Ooh Biaya Transportasi…

Sebagai commuter, saya bangga sekali karena telah setia menggunakan transportasi umum serasa telah berkontribusi pada negara dan lingkungan. Jumawa. Not!

Karena pada kenyataannya, pengeluaran untuk biaya transportasi saya cukup besar. Kok bisa? Saya naik commuterline hanya dari stasiun ke stasiun sedangkan dari stasiun ke kantor seringnya menggunakan transportasi semi umum yaitu bajaj atau ojek online.

Pagi hari, saya biasa naik bajaj, tinggal duduk manis karena hampir semua abang bajaj tau kantor saya yah walaupun kadang dikira berkantor di Komnas HAM. Entah mirip dari mana sama kantor saya. Alasan saya lebih pilih naik bajaj adalah rasa kasihan dengan keberadaan mereka yang semakin berkurang. Lagian lebih cepat daripada harus mencari mana motor ojek online pesananku. Gila deh ini Stasiun Sudirman sekarang dikuasai abang ojek online yang tumpah memakan setengah badan jalan raya, bikin macet.

Pulang kerja pada jam yang tak tentu dan fisik lelah bikin langsung klik order ojek online padahal mah kalau pulangnya masih sore bisa jalan kaki ke stasiun. Tentunya saya pesan ojek online langsung ke Stasiun Tanah Abang untuk menyingkat waktu tempuh.

Nah itu, solusi transportasi murah adalah dengan berjalan kaki stasiun – kantor – stasiun tapi selalu ada alasan untuk malas memulainya. Keringetan ah, capek ah, susah nyebrang ah. Susah nyebrang memang problematika, menyebrang jalan dekat halte TJ Latuharhary di mana kendaraan yang melintas cenderung ngebut padahal dobel tikungan, biasanya saya cari barengan pejalan kaki lain atau abang starling yang mau menyebrang ke Taman Lawang.

Sebenarnya impian saya bukan berjalan kaki dari stasiun – kantor – stasiun melainkan naik sepeda. Ya tapi lalu muncul permasalahan lain seperti titip sepedanya di mana? kalau di kantor sih aman, di stasiun?

Ada cara lainkah untuk bertransportasi dari stasiun ke kantor visa versa?

Advertisements

#novicicipcicip

Berawal dari hobi mantengin showcase di Indomaret, beli satu buat dicicip, foto dulu buat posting di instagram eh ternyata lumayan banyak ya jajannya. Yasudahlah sekalian saja dibikin hestek #novicicipcicip.

Kalau dilihat, saya banyak juga jajan kopi ya padahal enggak juga loh, kopi harian mah cukup bikinan pramu bakti kantor atau bikin sendiri pas wiken. Trus concern saya sih lebih ke minuman yang gak terlalu manis. Ajegile kandungan gula di minuman kemasan itu harus dinetralin minimal seliter air putih.

Jadi konsepnya gimana? ya untuk kepuasan pribadi saja sih, sejauh ini belum ada yang endorse (siapa elu?) dan berusaha untuk kasih review jujur walaupun kadang mati gaya mau bikin caption apaan. Soalnya kalau diendorse suka bilang endolita tapi realita berbeda.

Simple Life yang Tidak Simpel

Nahlo gimana?

Awalnya saya lihat instastory Evita Nuh yang bertanya ke followersnya, kalian follow youtube channel/vlog apa saja? lalu muncullah rekomendasi youtuber daily life (mostly Korean) yang telah direkap sebagai berikut:

Lalu, saya pun iseng cek satu-satu youtuber tersebut dan klik subscribe. Memang menenangkan sekali melihat vlog tersebut, sedikit narasi (santai, gak heboh), calm music, sekalian kepo yekan gimana sih daily life orang Korea/Jepang? apa iya seperti yang digambarkan dalam serial drama mereka?

Bolehlah buat selingan nonton selama di kantor kalo pas jenuh dengan kerjaan #eh dan saya pun nonton di rumah yang langsung dikomen oleh mama dan bocils, “youtube apaan cuma masak dan makan melulu?”

