Tips Belanja Online Saat Ramadan

Crossposting mulu biarin deh, gak di twitter, gak di FB, gak di blog πŸ˜‚ . Terserah ya tulisan sendiri ini.

Setelah sahur tiba-tiba kultwit belanja online padahal apalah aku ini belanja sedikit saja sudah puyeng lihat saldo rekening 😌 . Semoga bermanfaat ya tips belanja online-nya πŸ˜‚ …

1. Cek promo. Ada flash sale, shake2, voucher diskon, beli di apps lebih murah. Pokoknya baca dan simak!

2. Timing. Curi dengar babang2 di tanabang bahwa cargo tutup mulai tgl 14 Juni. Pastikan belanja dari sekarang atau awal Juni saja pas turun THR biar lancar di pengiriman. Kalo beli mepet lebaran, membludak, dikirimnya telat abis lebaran.

3. Yg rajin naik ojol trus poin terkumpul gak dipake coba cek penawaran point reward. Mayan loh dpt diskon sekian % dengan tukar kode reward.

4. Nangadong hepeng nyuruh belanja! Tenang simpan barang kesukaanmu di kotak wishlist, menunda belanja malah bisa dpt promo diskon tambahan. Sabar aja…

5. Catat ukuran pribadi. Ukuran baju, sepatu ya macam tukang jahitlah. Catat di notes handphone. Pastikan baca detail ukuran biar gak salah beli. Oiya, cek marketplace yang ada kebijakan pengembalian. Membantu buat yang mau tukar size.

6. Terkait pengiriman, pake alamat kantor pastikan bukan dikirim pas libur, pake alamat rumah pastikan ada yg nerima. Atau bisa pake pengiriman ke locker yg ada di stasiun, ambil sendiri sekalian naik kereta. Duh apa ya namanya?

7. Sudah belanja, sudah checkout tinggal bayar gimana nih? Masih ragu? Biasanya marketplace kasih waktu 1-3 hari untuk pembayaran dan mereka kirim notifikasi via email, sms, wa. Kelewat bayar ya berarti pesanan dibatalkan.

8. Soal sizing nih. Gw biasa pas ngemall dan ada toko offline, gw cobain deh barangnya, pas apa enggaknya kan ketauan nanti belanjanya tetep online πŸ˜‚.

9. Dasar dalam belanja di mana pun ya pikir baik2: apakah gw perlu beli ini? Apakah barang ini sparks joy? #terkonmari. Kalo gak beli gimana? Semua balik ke diri anda masing2. Jangan nyalahin orang kalo jadi boros. Control yourself!

10. Salah beli gak bisa tuker? Ya di-preloved aja kalo gak mau rugi-rugi amat atau kasih ke sodara, sedekahin ke orang lain, jangan dibuang biar gak sia-sia.

Apeu belanja aja dikultwit. Hehehe. Silakan kalo ada yang mau nambahin tips-nya.

Advertisements

Kenangan Puasa Masa Kecil

Kenangan puasa masa kecil apa yang ingin kamu ulangi bersama anak-anak?

Kalau saya banyak sih, salah satunya adalah saat kelas 5 atau 6 SD setelah sholat subuh di musholla membonceng sepeda teman (waktu itu baru pindahan dari Balikpapan, belum punya sepeda dan gak bisa bawa sepeda sendiri) kami menyusuri jalan desa yang di kanan dan kirinya sawah dan di pinggir jalan ditanami pohon turi. Tau gak pohon turi seperti apa? kalau kembangnya mungkin tau ya… itu loh yang biasa dijadikan pecel. Enak rasanya. Duh jadi pengen pecel kembang turi. πŸ˜‹πŸ˜…πŸ˜‚

Selain bersepeda berramai-ramai menikmati udara pagi hari pedesaan yang masih sangat dingin berkabut dan syahdu semburat cahaya matahari melukiskan pesona pagi kami melakukan kegiatan ‘memetik’ capung. Apa itu memetik capung? kegiatan tidak terpuji lingkungan sih πŸ˜… kami menangkap capung di sela-sela daun turi, mengumpulkannya untuk kami bawa pulang dan umpankan ke ayam. Mabok deh ayamnya saking banyak hasil petikan capung yang kami berikan .

