Libur Lebaran 2018

*kirain sudah ke-posting dari kapan tau ternyata mengendap di draft.

Mengulang yang saya broadcast di WAG, di blog ini pun kembali saya menyampaikan:

Assalamualaikum,

Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1439 Hijriah, mohon maaf lahir dan bathin.

Selamat berkumpul bersama keluarga tersayang, selamat menikmati hidangan lebaran, selamat liburan…

Lalu lalu cerita liburannya bagaimana? Ditulis di sini deh biar inget. Karena saya PNS maka ikut aturan cuti bersama tanggal 11 – 20 Juni 2018, gak pake cuti tambahan karena bingung kebanyakan libur #ahelah #pencitraanpadahalmumetanakliburnyalama. Tetapi suami saya baru libur lebaran tanggal 13 – 20 Juni 2018. Hmm… gak bisa mudik duluan dong. Alhasil tanggal 11 – 12 Juni 2018 dipakai untuk beberes rumah, asli capek mana pas puasa tapi saya lebih suka beberes di awal agar nanti balik gak terlalu banyak pekerjaan rumah. Eh di tanggal tersebut juga menyelesaikan laporan kantor jadi pas masuk tinggal submit. Maklum kan awal masuk kantor setelah liburan biasanya loadingnya lambat πŸ˜€ .

Kami mudik di H-1, 14 Juni 2018, alhamdulillah perjalanan lancar sampai kampung uyut bisa istirahat menunggu buka puasa yang kok terasa lama ya? πŸ˜€ . Malam takbiran di kampung sekarang semenjak mushola dekat rumah uyut rubuh, dulu uyut selalu mengirim makanan untuk takbiran kalau sekarang masjid terdekat pun agak jauh lokasinya maka kami hanya berkumpul saja di rumah uyut, doing nothing eh mamah sih yang ngobrol, saya cuma menyimak karena te tiasa sunda πŸ˜€ .

Di hari lebaran pun tidak banyak sanak saudara berkunjung, sepi weh siang juga sudah ganti baju kegerahan. Yang saya suka dari lebaran adalah didoakan oleh para sesepuh, terharu deh…

H+1, 16 Juni 2018, kami melakukan perjalanan pulang pergi ke Purwokerto tepatnya ke makam almarhum bapak. Di kampung bapak pun begitu lengang karena sesepuh banyak yang sudah meninggal, kami hanya mampir ke bibinya bapak.

H+2 dan H+3, 17-18 Juni 2018, kami kembali road trip ke rumah adik mamah di Pangandaran tapi bagian gunungnya yang masyaallah jalannya berbatu dan bergelombang padahal tiang listrik sudah terpancang berjejer rapi. Pengen nangis dan puter balik rasanya. Di sini kami menginap semalam, bocils sih betah saja bisa bermain bebas di halaman dan kebon. Saya menemukan kegemaran baru yaitu mengupas jengkol πŸ˜€ . Pulangnya kami dibawakan oleh-oleh banyak sekali termasuk jengkol mentah, beras, kelapa, aneka keripik.

H+4, 19 Juni 2018, kami balik ke Tangsel dengan barang bawaan lebih banyak πŸ˜€ alhamdulillah perjalanan lancar, hanya di beberapa titik mengalami kemacetan.

H+5, 20 Juni 2018 adalah waktunya mencuci dan menyetrika pakaian. FYI, selama mudik kami tidak mencuci baju karena dilema mencuci baju di kampung adalah biar pun panas tapi cucian tetap saja demek.

Sekarang sudah masuk kantor tetapi acara silaturahmi ke saudara belum selesai. Gapapa biarpun silaturahmi terasa membosankan dan menyebalkan dengan banyaknya pertanyaan tapi kita ambil sisi positifnya saja yes.

 

 

 

Advertisements

Weekend Project: Cold Brew Coffee

36325464_10216908775819712_3852263632159113216_n
pic source: https://www.hongkiat.com/blog/food-recipe-infographics/

Sesekali bikin weekend project yang tidak berbau home living melainkan food & beverages. Kepo dari postingan orang lain sih dan memang bingung karena stok kopi giling di rumah masih banyak.

Percobaan pertama: kopinya sedikit dan lupa diaduk, tipis banget rasanya.

Percobaan kedua sukses, tambahin susu UHT dan gula merah, simpan di kulkas buat bekel liburan πŸ˜‹ . Lewat deh es kopi tetangga, lumayan ngirit tanggal tua .

Tips:
Oiya nambahin perbandingannya di gambar di atas terlalu pekat, coba pake resep ini dulu: 50gr kopi giling kasar dan 500ml air dingin.

