Membantu Orang di Commuterline

Tadi pagi seperti biasa saya naik commuterline transitan (Tanah Abang-Manggarai). Di Stasiun Karet, naiklah beberapa perempuan muda berjilbab dan bercadar. Saya sedang asyik dengan hand phone di tangan, asyik whatsapp-an tentu saja. Lalu saya dengar mereka, perempuan berjilbab dan bercadar itu sedang kebingungan, mungkin mereka jarang naik commuterline.

Oiya posisi saya berdiri dekat pintu karena akan turun di Stasiun Sudirman. Lalu saya tanya ke mereka, “mbak mau turun di mana?”, “Di Depok” jawab mereka. “Oh… Baiknya mbak geser ke tengah karena nanti di Stasiun Sudirman banyak yang turun, nanti mbak kedorong-dorong”. Akhirnya mereka pun beringsut ke tengah kereta.

Saya lihat sekeliling, perempuan lain tidak ada yang menanyakan malah sepertinya ada yang menatap sinis. Bukan sinis kesel dengan pakaian mereka kok. Mungkin saya suudzon dengan penumpang lain, tapi saya pernah kok jadi salah satu dari penumpang lainnya yang hanya bisa menatap sinis kesel dengan penumpang yang gagap di commuterline. Masa gak tau sih caranya naik commuterline?.

Jadi bagi yang baru pertama kali atau jarang naik commuterline memang membingungkan. Apalagi naik di jam sibuk, beuh lihat banyak orang makin pusing, lihat petunjuk arah pun bingung, mau tanya ke orang juga ragu. Begitu berhasil naik kereta pun masih belum tau pintu mana yang akan terbuka, berapa stasiun lagi untuk sampai di tujuan. Sebenarnya sih kita bisa mempelajari tapi siapa sih di sini yang suka baca manual book? Lebih sering terjun langsung kan? Kecuali pas merakit barang Ikea ya berasa pinter padahal ngikutin petunjuk .

Kembali ke topik, sudah beberapa kali saya bantuin penumpang commuterline yang terlihat gagap, bingung di dalam kereta. Gapapa loh nanya ke mereka apa yang bisa dibantu? jangan cuma sinis. Hitung-hitung bantuin. Cari pahala? Ah kayak iklan gojek saja  (waaa… Aku mengendorse gratisan nih).

Halah, bantuin orang segitu saja pamer! Iyaiya… Begitu kamu merasa telah berbuat kebaikan dan timbul kesombongan sebesar biji zarrah, kamu langsung dapat balasannya kok (baca di IG @overheardjkt nih: “kurang-kurangin jahat sama orang, sekarang karma datengnya cepet sama cepetnya kaya ekspedisi barang yang besoknya sampe”).

Pas mau tap-out, KMT saya sempat error, palang pintu gak bisa dilewati 😅.

Advertisements

Lambe Nyinyir Netizen Commuterline

Begini ceritanya:
Jumat pagi naik commuterline alias KRL pas bongkaran penumpang di Stasiun Tanah Abang, di belakang ada mbak A teriak-teriak, “siapa yang ketinggalan barang nih?” Sambil mengacungkan keresek ke atas.

Gak lama ada suara balasan dari arah tangga, “punya sayaaa..” sambil tergopoh-gopoh turun tangga berlawanan arah menerobos para penumpang yang naik tangga.

Alhamdulillah ya rezeki milik si mbak B barang bawaannya gak hilang. Rasanya semua penumpang yang mendengar dan menyaksikan kejadian tersebut bernafas lega sambil berhamdallah.

TETAPI… Ada ibu C berkata keras, “MAKANYA MBAK! PUNYA BARANG DIJAGA JANGAN SAMPAI KELUPAAN KETINGGALAN BLABLABLA…”

Etdah, rasanya pengen lelepin cabe ke si ibu C trus geret si ibu C ke studio Indosiar buat ketemu Mamah Dedeh.