Bukan β€˜memetik’ capung-nya yang ingin ditularkan ke anak melainkan kegiatan bersepeda bersama setelah sholat subuh. Walaupun komplek masih cukup gelap dan sepi, tadi pagi kami berkeliling blok komplek sambil menunjukkan kecanggihan lampu sepeda yang dengan menempelkan dinamonya di ban sepeda depan dan gowes sedikit langsung deh bersinar terang.

Membantu Orang di Commuterline

Tadi pagi seperti biasa saya naik commuterline transitan (Tanah Abang-Manggarai). Di Stasiun Karet, naiklah beberapa perempuan muda berjilbab dan bercadar. Saya sedang asyik dengan hand phone di tangan, asyik whatsapp-an tentu saja. Lalu saya dengar mereka, perempuan berjilbab dan bercadar itu sedang kebingungan, mungkin mereka jarang naik commuterline.

Oiya posisi saya berdiri dekat pintu karena akan turun di Stasiun Sudirman. Lalu saya tanyaΒ ke mereka, “mbak mau turun di mana?”, “Di Depok” jawab mereka. “Oh… Baiknya mbak geser ke tengah karena nanti di Stasiun Sudirman banyak yang turun, nanti mbak kedorong-dorong”. Akhirnya mereka pun beringsut ke tengah kereta.

Saya lihat sekeliling, perempuan lain tidak ada yang menanyakan malah sepertinya ada yang menatap sinis. Bukan sinis kesel dengan pakaian mereka kok. Mungkin saya suudzon dengan penumpang lain, tapi saya pernah kok jadi salah satu dari penumpang lainnya yang hanya bisa menatap sinis kesel dengan penumpang yang gagap di commuterline. Masa gak tau sih caranya naik commuterline?.

Jadi bagi yang baru pertama kali atau jarang naik commuterline memang membingungkan. Apalagi naik di jam sibuk, beuh lihat banyak orang makin pusing, lihat petunjuk arah pun bingung, mau tanya ke orang juga ragu. Begitu berhasil naik kereta pun masih belum tau pintu mana yang akan terbuka, berapa stasiun lagi untuk sampai di tujuan. Sebenarnya sih kita bisa mempelajari tapi siapa sih di sini yang suka baca manual book? Lebih sering terjun langsung kan? Kecuali pas merakit barang Ikea ya berasa pinter padahal ngikutin petunjukΒ .

Kembali ke topik, sudah beberapa kali saya bantuin penumpang commuterline yang terlihat gagap, bingung di dalam kereta. Gapapa loh nanya ke mereka apa yang bisa dibantu? jangan cuma sinis. Hitung-hitung bantuin. Cari pahala? Ah kayak iklan gojek sajaΒ Β (waaa… Aku mengendorse gratisan nih).

Halah, bantuin orang segitu saja pamer! Iyaiya… Begitu kamu merasa telah berbuat kebaikan dan timbul kesombongan sebesar biji zarrah, kamu langsung dapat balasannya kok (baca di IG @overheardjkt nih: “kurang-kurangin jahat sama orang, sekarang karma datengnya cepet sama cepetnya kaya ekspedisi barang yang besoknya sampe”).

Pas mau tap-out, KMT saya sempat error, palang pintu gak bisa dilewatiΒ πŸ˜….

Lambe Nyinyir Netizen Commuterline

Begini ceritanya:
Jumat pagi naik commuterline alias KRL pas bongkaran penumpang di Stasiun Tanah Abang, di belakang ada mbak A teriak-teriak, “siapa yang ketinggalan barang nih?” Sambil mengacungkan keresek ke atas.

Gak lama ada suara balasan dari arah tangga, “punya sayaaa..” sambil tergopoh-gopoh turun tangga berlawanan arah menerobos para penumpang yang naik tangga.