Dari tahap kagum dengan simple life berlanjut ke tahap cobain ke diri sendiri ah. TIDAK SEMUDAH ITU FERGUSO! ini sama seperti kekaguman akan KONMARI-nya Marie Kondo yang ngehits lagi karena ada serialnya di Netflix. Minimalist is coming to 2019.

Kenapa itu menjadi sulit buat diterapkan?

Pertama, kita orang Indonesia dengan berbagai aneka ragam budaya, tradisi, kebiasaan, adat istiadat yang secara tidak langsung membentuk diri kita menjadi pribadi yang kompleks. Ini berbeda dengan orang Jepang dan Korea. Jadi agak susah ya menjadi seorang minimalist. Coba deh, pas mau sarapan mana bisa cuma makan setangkup roti?

Kedua, kita menjadi tertarik hanya dengan gadget yang diperlihatkan di vlog tersebut. Muncullah dalam benak, bisa lah hidup simple kalau punya toaster, sandwich maker, microwave, kompor listrik, coffee maker, etc… loh kok banyakan mereka peralatan elektronik rumah tangganya? gimana bayar listriknya? kasihanlah kita yang warga negara berkembang.

Cukup dua alasan itu saja ya, kalau banyak nanti jadinya nyinyir. HAHAHAHA.

Tapi apalah saya against minimalist living, if you can and love, do it! Boleh kok dicoba hidup minimalis agar lebih berisi tidak selalu berpikir materi.

Libur Imlek

Libur imlek yg produktif diisi dengan kegiatan:

1. Bikin donut filled chocolate custard ala honeykki. Modifikasi resep custard harusnya vanilla, berhubung adanya selai coklat ya itu saja yang dipake. Yg bikin donut tentu saja mama.

2. Bikin white bread pake bread maker buat sarapan seminggu. Semoga awet ya, eh katanya sih diselipin batang seledri biar tahan lama.

3. Bikin puzzle buat bocils inspired by 5-minute-craft, pake stik es krim. Eh belum difoto ya.

4. Bikin tatakan pot di atas got. Bonus digigit semut. Tatakan kayu yg lama keropos karena posisinya tepat di atas cucuran air.

5. Masang gantungan sepeda. Sudah lama beli hangernya di Ikea dan bingung masang di mana karena temboknya terbatas.

6. Main bulu tangkis dan bersepeda keliling gang bareng bocils.

Semangatku hari ini mengutip pepatah Cina, 今日事,今日毕 yang artinya “Never put off what you can do today for tomorrow. If you can finish your work for today, then do so.”

Istana Panda, Taman Safari Bogor

Alhamdulillah kunjungan ke Taman Safari kali ini bisa melihat Cai Tao dan Hu Chun, giant panda dari Chengdu, Cina. Kedua panda ini adalah bagian dari program loan breeding, dipinjam selama 10 tahun dengan harapan kedua panda ini berjodoh dan memiliki keturunan.

Pemerintah Cina memang serius dalam menjaga populasi ikon negerinya ini dari kepunahan dengan membangun Wolong Giant Panda Reserve yang merupakan pusat penelitian terpadu giant panda dengan pemanfaatan teknologi modern dalam breeding giant panda. Semoga kita bisa belajar dari Cina ya.

Kami naik shuttle bus menuju Istana Panda setelah memarkir mobil di parkiran D. Ada bus shelternya dekat Globe of Death show.

Sebelum melihat giant panda, kami menonton film pendek tentang panda menggemaskan ini, mammalia carnivora tapi doyan makan daun dan batang bambu sebanyak 14 kg. Selain itu fakta menarik tentang giant panda yaitu masih termasuk keluarga beruang, rabun tapi peka terhadap suara dan penciuman, hewan soliter, dan banyak tidur. Makanya tadi panda asyik saja memunggungi pengunjung, doamat yha! Kalau mau puas lihat panda ada tuh di channel tv ipanda.