Nah, dalam situasi mana pun kelen sering berlaku seperti ibu C gak sih? Nge-judge tanpa henti memperkeruh suasana? Atau bikin tulisan kek gini berharap jadi viral? Ehehe.

Ketinggalan Barang di Commuterline. Lagi.

30704254_10216356984985286_8273265970366119936_n

Ini kali kedua ketinggalan barang di commuterline.

Pertama, ketinggalan kantung plastik isi buku, alhamdulillah ketemu dan ambil barang di stasiun Serpong. Yang sekarang, ketinggalan tas ransel, alhamdulillah ketemu dan ambil barang di Stasiun Parung Panjang (tadi naik kereta jurusan ini).

Biasanya barang tertinggal karena lupa, taruh di rak trus turun lenggang kangkung. Apalagi hari ini berganti kereta dari Argo Parahyangan turun Jatinegara sambung commuterline ke Manggarai, turun Tanah Abang pindah peron naik yang jurusan Parung Panjang. Lelah sis…

Kalau ketinggalan barang bagaimana? Langkah awal, segera lapor ke PKD atau petugas KAI jelaskan tadi naik kereta apa? barang yang ketinggalan apa? Nanti mereka akan saling berkoordinasi dengan sesama petugas untuk mencari dan menyisir keberadaan barang tersebut. Saya diberikan surat keterangan kehilangan barang untuk mengambil barang di stasiun terdekat tempat barang ditemukan. Di stasiun tersebut di loket lost & found kita serahkan, dicatat dan difoto untuk bukti sebelum barang kita terima.

Memang sebaiknya jangan meninggalkan barang berharga di commuterline. Bisa saja ada orang lain iseng mengambil barang tersebut.

Akhir kata, terima kasih banyak untuk petugas KAI yang telah membantu menemukan tas saya.

Mendadak Mudik April 2018

Mudik kali ini dipersembahkan oleh suami yang DLK di Majalengka. Tiba-tiba melontarkan ide, “mau gak pulang kampung? mumpung ke Majalengka sekalian saja mudik nengokin uyut”. Oke, langsung mengajukan cuti 2 hari.

Pulang kampung kemarin cuma 4 hari, 2 hari di kampung, 2 hari di Cirebon. Yang liburan ya saya, ibu saya dan bocils kalau suami cuma mengantarkan dan kembali bekerja di Majalengka. Dua hari pertama di kampung, simply doing nothing eh gak juga sih. Ibu saya asyik bercengkerama dengan uyut (ibunya) dan saudara-saudara sedangkan bocils gak bisa diam bosan di tempat. Maklum susah sinyal, gak ada TV, gak ada internet. Solusinya? banyakin main di kebon.

Untunglah ada saudara yang rumahnya agak jauh sehingga kami bisa berkunjung dan bocils eksplorasi sekitar rumah saudara yang berupa hamparan sawah dan kebon. Bebaskeun… alhasil pulangnya badan bentol digigit serangga 😀

Dua hari berikutnya, menghabiskan waktu untuk liburan setitik yaitu berenang di Sangkan Water Park, Kuningan lalu menginap di Cirebon untuk kembali berenang di hotel. Tidak lupa kuliner empal gentong dan mampir di Trusmi untuk beli batik anak-anak. Alhamdulillah bisa nebeng tidur di hotel yang nyaman dan sarapan enak.