Alhamdulillah ya rezeki milik si mbak B barang bawaannya gak hilang. Rasanya semua penumpang yang mendengar dan menyaksikan kejadian tersebut bernafas lega sambil berhamdallah.

TETAPI… Ada ibu C berkata keras, “MAKANYA MBAK! PUNYA BARANG DIJAGA JANGAN SAMPAI KELUPAAN KETINGGALAN BLABLABLA…”

Etdah, rasanya pengen lelepin cabe ke si ibu C trus geret si ibu C ke studio Indosiar buat ketemu Mamah Dedeh.

Nah, dalam situasi mana pun kelen sering berlaku seperti ibu C gak sih? Nge-judge tanpa henti memperkeruh suasana? Atau bikin tulisan kek gini berharap jadi viral? Ehehe.

Ketinggalan Barang di Commuterline. Lagi.

30704254_10216356984985286_8273265970366119936_n

Ini kali kedua ketinggalan barang di commuterline.

Pertama, ketinggalan kantung plastik isi buku, alhamdulillah ketemu dan ambil barang di stasiun Serpong. Yang sekarang, ketinggalan tas ransel, alhamdulillah ketemu dan ambil barang di Stasiun Parung Panjang (tadi naik kereta jurusan ini).

Biasanya barang tertinggal karena lupa, taruh di rak trus turun lenggang kangkung. Apalagi hari ini berganti kereta dari Argo Parahyangan turun Jatinegara sambung commuterline ke Manggarai, turun Tanah Abang pindah peron naik yang jurusan Parung Panjang. Lelah sis…

Kalau ketinggalan barang bagaimana? Langkah awal, segera lapor ke PKD atau petugas KAI jelaskan tadi naik kereta apa? barang yang ketinggalan apa? Nanti mereka akan saling berkoordinasi dengan sesama petugas untuk mencari dan menyisir keberadaan barang tersebut. Saya diberikan surat keterangan kehilangan barang untuk mengambil barang di stasiun terdekat tempat barang ditemukan. Di stasiun tersebut di loket lost & found kita serahkan, dicatat dan difoto untuk bukti sebelum barang kita terima.

Memang sebaiknya jangan meninggalkan barang berharga di commuterline. Bisa saja ada orang lain iseng mengambil barang tersebut.

Akhir kata, terima kasih banyak untuk petugas KAI yang telah membantu menemukan tas saya.

Mendadak Mudik April 2018

Mudik kali ini dipersembahkan oleh suami yang DLK di Majalengka. Tiba-tiba melontarkan ide, “mau gak pulang kampung? mumpung ke Majalengka sekalian saja mudik nengokin uyut”. Oke, langsung mengajukan cuti 2 hari.

Pulang kampung kemarin cuma 4 hari, 2 hari di kampung, 2 hari di Cirebon. Yang liburan ya saya, ibu saya dan bocils kalau suami cuma mengantarkan dan kembali bekerja di Majalengka. Dua hari pertama di kampung, simply doing nothing eh gak juga sih. Ibu saya asyik bercengkerama dengan uyut (ibunya) dan saudara-saudara sedangkan bocils gak bisa diam bosan di tempat. Maklum susah sinyal, gak ada TV, gak ada internet. Solusinya? banyakin main di kebon.

Untunglah ada saudara yang rumahnya agak jauh sehingga kami bisa berkunjung dan bocils eksplorasi sekitar rumah saudara yang berupa hamparan sawah dan kebon. Bebaskeun… alhasil pulangnya badan bentol digigit serangga πŸ˜€

Dua hari berikutnya, menghabiskan waktu untuk liburan setitik yaitu berenang di Sangkan Water Park, Kuningan lalu menginap di Cirebon untuk kembali berenang di hotel. Tidak lupa kuliner empal gentong dan mampir di Trusmi untuk beli batik anak-anak. Alhamdulillah bisa nebeng tidur di hotel yang nyaman dan sarapan enak.

