saja tapi bikin pusing karena saya sudah terlanjur beli tiket menggunakan nama 3 kata. Kalau ganti bakal kena charge lumayan. Trus aku kudu piye?

Pertama, saya browsing informasi mengenai prosedur ganti nama di paspor dan menemukan berbagai hasil seperti prosedur yang lama dan ribet. Tambah ketar-ketir dong meskipun rencana perjalanan masih lama tapi kan bikin khawatir. FYI, saya belum sempat ambil paspor karena kebetulan saya DLK. Sebagai antisipasi saya sudah bikin draft surat pengajuan proses perubahan data paspor dilengkapi dengan dokumen pendukung.

Pas hari H ambil paspor, sekalianlah saya bawa dokumen pendukung tersebut. Syukur-syukur bisa langsung diproses kan? Meluncur dari kantor ke ULP Wilayah 1 menggunakan ojol, antri sebentar untuk ambil paspor dan sempatkan bertanya tapi jawaban petugas kurang memuaskan dan saya diminta mengurus perubahan data paspor ini di Kantor Imigrasi Jaksel di Mampang Prapatan. Karena dirasa waktu masih cukup waktu buka layanan lanjutlah saya meluncur dari Pondok Pinang ke Mampang Prapatan.

Di Kantor Imigrasi ini saya diarahkan ke loket informasi di lantai 2 lalu saya diminta isi formulir bermaterai 6000 yang tersedia di tempat fotokopi, dokumen dan paspor saya serahkan dan tanpa menunggu lama, selesai prosesnya. Trus apa yang berubah? Jadi di halaman ke-4 (halaman Catatan Pengesahan) disebutkan bahwa pemegang paspor ini bernama bla bla bla. Sudah itu saja tanpa cap Kantor Imigrasi, pas saya mintakan ibu petugas bilang tidak perlu. Ini rasanya campur aduk deh, karena dari baca informasi yang ada bisa memakan waktu 2 minggu lah ini cuma beberapa menit saja dan gratis. Alhamdulillah…

Tinggal menunggu waktu paspor saya dipakai nih, semoga tidak bermasalah di pihak imigrasi negara yang saya kunjungi. Wish me luck!

ArtJakarta 2017

Demi membuka wawasan bocils tentang kesenian khususnya seni lukis maka kami sekeluarga pergi ke Pacific Place tepatnya di lobby The Ritz Carlton Hotel. Agak jiper juga secara ini mall high class, maklumlah kami ndeso 😀 tapi karena acara ini diliput di televisi dan sosial media dan tentunya gratis ya sudahlah dicoba. Kan seni tidak mengenal kelas sosial?

Ternyata pengunjung acara ArtJakarta 2017 cukup banyak sehingga menjadi kurang nyaman untuk benar-benar menikmati karya seni yang ada etapi kalau kami sih karena bawa bocils yang harus selalu diingatkan untuk tidak menyentuh/memegang karya seni tersebut jadilah kami hoping dari satu booth ke booth lain. Sempat minta foto bareng Disast eh dia lagi rempong mau pulang :D.

Secara keseluruhan, ini pengalaman baru bagi keluarga kami dan semoga kami bisa datang ke berbagai pameran seni lainnya. Melihat begitu banyak lukisan dengan gaya berbeda-beda sungguh menyenangkan walaupun kami gak ngerti seni sekalipun (jangan lihat price tagnya tapi…) dan berangan-angan pengen punya salah satu karya seni di rumah (bukan free print out dari pinterest ya :D)

 

Surabaya Trip


Finally ke Surabaya juga… lengkap sudah perjalanan ke ibu kota provinsi di Pulau Jawa :D.

Lagi-lagi sebagai pemain cadangan, masih kecapekan dari Kendari tapi kuharus mengurus administrasi DLK Surabaya ini. Untungnya saya cekatan #tsahlagi #pengenmuntahgaksih etapi ada salah ketik dokumen terpaksalah keluar uang untuk ngeprint di business center hotel :(.