Nah urusan pulang ini yang agak ribet dan bikin senewen. Kami tidak naik kereta dari Cirebon dengan pertimbangan repot berpindah kereta dari Gambir ke Tanah Abang lanjut taksi ke rumah. Kami memilih naik bis yang ada pool di Ciputat, lebih dekat ke rumah. Masalahnya bis tersebut dari Tasikmalaya. Bayangkan kami harus menempuh perjalanan dari Cirebon ke Tasikmalaya. Pak suami mengambil jalan pintas potong jalur dengan mengantarkan kami ke rest area di Tol Cipularang, naik dari situ saja. Eh ternyata lupa memperhitungkan long weekend yang bikin bisnya penuh. Huft. Terpaksa kami naik bis jurusan Kampung Rambutan. Masih lebih dekat dari rumah. Permasalahannya, keluar dari terminal Kampung Rambutan ke jalan raya saja cukup jauh. Repot geret koper dan ibu saya gendong Hafsha yang berat. Belum lagi dalam perjalanan naik taksi online mas Vito jackpot. Astaghfirullah… belum lelah habis ditambah harus bersihin taksi online. Paringi kulo sabar…

Seenaknya liburan memang lebih enak di rumah 😀

Hoping Island di Belitung

Setelah puas Sabtu lalu berkeliling daratan Pulau Belitung, kali ini waktunya hoping island. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui!

Pagi itu, hujan gerimis dan bikin khawatir tidak bisa melaut. Yah, gagal deh ala-ala anak pulau 😥 eh ternyata menurut bapak pemandu justru saat hujan gerimis, ombak di laut tenang dan bonusnya cuaca tidak panas menyengat. Leh ugha! Cusss lah…

Perjalanan dari hotel menuju pelabuhan Tanjung Kelayang sekitar 1 jam. Di sini ada bangunan yang tidak selesai dibangun (kabarnya punya Tommy), ada semacam aula besar yang dulu digunakan untuk menyambut Pak SBY. BTW, view pesisir pelabuhan ini lebih bagus daripada pantai tempat kami menginap tapi memang di sini lebih sepi.

Perahu kami berwarna ungu, stand out di tengah laut 😀 Rental perahu ini atas rekomendasi Pak Dawan supir mobil rental, terima bereslah. Baik Pak Dawan maupun Bapak Perahu (OMG, lupa gini siapa namanya) keduanya asyik dan baik. Pak Dawan bahkan seperti fotografer pribadi khusus buat liburan, siap sedia memfoto kami 😀 Bapak Perahu sesungguhnya anak pantai sejati yang akan kecewa kalau kami hanya menyewa perahu untuk menyeberang pulau tanpa berenang atau snorkling. Rugi katanya sudah jauh berlibur tapi tidak merasakan dunia bawah laut yang indah.

Pulau Lengkuas

Tujuan pertama kami hoping island, pulau ini memiliki mercu suar yang masih digunakan hingga sekarang. Hasil browsingan bilang kita bisa naik tangga hingga ke atas menara mercu suar tetapi karena musim hujan, licin dan takut kayunya lapuk maka sekarang tidak bisa. Gapapa juga sih, kebayang gempor dan pusing naik tangganya. Di mercu suar ada kucing gendut gemesin pengen kugendong dan kubawa pulang.

Di pulau ini, mas Vito masih jijik kena pasir pantai maunya sendal yang dipake tetap bersih dari butiran pasir. Ahelah, boi 😅 tapi lama-lama enjoy kok. Maklumlah anak pinggir kota 😂. Ada sedikit tragedi, saya sempat jatuh saat naik batu yang licin, hati-hati ya gaes jangan pecicilan pengen manjatin batunya.

Snorkling Spot

Tidak jauh dari Pulau Lengkuas, ada spot untuk snorkling dan saya memaksa mas Vito untuk mencobanya dan saya dipaksa nyemplung juga oleh bapak perahu. Makasih deh pak, saya bagian moto saja 😀 Awalnya mas Vito takut dan tidak nyaman tapi akhirnya ketagihan. Yes! Cintai laut Indonesia ya boi…

Alternatif lain buat yang tidak snorkling yaitu kasih makan ikan dengan biskuit (emak irit bawa bekel crackers dong 😂). Kata mas Vito pemandangan bawah laut lebih bagus, ikannya lebih berwarna (dari atas perahu warna ikannya hitam abu doang.