Nah urusan pulang ini yang agak ribet dan bikin senewen. Kami tidak naik kereta dari Cirebon dengan pertimbangan repot berpindah kereta dari Gambir ke Tanah Abang lanjut taksi ke rumah. Kami memilih naik bis yang ada pool di Ciputat, lebih dekat ke rumah. Masalahnya bis tersebut dari Tasikmalaya. Bayangkan kami harus menempuh perjalanan dari Cirebon ke Tasikmalaya. Pak suami mengambil jalan pintas potong jalur dengan mengantarkan kami ke rest area di Tol Cipularang, naik dari situ saja. Eh ternyata lupa memperhitungkan long weekend yang bikin bisnya penuh. Huft. Terpaksa kami naik bis jurusan Kampung Rambutan. Masih lebih dekat dari rumah. Permasalahannya, keluar dari terminal Kampung Rambutan ke jalan raya saja cukup jauh. Repot geret koper dan ibu saya gendong Hafsha yang berat. Belum lagi dalam perjalanan naik taksi online mas Vito jackpot. Astaghfirullah… belum lelah habis ditambah harus bersihin taksi online. Paringi kulo sabar…

Seenaknya liburan memang lebih enak di rumah πŸ˜€

Hoping Island di Belitung

Setelah puas Sabtu lalu berkeliling daratan Pulau Belitung, kali ini waktunya hoping island. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui!

Pagi itu, hujan gerimis dan bikin khawatir tidak bisa melaut. Yah, gagal deh ala-ala anak pulau πŸ˜₯ eh ternyata menurut bapak pemandu justru saat hujan gerimis, ombak di laut tenang dan bonusnya cuaca tidak panas menyengat. Leh ugha! Cusss lah…

Perjalanan dari hotel menuju pelabuhan Tanjung Kelayang sekitar 1 jam. Di sini ada bangunan yang tidak selesai dibangun (kabarnya punya Tommy), ada semacam aula besar yang dulu digunakan untuk menyambut Pak SBY. BTW, view pesisir pelabuhan ini lebih bagus daripada pantai tempat kami menginap tapi memang di sini lebih sepi.

Perahu kami berwarna ungu, stand out di tengah laut πŸ˜€ Rental perahu ini atas rekomendasi Pak Dawan supir mobil rental, terima bereslah. Baik Pak Dawan maupun Bapak Perahu (OMG, lupa gini siapa namanya) keduanya asyik dan baik. Pak Dawan bahkan seperti fotografer pribadi khusus buat liburan, siap sedia memfoto kami πŸ˜€ Bapak Perahu sesungguhnya anak pantai sejati yang akan kecewa kalau kami hanya menyewa perahu untuk menyeberang pulau tanpa berenang atau snorkling. Rugi katanya sudah jauh berlibur tapi tidak merasakan dunia bawah laut yang indah.

Pulau Lengkuas

Tujuan pertama kami hoping island, pulau ini memiliki mercu suar yang masih digunakan hingga sekarang. Hasil browsingan bilang kita bisa naik tangga hingga ke atas menara mercu suar tetapi karena musim hujan, licin dan takut kayunya lapuk maka sekarang tidak bisa. Gapapa juga sih, kebayang gempor dan pusing naik tangganya. Di mercu suar ada kucing gendut gemesin pengen kugendong dan kubawa pulang.

Di pulau ini, mas Vito masih jijik kena pasir pantai maunya sendal yang dipake tetap bersih dari butiran pasir. Ahelah, boi πŸ˜… tapi lama-lama enjoy kok. Maklumlah anak pinggir kota πŸ˜‚. Ada sedikit tragedi, saya sempat jatuh saat naik batu yang licin, hati-hati ya gaes jangan pecicilan pengen manjatin batunya.

Snorkling Spot

Tidak jauh dari Pulau Lengkuas, ada spot untuk snorkling dan saya memaksa mas Vito untuk mencobanya dan saya dipaksa nyemplung juga oleh bapak perahu. Makasih deh pak, saya bagian moto saja πŸ˜€ Awalnya mas Vito takut dan tidak nyaman tapi akhirnya ketagihan. Yes! Cintai laut Indonesia ya boi…

Alternatif lain buat yang tidak snorkling yaitu kasih makan ikan dengan biskuit (emak irit bawa bekel crackers dong πŸ˜‚). Kata mas Vito pemandangan bawah laut lebih bagus, ikannya lebih berwarna (dari atas perahu warna ikannya hitam abu doang.

