Movie Date: Bohemian Rhapsody

Malam ini saya movie date bareng suami, spontan saja setelah semalam sebelumnya nonton IGS orang-orang dan review bagus dari mereka, juga nontonin trailer dan video liveaid di youtube. Paginya sudah topup saldo mtix via tokped tapi karena gangguan, saldonya gak masuk. KZL. Untung ada Sharah yang mau dititip beliin tiket.

Movie date itu jarang banget, saya biasanya nonton bareng teman-teman daripada dengan suami. Tapi ini film tentang Freddie Mercury, Queen, siapa sih anak 80-90an yang gak tau lagunya.

Saya sengaja pilih nonton di Sency daripada PS (beda 10ribu cuy) karena dekat dengan kantor suami, ya masa gak mau? Hehehe lagipula dekat ke stasiun Palmerah, gampang pulangnya. Saya sudah wanti-wanti ke suami bahwa durasi filmnya lama, sekitar 2 jam lebih. Kalaupun ketiduran biar deh yang penting pulang malam ada temannya 😂.

Lalu bagaimana kesan nonton Bohemian Rhapsody? Susah deh kalau mau review film 😅. Meskipun katanya ada penyimpangan sejarah Queen tapi saya suka dengan film ini. Saya yang bukan die-hard fans Queen, hanya seorang anak 80-90an yang sering mendengar lagu-lagu Queen pada masanya. Yeah #faktorumur gak bohong 😂. Beberapa pesan yang kutangkap: ketenaran itu kerja keras dan keberuntungan; bekerja itu dengan sepenuh hati; dukungan keluarga dan teman even cats; teman baik itu bukan seseorang yang selalu memujimu, nurut apa katamu; being famous means you will be lonely up there, don’t take the wrong path; menerima kenyataan (LGBT, AIDS) sebagai bagian dari jalan hidup adalah hal sulit sampai akhirnya bisa menerima dan mencintai diri sendiri, love yourself.

Mantapnya adalah sepanjang film disuguhi lagu-lagu Queen (yaiyalah) dan latar belakang cerita pembuatan beberapa lagu hitsnya, totalitas Freddie setiap tampil dalam konser (suka dengan kostumnya) dan perasaan seperti bagian dari penonton konser Queen. Walaupun ada beberapa yang slow pace terus hentakan rock & roll, slow lagi (sepertinya sudah terlatih dari nonton Dilan, up and down) tapi masih okelah. Kritiknya cuma Rami Malek kurang tinggi untuk menjadi Freddie. BRB cek TBnya.

Pulang nonton, kami jalan kaki dong ke stasiun Palmerah. Sobat irit dan biar sehat setelah duduk lama dalam bioskop 😂.

Advertisements

Sibolga dan Padangsidimpuan Trip

Barutau, ternyata ada penerbangan langsung Jakarta ke Sibolga (kode bandara FLZ), cuma ada sekali penerbangan sih dan pagi saja gitu berangkatnya. Pesawat bombardier dengan formasi kursi 2-2 ini tidak ada inflight entertainment, ya gapapa juga sih lha wong kami milih tidur daripada nonton. Mendarat di Sibolga dengan cantik disuguhi pemandangan ijo royo dan pulau-pulau di sisi luarnya.

SIBOLGA, Negeri Berbilang Kaum

As said by britannica.com – The city is home to an ethnically diverse population, primarily a mixture of Acehnese, Minangkabau, Batak, and coastal Malay. There are also notable numbers fo Javanese and Bugis, as well as people of Indian, Arab, and Chinese ancestry.

Aura old city sangat terasa di Sibolga apa karena waktu itu sedang mendung ya?

TEROWONGAN BATU LUBANG SIBOLGA

Kalian di Sibolga mau jalan-jalan ke mana? Sebenarnya kami ingin sekali rebahan saja mengingat morning flight tapi rasanya sayang juga menolak ajakan ke puncak untuk melihat kota Sibolga dari atas gunung.

Puncak di sini adalah jalanan kecil Sibolga – Tarutung, berliku, menanjak dan sedang perbaikan untuk pelebaran jalan. Off-road lah, untungnya kami naik mobil SUV yang dikemudikan dengan lihai.