Pulau Pasir

Sejauh mata memandang, Pulau Pasir ini sungguhlah gundukan pasir putih semata tapi bagusss…

Di sini, mas Vito sudah enjoy dan sah jadi anak pantai. Horeee… Lihat saja dia sukarela gegulingan dan loncat di pasir 😂 (tekstur pasirnya memang lebih halus daripada pasir di Pulau Lengkuas). Saking enjoynya sampai dia gak mau pulang, lah saya malah ngeri pulaunya hilang karena pasirnya tergerus air laut.

Pulau Kelayang

Ini tujuan akhir dari hoping island, kami melewati Pulau Garuda yang terdiri dari bebatuan dan menyerupai kepala burung tapi gak bisa menepi di situ.

Sementara bapak pemandu dan bapak perahu ngopi, kami berdua asyik mencari kerang/batu karang dan nemu bintang laut dong. Itu fotonya cuma diangkat sebentar langsung dikembalikan ke air laut (ngeri dihujat netijen 😌). Oiya selain itu kami asyik main lempar batu sembunyi tangan eh salah lomba lempar batu paling jauh. Di pulau ini ada kedai penjual makan siang seadanya tapi prinsip emak hemat bawa bekal selama hoping island. Beneran loh, jangan lupa bawa satu tas waterproof berisi pakaian ganti, makanan dan minuman secukupnya.

Siapa bilang kami cukup makan bekal? selesai hoping island kami makan ikan bakar 2 muka, sebelah bumbu pedas sebelah bumbu kecap cocok buat mas Vito yang kurang suka makanan pedas. Alhamdulillah kenyang… (harganya pun masih reasonable-lah).

Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi

Berhubung masih banyak waktu tersisa dan masih ada pantai iconic Belitung yang belum kami kunjungi yaitu Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi. Kalau di film Laskar Pelangi, pantai ini tampak sepi kenyataannya pantai ini ramai sekali di hari libur, banyak pengunjung dan banyak penjual makanan & minuman. Di sini saya kagum sekali dengan kuasa Allah karena pantai ini berisikan batu besar-besar sekali. MasyaAllah.

Di hari kedua, saya berpindah penginapan ke Hotel Hanggar 21 dekat bandara. Sengaja memilih hotel dekat bandara karena morning flight dan dapat fasilitas antar jemput ke bandara. Hotel ini masih baru, saya pesan kamar tanpa sarapan. Di depan hotel ada kedai kopi Kong Dji dan pujasera, cukuplah makan seadanya.

Masih ada destinasi wisata yang belum dikunjungi selama liburan ini dan masih belum menikmati bersantai di pantai pasir putihnya (kalau bawa bocils sih enak, mereka bisa puas main bersama di pantai). Masih banyak kuliner yang belum sempat dicicipi. Masih penasaran dengan sejarah Timah di Belitung. Semoga diberikan rejeki lagi agar full team bisa liburan ke Belitung. Aamiin.

Sedikit informasi bagi yang belum tau, poin miles Garuda bisa diredeem untuk perjalanan menggunakan Citilink dengan pemakaian poin miles yang lebih hemat. Di Citilink dijual popmie! bayangin deh wangi popmie di penjuru pesawat 😀

Tiba di SHIA terminal 2C kepengen nyoba skytrain dan kereta bandara. Capek juga jalan kaki dari 2C ke 2B untuk naik skytrain trus pindah di stasiun kereta bandara. Bagus stasiunnya tapi kayaknya memang gak cocok buat yang mengejar waktu karena repot di transfer antar stasiun. Susah ya connecting the dot di urusan pertransportasian negeri ini. Pe-ernya banyak.

Liburan ke Belitung

Setelah serangkaian postingan foto di Instagram maka demi mengabadikan momen, saya lanjutkan cerita pengalaman liburan bulan Maret lalu ke Belitung di blog tercinta ini. Well, agak repot sih buka beberapa tab buat copy paste dari Instagram, cek email tiket buat lihat tanggal perjalanan trus ditambahin narasi sedikit di blog. Semangat!