36599934_10216947400265299_8256134368024592384_n
pic source twitter @benzbara

Voila… Foto di bawah ini contoh cold brew coffee buatanku:

tapi semenjak posting, saya mengurangi konsumsi kopi karena darah tinggi 😦 . Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan prima ya…

Bocils ke Museum

36750189_10216970758249234_3671337537814659072_n.jpg

Jumat, 6 Juli 2018, bocils ikutan ke kantor. Hmm… Okelah mumpung lagi sepi.

Baru sampai di samping kantor langsung minta dibeliin kue laba-laba di bapak kue cubit yang biasa mangkal. Sampai di ruangan dapat gratisan mie ayam, makan lagi 🀦.

Biar gak bosen, saya ajak mereka ke museum dekat kantor yaitu Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok). Berempat kami cuma bayar Rp 5000. Rupanya kami pengunjung pertama di hari itu. Adanya patung dan suasana temaram di bekas rumah Laksamana Maeda ini membuat Hafsha takut minta digendong. Kami berkeliling mulai dari ruang tamu, ruang perumusan, ruang pengetikan naskah proklamasi dan juga ke lantai atas dimana kami menemukan kamar mandi dengan pink bathtub, kloset dan wastafel ❀️.

Selesai dari Munasprok, kami mencegat bajaj untuk lanjut mengunjungi museum lain di sekitar Menteng yaitu Museum AH Nasution dan Museum Sasmita Loka Ahmad Yani, sayangnya tutup semua entahlah apakah karena menjelang shalat jumat? Jadilah kami hanya berputar-putar mengendarai bajaj untuk kembali ke kantor.

Kali lain kita eksplor sekitaran Menteng ya…

Beberes Kertas

Beresin tumpukan kertas di rumah memang melelahkan. Tumpukan kertas itu berupa fotokopian dokumen, worksheet/printables anak-anak, buku sekolah anak, surat dari sekolah anak, surat dari RT, brosur, dll.

Sabtu kemarin tumben-tumbenan nih saya mau beberes kertas. Yang pertama dibongkar adalah buku sekolah anak mengingat sekarang sudah akhir tahun ajaran sekolah perlu melapangkan space penyimpanan di lemari.
1. Buku pelajaran (buku paket/buku cetak) yang sudah tidak dipakai dipindahkan, tidak dibuang karena bisa digunakan untuk belajar adiknya.
2. Buku tulis pun tak luput dari penyortiran. Yang mengejutkan ternyata anak sekarang cuma sedikit mencatat di bukunya sehingga masih banyak lembar kosong di buku tulis. Saya sobek saja agar sisa buku bisa dipakai untuk tahun ajaran berikutnya. Lumayan ngurangin belanja buku tulis setiap tahunnya πŸ˜‚. Tinggal ganti sampul bisa deh dipakai lagi.
3. Worksheet dari sekolah termasuk yang langsung disingkirkan. Yang numpuk tuh worksheet Kumon, dibuang sayang kalau inget bayaran setiap bulannya tapi gak dibuang bingung menyimpannya.
4. Kertas gambar anak pun tidak kalah banyak mengingat anak-anak saya hobi sekali menggambar dan mewarnai. Ini perlu disortir, gambar yang bagus saya simpan dan di lain kesempatan saya foto/scan untuk diupload di akun instagram khusus gambar anak. Pengen bebikinan dari gambar anak-anak tapi nanti dulu deh.
5. Surat dari sekolah anak yang informasinya sudah lewat pun langsung saya singkirkan.

Selesai merapikan kertas anak-anak, saya berpindah ke kotak kontener surat penting seperti ijazah, kartu keluarga, akte lahir, dll. Dari dulu kami sudah membuat penyimpanan khusus untuk surat penting tersebut di document keeper tapi disatukan padahal lembar penyimpanannya terbatas sehingga banyak surat penting yang hanya diselipkan dan besar kemungkinan tercecer. Ditambah fotokopian surat penting yang tak kalah banyaknya. Mulai terasa lemes ya beresinnya 😌.
1. Memisahkan surat penting per nama anggota keluarga. Jadi setiap orang memiliki satu document keeper sendiri.
2. Fotokopian surat penting yang masih berlaku saya simpan di map tersendiri.
3. Dokumen yang tidak penting tapi berisikan informasi nama/NIK/alamat/norek dikumpulkan di satu kantong terpisah untuk dihancurkan, mgeri disalahgunakan untuk pencurian identitas. Kemungkinan akan dicacah menggunakan shredder machine (pinjam punya kantor 😬), kalau dibakar bikin polusi, atau kalau kerajinan digunting acak (ternyata di marketplace banyak yang jual shredder manual).
4. Brosur produk tak luput untuk dibuang. Saya kan hobi ya ke berbagai pameran. Zaman hunting rumah tuh bisa sampai sekantong besar isinya brosur perumahan πŸ˜‚. Zaman bangun dan isi rumah pun rajin ke pameran semacam indobuildingtec, inacraft cuma buat ngumpulin brosur 😌. Sekarang sudah tidak terpakai dan banyak informasi yang bisa diperoleh dari internet.

