De Tjolomadoe Solo

Mangkunegara IV memberi nama Pabrik Gula Colomadu yang berarti gunung madu dengan harapan agar kehadiran pabrik gula ini menjadi simpanan kekayaan dengan produksi gula berlimpah setinggi gunung. Mangkunegara IV juga berkata, “Pabrik iki openono, nadyan ora nyugihi nanging nguripi”.

Tahun 1997 Pabrik Gula Colomadu berhenti beroperasi dan sejak itu terbengkalai, mesin-mesinnya dikanibal untuk digunakan di pabrik gula lainnya. Tahun 2018, Kementerian BUMN merevitalisasi pabrik gula ini menjadi pusat heritage, edukasi, kesenian dan bisnis. That’s good but something is missing…

Saya ingin tahu tentang cerita kejayaan pabrik gula ini, bagaimana proses pengolahan tebu hingga menjadi gula? bagaimana mesin-mesin ini bekerja? dan banyak pertanyaan lain yang tidak terjawab karena tidak tersedianya informasi tentang hal tersebut.

Sorry, a picture can’t tell a thousand words…

Advertisements

Tumurun Private Museum

Pertama mengetahui tentang museum ini dari instagram seseorang, penasaran banget… Langsung masukin ke wishlist “Must Visit Place in Solo”, simpan lokasinya di gmaps.

Museum ini dimiliki oleh keluarga besar Bapak Lukminto, beliau adalah pemilik pabrik tekstil ternama, Sritex. Koleksi awalnya adalah beberapa mobil antik yang terawat dengan sangat baik ditambah banyak lukisan dengan aliran beragam.

Untuk mengunjungi museum ini, calon pengunjung diwajibkan untuk reservasi melalui nomor WA yang tercantum di profile. Pengunjung maksimal 10 orang, kunjungan dibatasi selama 1 jam, dipandu guide yang detail menjelaskan mengenai aneka koleksi yang ada di museum. Sembari menunggu pengunjung sebelumnya selesai, kami diberikan penjelasan singkat mengenai sejarah museum dan peraturan museum. Kunjungan ke museum ini gratis loh.

Waktu 1 jam yang diberikan terasa tidak cukup, penjelasan dari guide akan latar belakang setiap koleksi museum membuka wawasan seni kami. Bahkan ada beberapa karya seni yang bebas kami interpretasikan. Sebagai awam hal ini menyenangkan sekaligus bikin pusing hahaha. 10 menit terakhir waktu kunjungan, kami dibolehkan untuk berfoto dengan koleksi museum, tentunya dengan mematuhi syarat yang berlaku umum seperti jarak minimal 50cm dari koleksi, dilarang menyentuh, dilarang menggunakan flash.

Oiya, museum ini baru dibuka sehingga belum banyak orang yang mengetahuinya. Setiba di lokasi pun tidak ada plang nama, pagarnya tertutup tapi tenang saja karena kami disambut dengan ramah oleh petugas keamanan.

Konsep private ini mungkin awalnya terasa aneh tapi saya suka karena kunjungan ke museum bukan hanya untuk foto konten sosmed belaka melainkan untuk menikmati setiap koleksi dengan mindfullness, pembatasan waktu dan jumlah pengunjung untuk memberikan kenyamanan. Kalau sedang berada di Solo, luangkan waktu sejenak ke museum ini.

Bis PPD Intermark BSD – Bandara Soekarno Hatta

Sebelumnya saya dapat informasi bahwa Perum PPD menyediakan layanan bis bandara dari Intermark BSD. Wah bagus nih! karena Intermark BSD lebih dekat dari rumah, selama ini saya bergantung pada bis Damri pool WTC Serpong yang kalau berangkat hati kebat-kebit karena lumayan jauh, jalanan cenderung macet, pun dari WTC Serpong ke pintu tol Alam Sutera, spare waktunya harus lebih banyak. Tapi kapan ya menjajal bis PPD bandara ini?

Pucuk dicinta ulam pun tiba karena saya DLK ke Solo. Sebelum berangkat saya sudah rempong dengan rutinitas mengantarkan bocils sekolah (terasa lebih repot saat suami DLK dan mama sakit). Saya pun memesan ojek online dengan tujuan WTC Serpong tetapi saya arahkan pak ojol untuk melewati Intermark BSD, siapa tahu ada bis PPD bandara. Pagi itu Jalan Ciater Raya macet dan waktu menunjukkan pukul 9, saya khawatir ketinggalan bis baik PPD maupun Damri. Alhamdulillah, setiba di Intermark BSD dengan sedikit melawan arus (jangan ditiru) bis PPD masih menunggu waktu pemberangkatan.