DLK kali ini tentang kegiatan pemantauan budaya gemar membaca dan juga memantau kegiatan pelatihan yang diadakan oleh Perpuseru kepada para pengelola Perpustakaan Daerah. Perpuseru bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai learning center dan pusat kegiatan masyarakat bukan cuma baca/pinjam buku tetapi tentang menerapkan ilmu yang diperoleh dari bahan pustaka karena itulah tujuan kita membaca agar pintar dan berbagi ilmu dengan sesama. Semoga program Perpuseru ini dapat diadopsi dengan baik oleh Pemerintah ya…

Hari kedua, kami berkesempatan mengunjungi Perpusda Jombang. Perjalanan Surabaya-Jombang lumayan jauh ya sekitar 2-3 jam dan kami kembali di hari yang sama loh. Lumayan melelahkan tetapi kami senang bisa bertemu dengan pengelola perpustakaan dan warga masyarakat yang antusias dengan pengelolaan Perpusda karena banyaknya kegiatan workshop dan gratis. Baru tau juga kalau kami melewati cagar budaya Trowulan! situs peninggalan kerajaan Majapahit. Next harus ke sana ya.

Hari ketiga di saat yang lain morning flight, saya dan teman sengaja flight belakangan agar sempat jalan-jalan di kota Surabaya. Terus terang saya penasaran banget melihat kota Surabaya yang telah dirawat oleh Ibu Risma dan saya kagum sekali akan kebersihan dan keindahannya. Salut bu!

Jadi, half-day trip kami antara lain jalan kaki dari hotel di Jalan Dharmo menuju Taman Bungkul dan makam mbah Bungkul, Perpustakaan BI mampir icip-icip es grim di Heerlijk Cafe, lanjut ngegrab ke House of Sampoerna. Sebentar tapi lumayan puas :D.

DLK ke Surabaya ini lagi-lagi saya ber-seafood galore (apa kabar kolesterol?) dan gak sempat icip kuliner khas Surabaya, cuma sempat go food bebek Sinjay dan itu pun makan di bandara. Kata abang go food yang rame itu bebek Palupi dekat Tugu Pahlawan.

FYI, di Surabaya lagi-lagi saya dibikin kepengen dengan piring hias karena interior restoran hotel bertebaran piring hias. Duh pengennn…

Kendari Trip

Ihiy… Kota ke-3 di Pulau Sulawesi yang kusinggahi.

Sebagai pemain cadangan di kantor, baru diinfokan DLK ke Kendari ini last minute. Yowis gapapa juga karena saya cekatan #tsah jadi beres juga persiapan semuanya (padahal tinggal ngelanjutin).

DLK ke Kendari ini dalam rangka kegiatan evaluasi pelaksanaan beasiswa afirmasi di perguruan tinggi. Untuk itu kami berkunjung ke Universitas Haluoleo dan IAIN Kendari untuk bertemu dengan Wakil Rektor Kemahasiswaan dan para mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, ADik OAP, ADik 3T, BBP PPA (info lebih jelas tentang beasiswa ini ke website dikti.go.id ya).

Sharing pengalaman dan saran kritik atas pelaksanaan beasiswa afirmasi ini bikin saya mbrebes mili. Bagaimana tidak? perjuangan adik-adik dari Papua & Papua Barat serta adik-adik dari kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara ini sangatlah super, mereka pantang menyerah dan bersemangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Pengen menularkan semangat mereka ke saudara di kampung yang orang tuanya malas menyekolahkan buru-buru dikawinkan saja. Huft.

Semoga pelaksanaan beasiswa afirmasi ke depannya semakin profesional dan banyak mahasiswa terbantukan dalam meraih cita-cita mereka dalam membangun negeri dengan ilmu yang diperoleh.

Oke, skip ngomongin #worklyfe sekarang ngomongin kesanku pada kota Kendari saja :D. Alhamdulillah selama di Kendari, saya puas makan seafood, enak-enak semua… Kami ada makan di RM. Ibu Dina, RM Ikan Bakar Alamo (Pepo dan Memo pernah makan di sini loh) dan RM Angkasa Nikmat.

Sedangkan untuk jalan-jalan dikarenakan kota Kendari diguyur hujan selama kunjungan maka kami tidak sempat kemana-mana lagipula lokasi pantai dan obyek wisata lumayan cukup jauh. Satu-satunya tempat yang kami kunjungi adalah Masjid Al-Alam yang masih dalam tahap pembangunan, itu pun malam hari gelap gulita gerimis pula… ngeri kecemplung laut euy. Iya masjid ini konsepnya masjid terapung di tengah laut.