Rencana awal mau liburan ke Belitung ini saya bersama teman-teman kantor geng caur mau memanfaatkan poin miles eh ternyata seatnya terbatas dan terhalang izin ke bos. Yaiyalah kalau satu unit kerja pergi bagaimana ngomong ke bos? maka berguguranlah satu demi satu refund dan cancel tiket perjalanan. Saya? the show must go on! semakin ditunda semakin batal jadinya. Ini pun sudah bergeser tanggal perjalanan dari awalnya long weekend berganti ke hari biasa (ambil cuti 1 hari).

Tanggal 24 Maret 2018 menjadi hari perdana mas Vito merasakan naik pesawat eh saya juga perdana naik Citilink. Berangkat dari rumah ke bandara diantar oleh suami, kebiasaan saya adalah susah tidur di malam harinya karena morning flight, gak pake mandi pun 😀

Setiba di Bandara H.A.S Hanandjoeddin, Belitung kami sudah dijemput oleh Pak Dawan supir mobil rental. Agak awkward sih liburan berdua saja, berasa princess eh berasa sharing costnya 😀

Replika SD Muhammadiyah Gantong (SD Laskar Pelangi)

Destinasi pertama liburan kami, sepanjang perjalanannya seperti di Pulau Bintan bedanya di sini kami melihat kebun kelapa sawit dan lada selain pemandangan rumah penduduk yang berhalaman luas tak berpagar.

Kami tiba terlalu pagi, baru ada penjual cincin batu satam yang konon pecahan batu meteor (warna batunya hitam legam) dan untunglah ada penjual jajanan tradisional. Alhamdulillah ya, karena kami belum sarapan. Lepet ketan dan lemper isi abon ikan berbungkus daun simpornya enak.

Anyway busway… sebelum pergi saya belum menyaksikan film Laskar Pelangi dan sekarang tujuan utama adalah berkunjung ke SD Laskar Pelangi. Ini ironi atau gimana ya? Dilihat dari bangunan SD yang sangat sederhana sekali ini pasti terbayang kesulitan dan kemuraman selama belajar. Tidak menyangka ada sesosok anak yang kecerdasan dan kegigihannya dalam menimba ilmu bagai mutiara bersinar. Salut. Anak itu adalah Lintang yang berasal dari keluarga nelayan miskin, rumahnya jauh dari sekolah, ia kerap menjumpai buaya yang menghadang di tengah jalan yang ia lalui, belum lagi saat musim hujan, kebanjiran atau saat sepedanya rusak sehingga terpaksa menjual cincin mas kawin orang tuanya hanya untuk membeli rantai sepeda dan ban. Semoga ini bisa memompa semangat belajar mas Vito bahwa dalam mendalami ilmu akan ada halangan rintangan yang menghadang tetapi kita tidak boleh patah semangat.

Meskipun pagi hari, matahari sudah bersinar cukup terik memandang hamparan pasir di halaman SD, duh sepertinya main seluncur di atas pasir dengan pelepah daun kelapa sangat menyenangkan.

Dermaga Kirana

Letaknya persis di seberang SD Laskar Pelangi. Tempat yang cocok untuk bersantai menyantap jajanan pasar yang tadi kami beli sambil pepotoan di saung bambu artifisial. Bisa juga menyewa perahu untuk mengelilingi danau. Tapi karena santai itu melenakan sedangkan masih banyak tempat yang kami singgahi, maka skip dulu deh.