Sekembali dari Solo pun, saya berjodoh dengan bis PPD Bandara ini padahal waktu itu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ternyata itu bis PPD terakhir ke Intermark BSD. Lumayan banget kan, hemat pengeluaran karena masih harga promo yaitu Rp 25.000 per perjalanan per orang.

Setelah bolak-balik mencicipi bis PPD Bandara ini saya ingin memberikan sedikit review. dan membandingkannya dengan Damri pool WTC Serpong. Kelebihan bis PPD Bandara ini antara lain:

  1. Ukuran bis lebih besar daripada bis Damri WTC Serpong,
  2. Lokasi Intermark BSD yang dekat dengan pintu tol Pamulang Serpong menghemat waktu tempuh,
  3. Cocok untuk warga Tangsel yang berdomisili sekitar Ciater, Nusa Loka/Kencana Loka BSD, Serua, Pondok Benda karena lebih dekat.
  4. Masih harga promo, Rp 25.000/orang/perjalanan. Semoga selepas masa promo harganya bersaing dan tetap terjangkau.
  5. Jadwal pemberangkatan Intermark BSD – Bandara dari pukul 05.00 – 20.00 WIB setiap 1 jam sekali (ini info terbaru dari Instagramnya, sebelumnya diinfokan pemberangkatan setiap 1 jam sekali dari pukul 05.00 – 07.00 WIB dan 2 jam sekali dari pukul 09.00 – 17.00 WIB dan terakhir pukul 18.00 WIB).

Kekurangannya hanya di jadwal pemberangkatan awal pukul 05.00 WIB sedangkan bis Damri dimulai dari pukul 03.00 WIB.

Enak kan jadi warga Tangsel kalau banyak pilihan transportasi ke bandara :D.

Asian Games 2018 – Susah Move On

Penyesalan tidak menonton secara langsung Opening Ceremony Asian Games 2018 membuat saya dan teman kerja memutuskan untuk membeli tiket Closing Ceremony Asian Games 2018. Tentu tidak mudah perjuangan memperoleh tiketnya. Setelah migrasi dari kiostix, tiket AG2018 dipindahkan ke Blibli, tiketdotcom dan loket. Kami pun membeli dari Blibli setelah mendaftarkan diri untuk mendapatkan notifikasi tiket tersedia (cepat ludes bok!). Saat tiket tersedia, langsung saja kami membeli (padahal bokek, tanggal tua) dan membentuk WA group untuk membahas persiapan menonton. Niat ya! Kami termasuk yang gerak cepat sebelum orang-orang sadar dan kehabisan tiket. Tapi nasib pembeli gelombang pertama itu tidak ada pemberitahuan lebih lanjut seperti posisi kursi menonton yang baru diketahui di hari-hari terakhir. Sedikit kecewa karena kami dapat posisi pinggir padahal kami pembeli gelombang pertama. Huft.

Beberapa hari sebelum Closing Ceremony, ibu saya jatuh sakit dan membuat galau apakah saya tetap bisa menonton atau tidak? Saya tetap bisa menonton tetapi tidak menginap, ya kami berencana menginap mengingat esok harinya masuk kerja dan acara berlangsung malam hari, antisipasi sulit memperoleh kendaraan umum untuk pulang.

Berangkat dari rumah sekitar pukul 3 sore, diantar oleh suami sampai stasiun. Suasana mendung hampir hujan saat saya berangkat tetapi saya optimis area GBK akan bebas dari hujan. Sombong sekali ya, karena begitu sampai stasiun Palmerah semakin mendung dan turun hujan saat saya di dalam shuttle bus menuju GBK. Turun di Gate 5 dalam kondisi basah dan buru-buru berteduh di halte dekat Gate 6 meeting point kami.

