Weekend Project: DIY Moon Phases


Dalam rangka memanfaatkan piring bambu/rotan yang menumpuk di gudang maka browsinglah di pinterest mencari ide dan menemukan bebikinan DIY Moon Phases alias fase bulan dari bulan sabit hingga bulan purnama. Senangnya bebikinan selain menggunakan barang bekas juga bikin saya belanja perlengkapan lainnya πŸ˜€ dalam hal ini belanja cat decoupage, ya memang gak punya stok cat seperti itu di rumah. Lagipula sisa catnya masih banyak bisa buat weekend project lain #pembenaran.

DIY Moon Phases

Bahan yang diperlukan :

  • 7 buah piring bambu/rotan. Bisa diganti dengan barang lain yang penting berbentuk lingkaran πŸ˜€
  • 3 cat decoupage (abu, peach, dan gold), ini juga bebaskan mau pilihan warna catnya seperti apa, sesukamu saja.
  • kuas cat.
  • kertas koran bekas untuk alas, biar gak kotor.

Cara membuat :

  • Siapkan bahan yang diperlukan.
  • Cat piring bambu/rotan dengan cat dasar (saya pakai cat warna abu-abu), jemur hingga kering.
  • Lanjutkan mengecat lapisan kedua yaitu bentuk bulan (saya pakai cat warna peach), jemur hingga kering.
  • Tahap akhir, berikan sentuhan gemerlap dengan menorehkan cat warna gold secara acak.
  • Gantung deh di dinding rumahmu, bisa secara vertikal maupun horizontal.

DIY Moon Phases ini selain mempercantik dinding ruangan juga bermanfaat sebagai media pembelajaran IPA untuk anak-anak.

 

Movie Date Cars 3

Sabtu lalu, setelah mengantar Ghita ke sekolah TK untuk mengikuti perlombaan 17an, saya mengajak Vito movie date Cars 3 di BSD Plaza XXI, bioskop termurah se-Tangsel :D. Sengaja berdua saja karena Ghita sudah menang banyak hari itu dapat piala dan goodie bag dari sekolah. Hahaha… dalam upaya memberikan keadilan kepada bocils.

Jarak film Cars ini jauh-jauh ya… 2006, 2011, dan terakhir 2017 jadi ada beberapa bagian cerita ya lupa dan tercampur ingatan dengan film Planes yang buatan Disney Pixar juga. Sebagaimana rekomendasi dari Gemma, sungguhlah baper nonton film animasi ini mana ada bagian flashback Mcqueen dan Doc Hudson, pencarian Mcqueen ke kampung halaman Doc Hudson, okelah film Cars 3 ini memanglah tribut untuk Doc Hudson.

Berikut beberapa hikmah yang bisa diambil dari film Cars 3 :

  1. The struggle is real. Perjuangan Mcqueen yang memasuki masa pensiun dan berhadapan dengan pembalap baru. Dalam kehidupan nyata seperti saya generasi X (anak 90an) harus berhadapan dengan anak milenial. Bagaimana bisa bekerjasama dengan anak milenial? Bahkan menjadi mentor.
  2. Lanjutan dari poin 1: Tentukan masa pensiun daripada baper karena tersingkir dengan generasi muda. Kapan mulai dan kapan berakhir harus kita tentukan dalam berkarir. Apalagi saat merasa di puncak kejayaan pasti sulit menerima kenyataan harus mundur. Alhamdulillah lagi kalau bisa menjadi teladan bagi generasi penerus.
  3. Ambil kenangan manis sebagai pemacu semangat. Kenangan indah akan Doc Hudson bikin Mcqueen melangut, membuncah kerinduan akan sosok mentor untuk hadir dalam setiap pertandingan. Untunglah sosok Doc Hudson selalu ‘hadir’ memberi semangat. BTW, sepanjang film mencoba mengingat kapan Doc Hudson meninggal?

Etdah, animasi Disney memanglah super… panteslah Pak Ahok merasa dirinya sebagai NemoΒ #sambunginsajashayyyΒ πŸ‘πŸ‘πŸ‘.

 

Ketinggalan Barang di Commuterline

Lupa cerita kalau saya pernah tidak sengaja meninggalkan barang di commuterline dalam perjalanan berangkat kerja.

Disini saya ceritakan langkah-langkah menemukan kembali barang tersebut ya… Memang bisa? Insyaallah selama ada orang baik maka barang ketinggalan akan ditemukan kembali.