Kampung Ahok

Di kampung Ahok ini kita bisa melihat kediaman keluarga Ahok (masih ditempati oleh keluarganya). Di sebelah kediaman ada Galeri Simpor tempat menjual souvenir khas Belitung seperti batik bermotif daun simpor. Mantan warga KTP Jakarta ini sangat merindukan Ahok…

Museum Kata Andrea Hirata

Museum literasi pertama yang ada di Indonesia ini didirikan sejak tahun 2010. Museum yang cantik penuh warna ini dihiasi oleh beragam quotes dari beberapa penulis yang merupakan sumber inspirasi Andrea Hirata dalam berkarya. Saya kagum sekali bagaimana sebuah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini menjadikan Belitung dikenal sebagai destinasi wisata. Belitung ya Laskar Pelangi, begitu trademarknya. Oiya, HTM Rp 50.000 dapat buku saku Laskar Pelangi, cuplikan novelnya.

Penangkaran dan Penelitian Tarsius, Batu Mentas

Meskipun bukan destinasi favorit tapi saya merasa harus mampir untuk melihat Tarsius di habitatnya langsung. Sayangnya untuk menuju lokasi, jalanan masih belum beraspal. Begitu masuk lokasi terasa zen atau malah spooky ya? Karena letaknya di dalam hutan dan sepiii…

Tarsius bukanlah mudah untuk dapat dilihat langsung maklumlah… hewan nokturnal yang di siang hari lebih asyik tidur bersembunyi di dahan pohon. Oleh bapak penjaga kami dibolehkan masuk ke kandang besar tempat penangkaran dan mengganggu seekor tarsius yang sedang bobo siang. Sebenarnya serem melihat tarsius ini, matanya besar melotot, giginya banyak runcing seperti jarum, apakah ini monyet kecil atau kelelawar.

HTM Rp 10.000/orang, ke sini baiknya jangan hanya penasaran ingin melihat Tarsius tetapi asyik juga bermain river tubing dan permainan outbond lainnya.

Setelah perjalanan jauh ke sisi Timur Belitung, sore harinya kami menuju arah kota Tanjung Pandan. Sebelum check-in hotel, mampir dulu ke Danau Kaolin.

Danau Kaolin

Danau Kaolin ini mirip danau biru di Pulau Bintan (ahelah dari tadi benchmarknya Pulau Bintan melulu ya? :D) sama-sama terbentuk dari eks pertambangan bedanya di Bintan dari penambangan pasir, di sini dari penambangan kaolin. Kalau mau tau kaolin itu apa? coba cek google dan wikipedia, manfaatnya banyak banget untuk kehidupan manusia ternyata diperoleh dengan cara seperti ini. Kalau ke destinasi wisata seperti ini tuh bikin hati terenyuh bagaimana manusia dengan serakahnya telah merusak alam tetapi apa yang alam telah berikan kepada kita? Apakah ini peribahasa dari beauty is pain? Atau beauty needs no attention to be beautiful.

Pantai Manggar & Pantai Tanjung Pendam

Pantai Manggar berlokasi di Belitung Timur sedangkan Pantai Tanjung Pendem dekat kota Tanjung Pandan. Kenapa digabung? Buat referensi saja kalau bepergian bersama keluarga, bolehlah beristirahat bersantai di pantai ini. Pantai Manggar berpasir putih halus (sayangnya kami tiba tepat tengah hari, panas), untuk Pantai Tanjung Pendem lebih cocok untuk mencari kerang atau kelomang (pantai yang pasang surut). Sedangkan kami pergi hanya berdua dan rasanya aneh untuk bermain pasir di tepi pantai ditemani supir mobil rental pula.