Alhamdulillah hujan berangsur mereda, tetapi saya copot sepatu menuju GBK karena trotoar dekat halte tersebut menggenang, bisa masuk angin kalau pakai sepatu basah berjam-jam. Rasanya saat itu orang-orang tidak mempedulikan penampilan, mereka tetap bersemangat untuk menonton. Bahkan di hari terakhir Asian Games 2018 antusiasme masyarakat untuk datang ke GBK sangat besar walaupun hanya membeli tiket festival. Di satu sisi, informasi tentang Asian Games kurang lengkap tetapi di sisi lain masyarakat malas mencari informasi padahal sehari-harinya bermain sosial media.

Kembali ke acara Closing Ceremony, antrian masuk berjalan lancar. Meskipun saya kebagian tempat duduk yang ketetesan air dari atap stadion tidak mengurangi kegembiraan malam itu. Bagaimana tidak, serangkaian artis dalam dan luar negeri menghibur para penonton dengan apik. Ternyata konsep Closing Ceremony ini adalah untuk menghibur para atlet dan volunter yang terlibat selama Asian Games 2018 makanya mereka ditempatkan di depan panggung.

Gemuruh suara penonton mengikuti lagu, goyangan dangdut-India-Kpop menghentak menyatukan semua penonton, titik-titik torch menghangati GBK, haru biru mengumandangkan Indonesia Raya, serah terima bendera OCA, sebagai lambang persahabatan Asia, lelahnya berjalan kaki dari GBK ke stasiun Palmerah selepas acara. Semua itu akan dikenang sebagai energi yang tak tergantikan.

Yang masih susah move on AG2018 mana suaranya? ASLI SUSAH MOVE ON.

Sampai kemarin saat saya DLK ke Solo, ternyata belum bisa move on karena saya bertemu dengan Rayi-RAN di Bandara SOC dan dia masih pake jaket AG2018 dong. Di area tunggu keberangkatan juga masih ada banner AG2018, ada balon Bhin-bhin, Atung dan Kaka, langsung dong saya heboh minta foto dan semangat ini menular ke sepasang bapak-ibu yang awalnya duduk cuek dekat banner AG2018. Saya bantu mengambil foto mereka berdua agar mereka memiliki kenangan manis akan AG2018.

Terima kasih Zohri dan Asian Games 2018

Animo masyarakat akan Asian Games 2018 menular juga ke kami, yang awalnya hopeless gak dapat tiket pertandingan secara online. Sudahlah ke GBK saja beli tiket festival, nobar di layar LED di zona Bhin-bhin, Atung, atau Kaka saja. Sebagai emak anak 3 pengen kan bawa bocils all team tapi setelah menimbang dengan berat hati terpaksa si bungsu Hafsha ditinggal di rumah. Beberapa orangtua yang bawa stroller pun nampaknya repot, mau beli minum & makanan antrian panjang, apalagi Hafsha maunya digendong kalau rame, alamat tangan pegal-pegal 😂. Nampaknya ini keputusan tepat karena zona festival tumplekblek oleh pengunjung yang ingin merasakan eforia Asian Games 2018 lebih dekat, merinding gila mendengar sorak semangat dari balik gedung, bagaimana kalau melihat langsung dari bangku penonton?.

Setelah diinformasikan bahwa tiket pertandingan atletik masih dijual di loket 7 dan agar perjalanan kami dari Tangsel tidak sia-sia maka kami pun membeli tiket tersebut atas dasar kapan lagi bro, 56 tahun sudah kita menunggu event ini terlaksana kembali?! Awalnya nekad beli tiket atletik hanya untuk memberikan pengalaman baru buat mas Vito dan mbak Ghita. Alhamdulillahnya ternyata di sesi 2 yang kami beli ada semifinal dan final lari 100m yang ada ZOHRI!

Zohri ini aset bangsa yang kami sayang seperti anak sendiri (begitu pula dengan atlit Indonesia lainnya), beneran deh kalau nonton langsung tuh kita ikutan merasakan energi sportivitas yang terpancar. Gebukan balon tepuk dan teriakan dari penonton yang menggema, yel-yel untuk menyemangati kayaknya gak sebanding dengan latihan dan kerja keras para atlit. Sini yang komen negatif, tante colek (pake lembing). Please ya, Zohri atlit junior berusia 18 tahun berhasil tembus final Asian Games 2018 lawannya atlit senior semua. Awalnya dia tidak diplot untuk turun di nomor 100m, dicoba turun ke nomor paling bergengsi di atletik ini karena prestasinya pada Kejuaraan Dunia Junior. Sekali lagi, terima kasih Zohri. Jalanmu masih panjang, keep fighting!