Sebelum mencapai puncak kami melalui dua terowongan menembus gunung yang dibangun saat masa penjajahan Belanda. Terowongan sempit dan gelap ini terasa menakutkan tapi penuh sensasi karena di ujung terowongan akan ditemui guyuran air terjun di atasnya.

Sayangnya, hari itu kami gagal ke puncak karena sedang perbaikan jalan dan mengantri naik selama satu jam. Sebagai gantinya, kami cukup mencari spot foto yang memperlihatkan keindahan kota dari atas gunung.

Sekembali dari puncak sudah sore, istirahat sebentar di hotel lalu kami mencari tempat makan malam di sekitar hotel, at least nemu indomaret saja sudah bikin kami bahagia (beli mie instan cup buat jaga-jaga) eh ternyata ada warung bakso dan mie ayam yang penjualnya perantauan dari Solo (sayang kuah mie ayamnya kebanyakan dan terlalu manis).

PADANGSIDIMPUAN – Padang na dimpu yang berarti hamparan rumput yang luas di tempat yang tinggi.

Dari Sibolga kami menuju Padangsidimpuan dengan full speed padahal jalanannya menanjak lalu menurun, sempit dan berkelok sehingga sulit mendapatkan foto pemandangan kebun salak dan Bukit Barisan yang indah padahal mata ini tertambat pada rumah-rumah kayu yang halaman depannya ditumbuhi bunga, bersahaja sekaligus manis.

Setiba di kota Padangsidimpuan kami istirahat makan siang di sebuah warung makan lesehan di tepi sawah menikmati hidangan ikan yang dimasak dengan batang rotan, nasinya seperti dicampur dengan ketan, pulen lengket.

Kami berkunjung ke IAIN Padangsidimpuan, satu-satunya perguruan tinggi negeri di sini. Kami disambut dengan ramah oleh rektor dan jajarannya. Kami berkeliling melihat gedung perkuliahan dan asrama mahasiswa/i. Ya namanya kami mendampingi pakbos pastinya kecipretan dilayani secara paripurna 😂.

Menurut kami, Padangsidimpuan lebih ramai daripada Sibolga. Keunikan yang kabarnya hanya ada di Padangsidimpuan adalah bentor vespa. Sayangnya kesadaran berlalu lintas di sini masih minim karena banyak dijumpai pengendara motor yang tidak memakai helm dan tidak menyalakan lampu 🤦.

Alam Sutera 1 Hari

Tanggal 16 Oktober 2018 lalu, saya menemani mamah konsultasi ke dokter jantung di Omni, alhamdulillahnya antrian pasien BPJS cepat selesai. Kami pun tak perlu antri obat karena ada layanan halodoc gratis. Karena cepat selesai, kami iseng nyobain naik SuteraLoop dengan tujuan Decathlon & Ikea, cukup bayar 5ribu/orang. Menyeberang jalan dari RS Omni ke Flavor Bliss pangkalan SuteraLoop susah juga karena dekat dengan lampu merah gerbang Alsut sehingga laju kendaraan masih kencang, ada tombol untuk pejalan kaki tapi letaknya jauhan dan dipagari (bingung deh, ini waktu bikin diplanning apa enggak sih?).

Well, jalan-jalan ke Alsut gak iseng amat sih. Saya sudah merencanakan mau mampir ke IKEA & Decathlon selagi di Alam Sutera. Biar pun sama-sama Tangsel tapi rumah dan alsut itu ujung ke ujung.

Di Decathlon, salah satunya beli celana olahraga buat mama yang bulan depan tes treadmill. Sesungguhnya pesan dokter ke mama untuk menurunkan berat badan juga jleb buat saya dan saya sudah lama menimang-nimang untuk membeli alat olahraga crosstrainer setelah crosstrainer yang lama rusak dan berakhir di rongsokin. Bagaimana ya, saya tuh males olahraga outdoor sendirian.

Dari Decathlon kami jalan kaki sedikit ke IKEA. Ini pun ada alasannya apalagi kalau bukan beli wishlist (kadang malas jastip IKEA karena menikmati datang ke showroom IKEA) dan ada saja perintilan (di luar wishlist) yang dibeli. Selain itu survey tempat tidur buat bocils.