Lumayan banget nih hasil beberes kertas ada sekardus dan sekantong kertas yang akan dibuang. Saya tanya mama saya laku berapa kalau dijual? Dikiloin apa gimana? Jawabnya, “gak dikilo, borongan dan dihargai murah”. Yowis gapapa deh, semoga sampah kertas ini diolah untuk didaur ulang ya.

Kebaikan. Pencitraan atau Riya?

Lihat dari infografis tersebut sepertinya susah amat jadi PNS untuk berpendapat di medsos di musim pilkada ini, bisa-bisa ikutan hate speech trus tercyduk
πŸ˜…
. Hmmm bisa iya bisa tidak sih…

Baca dari timeline-nya Kang Maman (@maman1965) tentang aktivitas bermedsos zaman kiwari bisa dijadikan panduan. Begini tulisannya yang sudah saya rangkum dan edit sedikit biar enak dibaca:

Ada yg “mengerikan” di medsos: ketika org takut menunjukkan kebaikan krn takut dituduh pencitraan dan riya’ tapi merasa hebat ketika menebar kebencian dan hoax.

“Adakah sesuatu yg tidak berkaitan dg pencitraan? Apakah pencitraan selalu negatif?” Lakukan saja, karena tidak cukup dengan beriman dan beramal saleh tapi sempurnakan dengan watawasaw bilhaqqiwatawasaw bissabr (The Noble Qur’an 103:3)

Biasakan block penebar hoax dan kebencian. Dan, RT (retweet/repost-share) yang berbagi: baik, benar, bermanfaat. Kita bukan minus orang baik, sangat banyak. Tapi kita jegal mereka dengan tudingan riya atau pencitraan. Sementara penebar kebencian dan hoax kita kasih panggung dengan meRT (retweet/repost) dan menanggapinya.

Terus netizen protes: “halah pencitraan saja bangga?” baca lagi ya… poin utamanya di berbuat kebaikan bukan pencitraannya. Toh seandainya baru mampu mencitrakan diri sebagai orang baik paling enggak sudah ada niat dan usaha. Pura-pura baik itu capek loh tapi kalau dibiasakan dan diikhlaskan untuk selalu berbuat baik akan melegakan hati.

Menjegal orang yang berbuat baik dengan tudingan riya atau pencitraan. Lanjut nyinyir gak berhenti-henti sambil ajak orang lain buat ikutan benci. Salah apa sih dia sampai kamu sakit hati gini? Heran deh. Semoga kita dijauhkan ya dari perbuatan seperti ini. Mungkin kamu iri dengan keberhasilannya, tidak bisa menyainginya? Mungkin kamu juga sudah banyak berusaha dan berbuat baik tapi belum mendapat pengakuan dan apresiasi. Ya sabar sambil ingat pepatah bilang “hasil tidak akan mengkhianati proses”.

Block penebar hoax dan kebencian sama saja jadi SJW (Social Justice Warrior) dong? Hmm… maunya sih penebar hoax dan kebencian diajak ngobrol baik-baik dari hati ke hati, diajak ngopi bareng tapi akutu gak ada waktu. Lagipula nge-block itu termasuk langkah preventif sih menurutku, lha iya kalau kita komen di lapaknya apa gak malah terjebak jadi saling emosi dan ikutan bodoh, cukup sampai klarifikasi saja. Ngeblock itu salah satu cara menutup panggung para penebar hoax dan kebencian. Gak usah diwaro-lah mereka, capek kan baca timeline medsos-mu isinya hoax dan kebencian melulu. Cukup Via Vallen saja yang di atas panggung.

Saya pernah sih ikutan ngeshare informasi yang ternyata hoax. Aduh, malu dan merasa bersalah banget. Makanya kalau saya ada posting yang hoax dan kebencian tolong diingatkan ya… siapa tau saya lagi lelah hati. Ingetinnya di DM/PM saja, malu atuh kesalahan diumbar trus jadi korban bully-an.

Ah kamu ikut arus nih, sok baik padahal judes (ya gimana judes mah bawaan lahir πŸ˜‚ ). Ya semoga saja arus yang saya ikutin ini membawa ke jalan kebenaran dan kebaikan.