Tahu gak sejarah dibangunnya GBK? Dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, beliau berkata “Ini semua bukanlah untuk kejayaanku, semua ini dibangun demi kejayaan bangsa. Supaya bangsaku dihargai oleh seluruh dunia”. Ya tentu saja berhutang untuk mewujudkannya. Proyek megah spektakuler pada zamannya dimana rakyat masih menderita ini tentu banyak menuai protes. Bung Karno pun menjawab “Ya, memberantas kelaparan memang penting, akan tetapi memberi makan jiwa yang telah diinjak-injak dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan mereka, ini pun penting”.

Ghita & Lomba Mewarnai

39786307_10217305710182823_6393655386758447104_n

39535900_10217305710622834_8935079611310538752_n

39851707_10217305710942842_8880164923968061440_n

Sabtu siang kemarin, kami mengantar mbak Ghita lomba mewarnai di Perpustakaan Umum Kota Tangsel. Mbak Ghita sudah berani, tidak mau ditunggu.

Berhubung cuaca panas, kami melipir ke dalam perpustakaan. Koleksi bukunya lumayan banyak. Ada bukunya Pak Ahmad Tohari, bapaknya Sita, teman SMA saya (baru tau kalau film Sang Penari diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya beliau) 😅. Waktu SMA kelas 3, saya dan teman-teman sekelas pernah menginap di rumahnya dan senang mendengarkan beliau bercerita. Baru inget juga kalau kami dulu menulis cita di selembar kertas yang dimasukkan ke dalam kaleng ditanam di di halaman depan rumahnya. Apa kabarnya ya kertas harapan tersebut?

Kembali ke acara lomba mewarnai, sambil menunggu pengumuman, bocils akur makan ayam goreng. Sayang sekali mbak Ghita belum beruntung dalam lomba kali ini. Saya pun memeluk dan menghiburnya. Tetap semangat ya!

Kabar gembira untuk warga Tangsel, perpustakaan umum akan pindah ke gedung baru 4 lantai di Jalan Raya Ciater. Jujur nih, saya baru tau lokasi perpustakaan karena ada acara lomba hehehe. Semoga di lokasi baru, perpustakaannya tambah ciamik ya!

Bread Maker Kenwood BM250

Jadi… beberapa tahun silam sempat trending bread maker di kalangan ibu sosmed, ya saya pun ikutan ngiler pengen punya secara saya suka makan roti tapi harga bread maker ini terbilang mahal dan juga pertimbangan lain seperti warm-warm chicken poo di setiap kitchen gadget, rajin di awal doang 😀 .

Beli bread maker ini pun gak sengaja karena keseringan dapat newsletter dari toko perkakasku.com lalu rajin memasukkan barang ke keranjang sampai diberitahukan ada belanjaan yang tertinggal 😀 eh kok ada produk promo tapi kardusnya rusak, beli gak ya? saya chat sellernya, minta foto kondisi barang dan kepastian garansi. Fix, tergoda juga beli bread maker sale 50% ini.

Pas paket bread maker ini datang, kondisi rumah sedang berantakan renovasi kecil sementara itu bocils yang kepo langsung maksa minta dibuatkan roti tawar. Sabar nak.

Sejauh ini sudah 3 kali membuat roti tawar diantaranya Chia Seed White Bread ini. Percobaan pertama mengikuti buku manual, hasilnya roti ala orang barat yang keras di luar hambar tapi cukup lembut isinya.

Selanjutnya saya rajin googling resep roti tawar, simpan resepnya di google keep, praktekan. Alhamdulilah hasilnya enak. Lumayan menu sarapannya roti tawar home made lebih sehat tanpa bahan pengawet (walaupun masih karbo ya).

Pengennya sih bikin jenis roti lainnya tapi harus melibatkan oven tangkring dan kompor gas satu tungku di halaman yang mana ribet menyiapkannya. Beneran deh saya pengen punya oven gas. Mulai deh alasan belanja lagi 😀

Oiya jangan puji-puji saya atas roti ini ya! Karena yang bekerja adalah bread maker, saya sih cuma cemplung-cemplung bahan. Next challenge mungkin DIY ragi roti?