Selamat Jalan Om Nukman

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, om Nukman.

Sepuluh tahun bermain di media sosial (khususnya twitter) alhamdulillah follow akun bermanfaat salah satunya akun om Nukman. Melalui twitnya, saya mendapat banyak ilmu bermanfaat selain itu serasa mengenal sosok beliau, seorang lulusan Teknik Nuklir UGM yang berkecimpung di dunia media sosial, seorang pengguna jasa commuterline Depok-Jakarta, seorang pencinta kopi dan kuliner, seorang penyuka olahraga sepeda. Yah begitulah, seperti kata om Nukman, “#mediasosial itu jendela kecil untuk menafsir siapa kita. Rawatlah demi masa depan yang lebih baik.

Berikut nasihat beliau untuk bijak dalam bermedia sosial:

Media sosial itu banyak manfaatnya, terutama untuk ekspresi diri. Di sisi lain, #sekadarmengingatkan, media sosial juga bisa berdampak negatif, terutama mengganggu waktu tidur yang bisa merusak produktivitas kita, takut ketinggalan info (#FOMO) dan perundungan (#bullying).
kita dapat memanen positif medsos sekaligus menekan efek negatif dgn:
1/ Tanpa ponsel dan media sosial di tempat tidur. Jika masih ada pekerjaan terkait medsos , selesaikan sebelum tidur.
2/ efektif bermediasosial agar tak ketinggalan informasi dengan memanfaatkan menu #trending
3/ tegur teman yang melakukan perundungan (via DM saja). Laporkan ke platform jika mereka masih bandel. Kita perlu aktif Memerangi perundungan.
4/ follow akun-akun kaya ilmu.

Terima kasih atas ilmunya, om Nukman…

Danau Toba Trip

Minggu lalu mendampingi pakbos ke Parapat, Sumatera Utara. Berangkat dari Jakarta ke Silangit tetapi pulangnya ke Medan sehingga melintasi barat ke timur Danau Toba dengan memakan waktu penyeberangan danau dan perjalanan darat selama 14 jam. Berikut ringkasan cerita di beberapa tempat yang kami singgahi (copas dari IG tentunya)

DTB, Silangit, Siborong-borong.

🎵 Waktu abang pergi ke Siborong-borong datang hujan yang amat deraslah. Terkejut abang terheran-heran sebab abang belum pernah ke sana 🎵

Abang saja terkejut apalagi saya? 😂 Alhamdulillah cuaca cerah, mendarat di Silangit dengan selamat. Bandaranya dalam proses renovasi. Perjalanan dari Silangit ke Parapat sungguhlah indah, menyusuri tepian Danau Toba, lembah dan bukit pinus, semak rimbun bunga liar di pinggir jalan.

Di Balige, kami berhenti untuk istirahat makan siang di warung makan Islam Gumarang. Yes, selama di Sumut kalau cari makan yang ada tulisan “warung makan Islam/muslim”. Ukuran lauknya termasuk perkedel adalah jumbo. Tap 👍😂.

Parapat, tepi barat Danau Toba.

Parapat adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Samosir. Hotel tempat kami menginap letaknya menghadap Danau Toba. Hotel lama, fasilitas standar (air hangat saja terjadwal) tapi menu sarapannya komplit dan enak.

Tahukah kamu? tepian Danau Toba ternyata berpasir seperti di pantai. Selama di Parapat cobain mangga parapat deh, ukurannya kecil, dikupas seperti pisang, rasanya manis. Oiya ada juga kacang garing Sihobuk cemilan pas dimakan sepanjang perjalanan darat.

Menyeberang ke Pulau Samosir.

Kami naik kapal ferry dari Pelabuhan Ajibata menuju Tomok, Pulau Samosir. Jadwal kapal ferry hanya tersedia setiap 3 jam sekali. Beruntung kami kebagian pemberangkatan pagi. Sayangnya kami tidak bisa turun dari mobil karena jarak antar mobil di dalam kapal ferry sangat sempit tapi no worries dari dalam mobil pun tetap bisa menikmati pemandangan indah.