Pulau Pasir

Sejauh mata memandang, Pulau Pasir ini sungguhlah gundukan pasir putih semata tapi bagusss…

Di sini, mas Vito sudah enjoy dan sah jadi anak pantai. Horeee… Lihat saja dia sukarela gegulingan dan loncat di pasir πŸ˜‚ (tekstur pasirnya memang lebih halus daripada pasir di Pulau Lengkuas). Saking enjoynya sampai dia gak mau pulang, lah saya malah ngeri pulaunya hilang karena pasirnya tergerus air laut.

Pulau Kelayang

Ini tujuan akhir dari hoping island, kami melewati Pulau Garuda yang terdiri dari bebatuan dan menyerupai kepala burung tapi gak bisa menepi di situ.

Sementara bapak pemandu dan bapak perahu ngopi, kami berdua asyik mencari kerang/batu karang dan nemu bintang laut dong. Itu fotonya cuma diangkat sebentar langsung dikembalikan ke air laut (ngeri dihujat netijen 😌). Oiya selain itu kami asyik main lempar batu sembunyi tangan eh salah lomba lempar batu paling jauh. Di pulau ini ada kedai penjual makan siang seadanya tapi prinsip emak hemat bawa bekal selama hoping island. Beneran loh, jangan lupa bawa satu tas waterproof berisi pakaian ganti, makanan dan minuman secukupnya.

Siapa bilang kami cukup makan bekal? selesai hoping island kami makan ikan bakar 2 muka, sebelah bumbu pedas sebelah bumbu kecap cocok buat mas Vito yang kurang suka makanan pedas. Alhamdulillah kenyang… (harganya pun masih reasonable-lah).

Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi

Berhubung masih banyak waktu tersisa dan masih ada pantai iconic Belitung yang belum kami kunjungi yaitu Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi. Kalau di film Laskar Pelangi, pantai ini tampak sepi kenyataannya pantai ini ramai sekali di hari libur, banyak pengunjung dan banyak penjual makanan & minuman. Di sini saya kagum sekali dengan kuasa Allah karena pantai ini berisikan batu besar-besar sekali. MasyaAllah.

Di hari kedua, saya berpindah penginapan ke Hotel Hanggar 21 dekat bandara. Sengaja memilih hotel dekat bandara karena morning flight dan dapat fasilitas antar jemput ke bandara. Hotel ini masih baru, saya pesan kamar tanpa sarapan. Di depan hotel ada kedai kopi Kong Dji dan pujasera, cukuplah makan seadanya.

Masih ada destinasi wisata yang belum dikunjungi selama liburan ini dan masih belum menikmati bersantai di pantai pasir putihnya (kalau bawa bocils sih enak, mereka bisa puas main bersama di pantai). Masih banyak kuliner yang belum sempat dicicipi. Masih penasaran dengan sejarah Timah di Belitung. Semoga diberikan rejeki lagi agar full team bisa liburan ke Belitung. Aamiin.

Sedikit informasi bagi yang belum tau, poin miles Garuda bisa diredeem untuk perjalanan menggunakan Citilink dengan pemakaian poin miles yang lebih hemat. Di Citilink dijual popmie! bayangin deh wangi popmie di penjuru pesawat πŸ˜€

Tiba di SHIA terminal 2C kepengen nyoba skytrain dan kereta bandara. Capek juga jalan kaki dari 2C ke 2B untuk naik skytrain trus pindah di stasiun kereta bandara. Bagus stasiunnya tapi kayaknya memang gak cocok buat yang mengejar waktu karena repot di transfer antar stasiun. Susah ya connecting the dot di urusan pertransportasian negeri ini. Pe-ernya banyak.