Bicara oleh-oleh Kendari yang terkenal adalah kacang mede dan seharusnya coklat (ternyata sulit padahal ada pabrik pengolahan coklat besar di sini). Selain itu godaan terbesar adalah adanya penjual piring hias besar dekat hotel, sayangnya pas niat mau beli harga yang ditawarkan oleh pramuniaga lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan oleh pemilik toko mana bosnya sedang tidak ada di tempat. Yowislah, biarlah menjadi kenangan hahaha.

 

Mudik 3 Kota

Mudik Lebaran tahun 2017 sebenarnya hampir sama seperti tahun lalu, mudik ke kampung orang, bedanya mudik tahun ini banyak silaturahmi. Yuk cuss saja diceritakan biar tidak lupa.

Ciamis

Tujuan pertama tentulah ke rumah nenek buyut di Ciamis. Berangkat Sabtu pagi dan perjalanan relatif lancar hanya macet di kota Majalengka karena ada pasar dan persimpangan. Sebelum berangkat mas Vito sakit sehingga dalam perjalanan pun masih tidak nyaman dengan jackpot eh Hafsha juga ikutan jackpot.

Lebaran hari 1 dan 2 dihabiskan di kampung, tidak kemana-mana paling cuma ke warung bakso wajib kunjung di Cikijing tetapi karena rame, kuah baksonya berkurang rasa nikmatnya. Hafsha terlihat menikmati kampung karena ada peliharaan kambing di samping rumah, hobinya memberi makan kambing tersebut. Oiya bocils juga suka mandi di pancuran padahal airnya sedingin es dan jauh naik turun, selesai mandi keringetan.

Purwokerto


Kunjungan kedua adalah Purwokerto dengan agenda wajib nyekar ke makam bapak dan agenda tambahan adalah kondangan sepupu saya yang berjodoh dengan gadis tetangga kampung padahal bekerja dan tinggal di Bekasi eh dapat jodoh balik kampung. Sebenarnya masalah setiap mudik ke Purwokerto adalah akomodasi, rumah mbah di kampung tidak memadai sedangkan menginap di rumah tante lihat kondisi juga karena banyak saudara yang menginap. Jadi sebelum mudik sempat bertanya ke WA group teman SMA mengenai info penginapan di Purwokerto. Alhamdulillah Happy menawarkan untuk menginap di rumah ibunya di Dukuh Waluh. Ghita dan Hafsha senang bertemu kembali dengan Kaira dan Mikha, mereka main terus sampai sedih berpisah. Menginap di rumah Happy semalam dan malam berikutnya menginap di rumah tante karena kebetulan kosong, saudara lainnya sudah pulang. Di Purwokerto tepatnya perjalanan pp Purwokerto – Rawalo mengalami macet, mana panas banget lagi dan dengan waktu terbatas disempatkan main ke Baturraden ya suami manyun karena macet naik menuju ke sana dan cendol banget deh. Sudahlah capek dan bete kan bawaannya, tapi kasihan kalo anak-anak tidak menikmati lokawisata ini jadi saya ajak naik lagi menuju pemandian air panas pancuran 3. Benar saja, girang deh mereka mandi air panas.

Salatiga

Kota terakhir yang kami kunjungi. Sebenarnya kampung yang kami kunjungi masih di Kabupaten Semarang tapi secara geografis mepet Kota Salatiga. Dari Purwokerto ke Salatiga melalui jalur tengah melewati Purbalingga, Banjarnegara (berhenti beli salak di pinggir jalan), Wonosobo (pemandangannya indah), Temanggung, Ambarawa, Bandungan (macetos) nah mulai deh di sini kami mengalami kesulitan karena petunjuk kota Salatiga tidak ada, hanya Magelang Jogja. Sempat nyasar ke arah Semarang. Meminta dikirim location pun sempat kesulitan karena mereka awam hehehe. Oiya kenapa kami ke Salatiga? seperti yang diceritakan di postingan sebelum ini bahwa mama akan bertemu dengan temannya yang sudah 3 tahun tidak bersua.