Hampir semua destinasi wisata di daratan Pulau Belitung kami singgahi, sekarang coffee timeee…

Kong Dji Coffee

Warung kopi yang letaknya dekat pelabuhan ini awalnya hanya memiliki pelanggan para pekerja pelabuhan tetapi sekarang sudah banyak cabang franchisenya (bahkan di Pasar Modern BSD dekat rumah pun ada). Saya memesan kopi susu, mas Vito memesan es coklat dan roti bakar coklat keju. Semuanya enak… cocok untuk melepas lelah setelah seharian berkeliling Pulau Belitung. Kami pun mencoba bergaya ala peracik kopi alias barista di Kong Dji Coffee ini. Hmm… jadi pengen beli franchisenya 😀

Hari pertama kami menginap di Bahamas Hotel. Reviewnya? hotel ini tidak memiliki lift, furniture di kamar kami berlapis HPL yang mengelupas, sarapannya standar, kolam renangnya kecil, view pantai di belakang hotel kurang cantik (pantai pasang surut).

Postingan berikut tentang hoping island di Belitung.

Lombok Trip

Tanggal 6 – 9 Maret 2018 lalu saya DLK ke Lombok. Kok enak lama? Ishhh… 2 hari itu cuma buat perjalanan, 2 hari buat kerja eh nemenin yang kerja 😂.

Berangkatnya sih sore tapi sengaja berangkat dari rumah saja padahal pengen nyobain kereta bandara tapi mikir ribet bawa koper, naik turun tangga di stasiun Tanah Abang, geret koper pindah stasiun di Sudirman. Hmmm… Makasih deh 😌. Kan lumayan di rumah bisa uyel-uyel Hafsha dulu. Naik grab agak kesel karena lelet jadinya sampai di pool damri bisnya sudah jalan. Agak khawatir macet di jalan menuju bandara terus ketinggalan pesawat. Aaakkk tidaaakkk… Soalnya perjuangan banget booking tiket pesawat kali ini, hajatan besar kementerian mitra bikin kami gak bisa pilih jadwal, pesan hotel pun full booked semua.

Sampai di bandara, kami berdua bagai anak ayam kehilangan induknya karena gak ada yang jemput. No worry, tinggal pesan taksi kok. Oiya kami turunnya di hotel tempat rapat berlangsung, absen dulu hehehe baru deh geret koper ke hotel inap. Untungnya jalan kaki gak sampai 1 km. Mau mampir makan malam pun terlalu malas, go food sajalah.

Hari kedua, full standby di hotel ruang rapat sampai malam. Bawa MBP buat cek e-gov, whatsapp-an sama pakbos. Oiya pakbos juga ikut rapat tapi di forum yang berbeda. Syukurlah #loh #samasajading.

Hari ketiga, pagi ke hotel ruang rapat tapi karena malamnya tidur pake kaos singlet dan kecapekan maka bisa ditebak saya masuk angin deh, sudah swapijit pun tapi masih pusing. Akhirnya izin balik ke hotel buat tidur istirahat.

Sorenya baru cari makan di luar, berhubung bosan go food melulu maka kami memutuskan ke mall. Ahelah tipikal anak Jakarta ngetz ya! Hotel tempat acara dekat dengan mall tapi jadul mirip ITC gitu, sepi. Berdasarkan info dari bapak supir taksi bahwa ada mall yang masih terhitung baru, yuklah cuss ke sana naik taksi. Mall barunya ternyata sepi-sepi saja. Pilih tempat makan pun dilihat dari yang sekiranya ramai pengunjung.

Sebenarnya mau keluar pulau kalau sudah ketemu indomaret/alfamart dan ada ojol, saya sudah cukup bahagia 😂.

Hari keempat waktunya check out pagi dini hari, untunglah kami diantar. Saya sudah terbangun setiap jam ngeri kesiangan. I think I have too much anxiety. Sigh… Berhubung masih lemas, saya gak balik kantor tapi pulang. Beneran deh, dalam penerbangan pun telinga saya terasa sakit seperti budeg.

Terusss… Highlight biztrip ini adalah dibeliin tas raissa oleh riris. Muachhh… Suka suka suka karena sudah kepoin dari dulu, menahan untuk beli karena mahal dan di sini cukup bayar setengah harga pasaran di Jakarta. Hahaha, berat di ongkir mungkin ya jadinya mahal.