Ya tapi mana bisa beli barang ukuran besar kalau tidak bawa mobil. Akhirnya hari Minggu mumpung selewat pulang dari bandara, saya dan suami mampir lagi ke IKEA dan Decathlon.

ASF Indonesia 2018

Hari Minggu ini tidak seperti biasanya karena kami semua menjadi rajin mandi pagi dan bersiap ke SICC untuk menemani mas Vito acara Kumon.

Advanced Student Forum 2018 ini dihadiri oleh ratusan siswa Kumon se-Jabodetabek dengan prestasi 5 & 7 tingkat lebih tinggi dari kelasnya dan siswa completer yang sudah menyelesaikan seluruh level. Bravo!

Kami sebagai orang tua senang dengan apresiasi dari pihak Kumon Indonesia atas kerja keras siswanya. Walau kadang kami khawatir anak akan terbebani oleh PR Kumon setiap hari tapi kami pun sadar ilmu diraih dengan ketekunan dan keuletan, itulah yang diajarkan oleh bapak Toru Kumon.

Selamat ulang tahun ke-25 untuk Kumon Indonesia 🎉

Pulang dari SICC kami lanjut ke BxC untuk merayakan prestasi mas Vito dengan makan siang bersama. Sudah menjadi janji ayahnya untuk mengajak makan sekeluarga, menunya dipilih oleh anak yang berprestasi. Mas Vito sudah gak mau diajak makan ke McD atau KFC, maunya yang mahalan 😂.

Opening Ceremony Asian Para Games 2018

Kamis lalu, saya beruntung berkesempatan menyaksikan rehearsal opening ceremony. Biarpun cuma gladi resik tapi sudah memukau mata saya. Lalu galau… Nonton opening ceremony benerannya gak ya?

Akhirnya dengan bantuan teman tim hore bisa juga dapat tiket bronze 50% lumayan menghemat karena serumah diajak nonton 😂. Perjalanan dari rumah ke GBK di sabtu sore beneran menguji kesabaran karena macet ditambah pengalihan arus lalu lintas. Deg-degan ketinggalan. Huhuhu…

Setelah menaiki banyak anak tangga. Dapat tribun maning dan not best view, akhirnya pas duduk pas countdown dimulainya acara. Fyuh… Pas bangettt. Badan gobyos keringetan, stok bekal air minum menipis, alhamdulillah bapak sebelah kasih minum gratis (padahal tadi saya marahin temannya karena menduduki kursi kami, peace pak ✌️).

Opening ceremony bertemakan bahari ini memukau dengan gemerlap pertunjukan lampu, gerak tari dan olah vokal para penyandang disabilitas yang hebat, siraman kembang api, dan kehadiran bapak Presidenku yang bersahaja 😍.

Selesai acara tak lupa kami berfoto dengan Momo, si elang bondol. Momo ini singkatan dan motivation and mobility. Selamat bertanding rekan atlit, break our disability, we are ONE!

Malang. Oldie but goodie

Begitu dapat info DLK ke Malang sih, saya gak perlu browsing macam-macam karena selain tujuan utama untuk kerja, tujuan berikutnya adalah meet up dengan Happy, teman SMA. Lagipula saya sudah pernah ke Batu yang merupakan destinasi wisata favorit di Malang, dan enaknya ke Batu itu harus rame-ramean kalau sedikit orang gak seru.

Oke, sekarang sedikit ngomongin kerjaan yang mana saya masih banyak catch up nih, ya belajar sithik-sithik lah dengan kondisi pembangunan Iptek di negeri ini. Kunjungan pertama adalah ke Pusat Unggulan Iptek (PUI) Agroindustri Atsiri. Saat menginjakkan kaki di halaman gedung PUI Agroindustri Atsiri langsung tercium wewangian. Teringat dengan drama Korea My ID is Gangnam Beauty di laboratorium parfumnya Na Hye-sung ibunya Do Kyung-seok 😍. Sayangnya peralatan laboratorium di sini masih banyak kekurangan terutama untuk peralatan uji mutu produk.

Menurut website Dewan Atsiri Indonesia, minyak atsiri/minyak eteris/minyak terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Di Indonesia sendiri ada sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri tetapi baru sebagian yang dijadikan sumber minyak atsiri komersil.