Berangkat dari Purwokerto pagi hari sampai di Salatiga sore hari menjelang maghrib. Melelahkan tapi menggembirakan buat mama bisa berjumpa dengan temannya. Di sini mas Vito bertemu teman baru, cucu dari bu Tati teman nenek. Hafsha senang karena bisa mengejar ayam dan entok. Saya sempat pinjam motor dan keliling sebentar dan hampir ke kota Salatiga yang ternyata memang dekat tapi kami urungkan karena kami tidak memakai helm :D.

Perjalanan pulang dari Salatiga menuju Jakarta kami sempatkan mampir ke rumah Pakde di Ungaran, ya sekalian jalan tetapi lagi-lagi nyasar karena beda belok dan mereka tidak bisa share location. Kami sudah mencicipi jalur tol fungsional ala-ala off road, yang lumayan membantu mempercepat waktu mudik.

Mudik kali ini bawaan kami cukup banyak sampai sebelum mudik kami hunting roof rack agar barang bisa disimpan di atas mobil. Sebagian bawaan untuk saudara kami di kampung, berharap berkurang sesampai di kampung eh malah dibekalin lagi yang lebih berat yaitu beras dan cemilan :D.

Mudik ini love and hate relationship karena perjalanan dan selama mudik ini banyak perdebatan dalam keluarga, aku lelah… contohnya nih suami merasa lebih tau Purwokerto daripada saya yang menghabiskan masa SMP dan SMA di Purwokerto, mudik ini saya sebagai co-pilot, planner, tukang packing, dll. Huft pisan, di sisi lain menyusuri kota-kota kecil di Jawa Tengah kok ya bikin pengen punya rumah dan kebun/sawah di salah satu kota tersebut (tapi bukan kampung halaman sendiri). Semoga saja diberikan kemudahan rejeki ya…

Tali Kasih by Facebook

Cari teman masa sekolah tinggal search di FB, itu sudah biasa.

Nah kemarin ini adalah paduan antara keajaiban dan kekuatan searching. Jadi gini, teman ibu saya selama bekerja di Qatar sedang pulang kampung ke Semarang, mereka sudah janjian akan ketemuan pas libur lebaran, kami akan berkunjung ke Semarang.

Eh ndilalah, no hp ibu saya tidak aktif karena jarang diisi pulsa, lewat deh masa tenggangnya. Bagaimana kalau teman ibu saya menghubungi? Cari info untuk mendapatkan kembali no hp yang sudah tidak aktif agak susah prosedurnya. Ibu saya pun hanya punya alamat rumah temannya tidak lengkap hanya nama desa, kelurahan, kecamatan. Njuk piye iki? Gagal dong ketemuan? Mana sudah 3 tahun gak ketemu :(.

Berhubung saya anaknya kepo dan gak mau ambil resiko datang ke kampung orang tanpa alamat yang jelas (jadi inget Mbah Sri di film Ziarah) maka mulailah saya searching di dunia maya berdasarkan nama dan alamat desa teman ibu saya tersebut. Susah ya dapat info jelas karena ibu saya dan temannya ini generasi baby boomers bukan nak milenial. Satu-satunya petunjuk adalah ada semacam like page desa teman ibu saya tanpa kontak yang bisa dihubungi.

Apakah saya harus minta bantuan mimin lambe turah untuk mempertemukan ibu saya dan temannya?

Hampir putus asa… Sampai saya telusuri like page tersebut dan menemukan akun IG seorang anak gadis yang sepertinya berasal dari desa yang sama dengan teman ibu saya. Saya kirim DM ke akun IG adik tersebut. Alhamdulillah dibalas dan kenal dengan teman ibu saya karena satu RT. Whoa!.

Saya minta tolong ke adik tersebut untuk minta no hp teman ibu saya tapi karena adik tersebut sedang kuliah di kota maka masih harus menunggu dia pulang kampung. Oiya keesokan harinya, dia memberikan pin BB anak teman ibu saya. Untung adik saya masih pakai BB jadilah dia yang menghubungi anak teman ibu saya yang berujung dengan dipertemukannya via suara antara ibu saya dan temannya.

Dari sisi teman ibu saya ternyata hp miliknya kecebur kolam renang sebelum berangkat mudik ke Semarang dan sama-sama kesulitan menghubungi ibu saya.

Sekarang kami tinggal menunggu waktu mudik untuk bisa bersua. Alhamdulillah ini salah satu berkah ramadan bagi keluarga kami.