Pulau Samosir

Data geografi (sumber google):
Luas Danau Toba 1.130 km2
Luas Pulau Samosir 630 km2
Luas Singapura 721,5 km2
Luas Jakarta 661,5 km2

See? Kebayang kan betapa besarnya Danau Toba dan Pulau Samosir. Samosir ini sejauh mata memandang melihat rumah-kuburan-gereja, ladang jagung, tepian Danau Toba dan pegunungannya. Pemandangannya indah semua, the picture does not do it justice apalagi cuma pakai kamera hp. Sebenarnya pengen kali foto di ladang jagung, foto depan rumah adat. Semoga di kesempatan berikutnya. Aamiin.

Oiya, selain menyeberang dengan kapal ferry, untuk menuju Pulau Samosir bisa melalui jembatan di Pangururan, sisi timur Danau Toba.

Pangururan – Gunung Tele.

Perjalanan dari Pangururan menuju Gunung Tele ini awalnya menyusuri tepian Danau Toba kemudian menanjak berkelok menuju gunung. Jangan ditanya keindahannya, masya Allah kuasaNya.

Mengemudikan kendaraan di sini perlu keahlian khusus, dalam perjalanan kami menemukan bis yang mandeg kepanasan, penumpangnya terpaksa turun.

Seingat saya, kami berhenti 4 kali yaitu sekali untuk makan siang, 3 kali untuk mengambil foto. Nanti fotonya dibagi beberapa postingan ya soalnya ada versi standar dan wide lens pake hp pakbos 😜 yang kalau digabung dalam multiple photos gak bagus.

Gunung Tele.

Studio fotonya bagus ya? Alhamdulillah berkat fitur widelens di kamera hp pakbos. Siapa yang foto? Tentunya pakbos yang fotoin 😜 gantian maksudnya setelah itu tugas @zae.nr yang fotoin pakbos karena sebagai anak arsi punya sense of art yang tinggi 👌. Karena masih amatir, saat mengambil foto, pakbos tidak memberi aba-aba take foto. Sabar tahan senyum gigi kering 😁.

Menara Pandang Tele.

Perhentian setelah perjalanan menaiki gunung. Udaranya sejuk dan tak bosan-bosannya saya bilang pemandangannya indah, cantik, elok.

Taman Alam Lumbini.

Dari Gunung Tele hingga Berastagi sepertinya saya banyak tertidur pulas 😴. Terbangun saat istirahat makan siang, sholat di Taman Wisata Iman Dairi. Memasuki kota Berastagi sudah sore, terlihat deretan pedagang bunga dan tanaman hias. Sebelumnya kami disuguhi rangkaian pegunungan sedangkan di Berastagi kami melihat Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung yang berdiri menjulang tinggi sendiri.

Di Berastagi, kami diantarkan ke kawasan agrowisata seperti di Batu-Malang yaitu perkebunan buah petik sendiri yang sayangnya sedang tidak berbuah 😂. Kami pun ke Taman Alam Lumbini yaitu pagoda berbalut warna keemasan mengingatkan saya akan Wat di Thailand. Sayangnya lagi karena kami kesorean sehingga tidak bisa masuk ke dalam pagoda. Akhirnya kami cukup puas untuk beristirahat, numpang ke toilet yang atapnya dinaiki oleh beberapa monyet 🐒. Dari Berastagi menuju Medan sudah malam, sempat mampir untuk beli jagung bakar selebihnya yang kulihat gelap gulita, macet, lewat jalan tikus yang sepi, ngantuk, terbangun sudah masuk kota Medan tepatnya di Kuala Namu dan makan di RM Sederhana sebelum beranjak tidur.

Danau Toba ini worth to visit! apalagi kalau mau road trip santai keliling pulau Sumatera jangan lupa lewat jalur Danau Toba. Ah ngomongin road trip mulu, kapan nih belajar nyetirnya?