Barang yang ketinggalan sih cuma buku di kantong kresek, yah bagi orang lain gak berharga tapi bagi saya berharga karena buku kuliah, lumayan kan kalo harus beli lagi. Buku dalam kantong kresek tersebut saya taruh di rak atas kereta dan pas turun berganti kereta saya melenggang kangkung lupa babarblas #tepokjidat. Inget-inget sesampai di kantor karena saya mau mengerjakan tugas kuliah di waktu senggang :D. Saya tanya-tanya dong dengan teman komunitas dan sempat bertanya di akun twitter commuterline.

Saat pulang kerja, di stasiun Tanah Abang langsung saya menuju bagian informasi dan memberitahukan ketinggalan barang, saya diminta mengisi formulir sembari menunggu konfirmasi dari petugas commuterline untuk memastikan ada barang milik saya yang tertinggal tersebut. Jadi setiap selesai perjalanan PKD akan menelusuri gerbong kereta dan memeriksa kondisi kereta termasuk apakah ada barang yang tertinggal dan akan mereka simpan. Untuk jalur hijau (Tanah Abang – Serpong/Rangkas) disimpan di stasiun Serpong. Lalu saya diinformasikan untuk mengambil barang tertinggal di stasiun Serpong, untunglah dekat dengan stasiun yang biasa saya naik/turun.

Sesampainya di stasiun Serpong saya menuju kantor petugas kereta dan memberitahukan perihal barang tertinggal sambil menyodorkan formulir. Alhamdulillah buku kuliah saya berhasil ditemukan. Saya diminta foto bareng saat serah terima barang sebagai bukti, sayang saya gak minta fotonya πŸ˜€

Tapi sekadar mengingatkan memang sebaiknya menjaga barang berharga seperti laptop hindari deh taruh di rak atas atau disamping tempat duduk karena dari berbagai cerita sering didapati kehilangan laptop. Sebaiknya disimpan di tas ransel dan diposisi depan bukan punggung.

Cara Mengurus Perubahan Data Paspor

Sebagai pembuka postingan saya mau cerita pengalaman bikin paspor via aplikasi android Antrian Paspor. Langkah pembuatan paspor via aplikasi antara lain:

1. Install aplikasi Antrian Paspor di handphone android dan daftarkan diri anda di aplikasi tersebut (cukup isi username, password, NIK, nomer telepon, email dan alamat).

2. Login dan pilih kantor imigrasi pembuatan paspor. Untuk sementara baru di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, ULP Wilayah 1 dan ULP wilayah 2. Saya memilih ULP Wilayah 1 karena cukup dekat dari rumah (padahal setelah berangkat ke sana teemasuk jalur macet 😌). *Update informasi: sekarang ada 26 kantor imigrasi termasuk Jaktim, Jakut, Jakbar, Bandara Soetta, Depok, Bandung, Surabaya, Makassar, dll.

3. Isi data permohonan antrian paspor. Pilih tanggal dan waktu serta jumlah pemohon (nanti akan terlihat kuota tersedia).

4. Di tab jadwal akan terlihat jadwal pembuatan paspor sesuai pilihan dan qr code untuk dipindai oleh petugas imigrasi.

5. Persiapkan fotokopi dokumen (KTP, Kartu Keluarga, Akta Lahir, Buku Nikah, Ijazah) sebelum datang ke kantor imigrasi.

6. Di kantor imigrasi, tunjukkan qr code ke petugas untuk mendapatkan nomer antrian dan isi formulir yang ada. Setelah dipanggil antriannya kita akan ditanyai oleh petugas untuk konfirmasi data dan pengambilan foto dan sidik jari.

7. Untuk pembayaran biaya pembuatan paspor melalui transfer/setor ke kas negara. Bukti pembayaran jangan sampai hilang ya.

8. Waktu pembuatan paspor sekitar 3 hari kerja dan paapor dapat diambil siang/sore hari. Kembali ambil nomer antrian tapi cuma sebentar kok. Selesai deh.

Terus kenapa saya mau cerita tentang perubahan data paspor? Ternyata nama saya antara akte lahir dan dokumen berikutnya berbeda, di akte hanya 2 kata di dokumen lain 3 kata. Jadi kurang spasi saja tapi bikin pusing karena saya sudah terlanjur beli tiket menggunakan nama 3 kata. Kalau ganti bakal kena charge lumayan. Trus aku kudu piye?