Tahukah kamu? Indonesia adalah pemasok 90% minyak atsiri jenis nilam/patchouli oil (Pogostemon Cablin) yang biasa digunakan untuk membuat parfum tetapi di sisi lain jumlah impor produk hilir minyak atsiri dalam bentuk parfum dan perasa makanan oleh Indonesia pada tahun 2008 sebesar US$ 401 juta sedangkan ekspornya hanya US$ 103 juta, alias defisit tiga sampai empat kali lipat dari ekspor. Duh sedih dengan kondisi ini.

Kunjungan berikutnya ke Politeknik Negeri Malang mengenai metode teaching factory. Di Polinema sudah ada fasilitas teaching factory di mana memperkenalkan suasana industri kepada mahasiswa agar siap kerja, di sana ada mesin produksi air mineral dan sari buah. Oiya di sini ada mesin produksi bio diesel yang menganggur tidak dimanfaatkan. Duh bagaimana ini? di tempat lain kekurangan peralatan laboratorium, di sini ada mesin tidak digunakan.

Pusing mikirin kerjaan, enaknya cerita tentang meet up. Senang sekali bisa jumpa lagi dengan Maissy eh salah dengan Happy. Kali ini saya diajak ke Alun-Alun Kota Malang, makan ala Timteng yaitu nasi mandhi ayam di Depot Agung, dilanjutkan naik odong-odong, dan ngobrol-ngobrol sembari mengawasi Kaira dan Mikha bermain. Oiya tak lupa transaksi minyak kuthus-kuthus free ongkir 😂.

Sayangnya cuma sebentar ketemuan… Keesokan harinya Happy kirim oleh-oleh. Masyaallah punya teman sebaik Happy, semoga selalu dilancarkan rezekinya, usahanya maju, sehat sekeluarga… Semoga kita bisa ketemuan lagi dan bocils playdate dengan Kaira dan Mikha 😍.

Dalam waktu sekitar 2 jam sebelum kembali ke Jakarta, saya sempatkan ke dua tempat yaitu Keramik Dinoyo dan Toko Oen.

Keramik Dinoyo ini perkampungan pengrajin dan penjual keramik, mereka berjualan di rumah, sepertinya tinggal sedikit yang membuka usaha ini. Model keramik yang dijual tidak ada yang sesuai di hati sehingga saya tidak membeli. Terus sesudahnya saya kepikiran, “kenapa gak beli saja 1 barang? Katanya mau memajukan UMKM? Duh maaf”

Berikutnya adalah ke Toko Oen, langsung jatuh cinta dengan interior jadulnya, saya beli beberapa roti. Inginnya duduk sambil makan es krim tapi saya harus kembali ke hotel. Di seberang toko ada gereja cantik.

Sepanjang perjalanan bersama abang gojek saya amati masih banyak bangunan jadul di Kota Malang ini, beberapa beralih fungsi menjadi tempat usaha kuliner. Yup, tempat kuliner dan nongkrong mahasiswa banyak banget.

Seandainya selow sih saya mau sepedaan lalu berfoto di setiap bangunan jadul tersebut. Itu saja sudah bikin bahagia.

Postingan blog ini merupakan rangkuman caption instagram, copas di sini dengan sedikit tambahan biar gak lupa 😀

De Tjolomadoe Solo

Mangkunegara IV memberi nama Pabrik Gula Colomadu yang berarti gunung madu dengan harapan agar kehadiran pabrik gula ini menjadi simpanan kekayaan dengan produksi gula berlimpah setinggi gunung. Mangkunegara IV juga berkata, “Pabrik iki openono, nadyan ora nyugihi nanging nguripi”.

Tahun 1997 Pabrik Gula Colomadu berhenti beroperasi dan sejak itu terbengkalai, mesin-mesinnya dikanibal untuk digunakan di pabrik gula lainnya. Tahun 2018, Kementerian BUMN merevitalisasi pabrik gula ini menjadi pusat heritage, edukasi, kesenian dan bisnis. That’s good but something is missing…

Saya ingin tahu tentang cerita kejayaan pabrik gula ini, bagaimana proses pengolahan tebu hingga menjadi gula? bagaimana mesin-mesin ini bekerja? dan banyak pertanyaan lain yang tidak terjawab karena tidak tersedianya informasi tentang hal tersebut.

Sorry, a picture can’t tell a thousand words…