Pertama, saya browsing informasi mengenai prosedur ganti nama di paspor dan menemukan berbagai hasil seperti prosedur yang lama dan ribet. Tambah ketar-ketir dong meskipun rencana perjalanan masih lama tapi kan bikin khawatir. FYI, saya belum sempat ambil paspor karena kebetulan saya DLK. Sebagai antisipasi saya sudah bikin draft surat pengajuan proses perubahan data paspor dilengkapi dengan dokumen pendukung.

Pas hari H ambil paspor, sekalianlah saya bawa dokumen pendukung tersebut. Syukur-syukur bisa langsung diproses kan? Meluncur dari kantor ke ULP Wilayah 1 menggunakan ojol, antri sebentar untuk ambil paspor dan sempatkan bertanya tapi jawaban petugas kurang memuaskan dan saya diminta mengurus perubahan data paspor ini di Kantor Imigrasi Jaksel di Mampang Prapatan. Karena dirasa waktu masih cukup waktu buka layanan lanjutlah saya meluncur dari Pondok Pinang ke Mampang Prapatan.

Di Kantor Imigrasi ini saya diarahkan ke loket informasi di lantai 2 lalu saya diminta isi formulir bermaterai 6000 yang tersedia di tempat fotokopi, dokumen dan paspor saya serahkan dan tanpa menunggu lama, selesai prosesnya. Trus apa yang berubah? Jadi di halaman ke-4 (halaman Catatan Pengesahan) disebutkan bahwa pemegang paspor ini bernama bla bla bla. Sudah itu saja tanpa cap Kantor Imigrasi, pas saya mintakan ibu petugas bilang tidak perlu. Ini rasanya campur aduk deh, karena dari baca informasi yang ada bisa memakan waktu 2 minggu lah ini cuma beberapa menit saja dan gratis. Alhamdulillah…

Tinggal menunggu waktu paspor saya dipakai nih, semoga tidak bermasalah di pihak imigrasi negara yang saya kunjungi. Wish me luck!

ArtJakarta 2017

Demi membuka wawasan bocils tentang kesenian khususnya seni lukis maka kami sekeluarga pergi ke Pacific Place tepatnya di lobby The Ritz Carlton Hotel. Agak jiper juga secara ini mall high class, maklumlah kami ndeso πŸ˜€ tapi karena acara ini diliput di televisi dan sosial media dan tentunya gratis ya sudahlah dicoba. Kan seni tidak mengenal kelas sosial?

Ternyata pengunjung acara ArtJakarta 2017 cukup banyak sehingga menjadi kurang nyaman untuk benar-benar menikmati karya seni yang ada etapi kalau kami sih karena bawa bocils yang harus selalu diingatkan untuk tidak menyentuh/memegang karya seni tersebut jadilah kami hoping dari satu booth ke booth lain. Sempat minta foto bareng Disast eh dia lagi rempong mau pulang :D.

Secara keseluruhan, ini pengalaman baru bagi keluarga kami dan semoga kami bisa datang ke berbagai pameran seni lainnya. Melihat begitu banyak lukisan dengan gaya berbeda-beda sungguh menyenangkan walaupun kami gak ngerti seni sekalipun (jangan lihat price tagnya tapi…) dan berangan-angan pengen punya salah satu karya seni di rumah (bukan free print out dari pinterest ya :D)

 

Surabaya Trip


Finally ke Surabaya juga… lengkap sudah perjalanan ke ibu kota provinsi di Pulau Jawa :D.

Lagi-lagi sebagai pemain cadangan, masih kecapekan dari Kendari tapi kuharus mengurus administrasi DLK Surabaya ini. Untungnya saya cekatan #tsahlagi #pengenmuntahgaksih etapi ada salah ketik dokumen terpaksalah keluar uang untuk ngeprint di business center hotel :(.

DLK kali ini tentang kegiatan pemantauan budaya gemar membaca dan juga memantau kegiatan pelatihan yang diadakan oleh Perpuseru kepada para pengelola Perpustakaan Daerah. Perpuseru bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai learning center dan pusat kegiatan masyarakat bukan cuma baca/pinjam buku tetapi tentang menerapkan ilmu yang diperoleh dari bahan pustaka karena itulah tujuan kita membaca agar pintar dan berbagi ilmu dengan sesama. Semoga program Perpuseru ini dapat diadopsi dengan baik oleh Pemerintah ya…

Hari kedua, kami berkesempatan mengunjungi Perpusda Jombang. Perjalanan Surabaya-Jombang lumayan jauh ya sekitar 2-3 jam dan kami kembali di hari yang sama loh. Lumayan melelahkan tetapi kami senang bisa bertemu dengan pengelola perpustakaan dan warga masyarakat yang antusias dengan pengelolaan Perpusda karena banyaknya kegiatan workshop dan gratis. Baru tau juga kalau kami melewati cagar budaya Trowulan! situs peninggalan kerajaan Majapahit. Next harus ke sana ya.

Hari ketiga di saat yang lain morning flight, saya dan teman sengaja flight belakangan agar sempat jalan-jalan di kota Surabaya. Terus terang saya penasaran banget melihat kota Surabaya yang telah dirawat oleh Ibu Risma dan saya kagum sekali akan kebersihan dan keindahannya. Salut bu!

Jadi, half-day trip kami antara lain jalan kaki dari hotel di Jalan Dharmo menuju Taman Bungkul dan makam mbah Bungkul, Perpustakaan BI mampir icip-icip es grim di Heerlijk Cafe, lanjut ngegrab ke House of Sampoerna. Sebentar tapi lumayan puas :D.

DLK ke Surabaya ini lagi-lagi saya ber-seafood galore (apa kabar kolesterol?) dan gak sempat icip kuliner khas Surabaya, cuma sempat go food bebek Sinjay dan itu pun makan di bandara. Kata abang go food yang rame itu bebek Palupi dekat Tugu Pahlawan.

FYI, di Surabaya lagi-lagi saya dibikin kepengen dengan piring hias karena interior restoran hotel bertebaran piring hias. Duh pengennn…

Kendari Trip

Ihiy… Kota ke-3 di Pulau Sulawesi yang kusinggahi.

Sebagai pemain cadangan di kantor, baru diinfokan DLK ke Kendari ini last minute. Yowis gapapa juga karena saya cekatan #tsah jadi beres juga persiapan semuanya (padahal tinggal ngelanjutin).

DLK ke Kendari ini dalam rangka kegiatan evaluasi pelaksanaan beasiswa afirmasi di perguruan tinggi. Untuk itu kami berkunjung ke Universitas Haluoleo dan IAIN Kendari untuk bertemu dengan Wakil Rektor Kemahasiswaan dan para mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, ADik OAP, ADik 3T, BBP PPA (info lebih jelas tentang beasiswa ini ke website dikti.go.id ya).

Sharing pengalaman dan saran kritik atas pelaksanaan beasiswa afirmasi ini bikin saya mbrebes mili. Bagaimana tidak? perjuangan adik-adik dari Papua & Papua Barat serta adik-adik dari kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara ini sangatlah super, mereka pantang menyerah dan bersemangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Pengen menularkan semangat mereka ke saudara di kampung yang orang tuanya malas menyekolahkan buru-buru dikawinkan saja. Huft.

Semoga pelaksanaan beasiswa afirmasi ke depannya semakin profesional dan banyak mahasiswa terbantukan dalam meraih cita-cita mereka dalam membangun negeri dengan ilmu yang diperoleh.

Oke, skip ngomongin #worklyfe sekarang ngomongin kesanku pada kota Kendari saja :D. Alhamdulillah selama di Kendari, saya puas makan seafood, enak-enak semua… Kami ada makan di RM. Ibu Dina, RM Ikan Bakar Alamo (Pepo dan Memo pernah makan di sini loh) dan RM Angkasa Nikmat.

Sedangkan untuk jalan-jalan dikarenakan kota Kendari diguyur hujan selama kunjungan maka kami tidak sempat kemana-mana lagipula lokasi pantai dan obyek wisata lumayan cukup jauh. Satu-satunya tempat yang kami kunjungi adalah Masjid Al-Alam yang masih dalam tahap pembangunan, itu pun malam hari gelap gulita gerimis pula… ngeri kecemplung laut euy. Iya masjid ini konsepnya masjid terapung di tengah laut.

Bicara oleh-oleh Kendari yang terkenal adalah kacang mede dan seharusnya coklat (ternyata sulit padahal ada pabrik pengolahan coklat besar di sini). Selain itu godaan terbesar adalah adanya penjual piring hias besar dekat hotel, sayangnya pas niat mau beli harga yang ditawarkan oleh pramuniaga lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan oleh pemilik toko mana bosnya sedang tidak ada di tempat. Yowislah, biarlah menjadi kenangan hahaha.