Takut terjerumus dan menonaktifkan media sosial? ya itu juga terserah. Bila tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, bermanfaatlah bagi diri sendiri, tidak merepotkan orang lain.

Eh terus kaitannya sama PNS apa? ya, itu jadi PNS tuh gak usah-lah sebar hoax dan kebencian bukan karena ngeri tercyduk atau dipecat sih tapi apa iya cuma segitu kualitas dirimu? kerjakan saja tupoksimu, tunjukkan karyamu πŸ˜‚ .

Tips Belanja Online Saat Ramadan

Crossposting mulu biarin deh, gak di twitter, gak di FB, gak di blog πŸ˜‚ . Terserah ya tulisan sendiri ini.

Setelah sahur tiba-tiba kultwit belanja online padahal apalah aku ini belanja sedikit saja sudah puyeng lihat saldo rekening 😌 . Semoga bermanfaat ya tips belanja online-nya πŸ˜‚ …

1. Cek promo. Ada flash sale, shake2, voucher diskon, beli di apps lebih murah. Pokoknya baca dan simak!

2. Timing. Curi dengar babang2 di tanabang bahwa cargo tutup mulai tgl 14 Juni. Pastikan belanja dari sekarang atau awal Juni saja pas turun THR biar lancar di pengiriman. Kalo beli mepet lebaran, membludak, dikirimnya telat abis lebaran.

3. Yg rajin naik ojol trus poin terkumpul gak dipake coba cek penawaran point reward. Mayan loh dpt diskon sekian % dengan tukar kode reward.

4. Nangadong hepeng nyuruh belanja! Tenang simpan barang kesukaanmu di kotak wishlist, menunda belanja malah bisa dpt promo diskon tambahan. Sabar aja…

5. Catat ukuran pribadi. Ukuran baju, sepatu ya macam tukang jahitlah. Catat di notes handphone. Pastikan baca detail ukuran biar gak salah beli. Oiya, cek marketplace yang ada kebijakan pengembalian. Membantu buat yang mau tukar size.

6. Terkait pengiriman, pake alamat kantor pastikan bukan dikirim pas libur, pake alamat rumah pastikan ada yg nerima. Atau bisa pake pengiriman ke locker yg ada di stasiun, ambil sendiri sekalian naik kereta. Duh apa ya namanya?

7. Sudah belanja, sudah checkout tinggal bayar gimana nih? Masih ragu? Biasanya marketplace kasih waktu 1-3 hari untuk pembayaran dan mereka kirim notifikasi via email, sms, wa. Kelewat bayar ya berarti pesanan dibatalkan.

8. Soal sizing nih. Gw biasa pas ngemall dan ada toko offline, gw cobain deh barangnya, pas apa enggaknya kan ketauan nanti belanjanya tetep online πŸ˜‚.

9. Dasar dalam belanja di mana pun ya pikir baik2: apakah gw perlu beli ini? Apakah barang ini sparks joy? #terkonmari. Kalo gak beli gimana? Semua balik ke diri anda masing2. Jangan nyalahin orang kalo jadi boros. Control yourself!

10. Salah beli gak bisa tuker? Ya di-preloved aja kalo gak mau rugi-rugi amat atau kasih ke sodara, sedekahin ke orang lain, jangan dibuang biar gak sia-sia.

Apeu belanja aja dikultwit. Hehehe. Silakan kalo ada yang mau nambahin tips-nya.

Kenangan Puasa Masa Kecil

Kenangan puasa masa kecil apa yang ingin kamu ulangi bersama anak-anak?

Kalau saya banyak sih, salah satunya adalah saat kelas 5 atau 6 SD setelah sholat subuh di musholla membonceng sepeda teman (waktu itu baru pindahan dari Balikpapan, belum punya sepeda dan gak bisa bawa sepeda sendiri) kami menyusuri jalan desa yang di kanan dan kirinya sawah dan di pinggir jalan ditanami pohon turi. Tau gak pohon turi seperti apa? kalau kembangnya mungkin tau ya… itu loh yang biasa dijadikan pecel. Enak rasanya. Duh jadi pengen pecel kembang turi. πŸ˜‹πŸ˜…πŸ˜‚

Selain bersepeda berramai-ramai menikmati udara pagi hari pedesaan yang masih sangat dingin berkabut dan syahdu semburat cahaya matahari melukiskan pesona pagi kami melakukan kegiatan ‘memetik’ capung. Apa itu memetik capung? kegiatan tidak terpuji lingkungan sih πŸ˜… kami menangkap capung di sela-sela daun turi, mengumpulkannya untuk kami bawa pulang dan umpankan ke ayam. Mabok deh ayamnya saking banyak hasil petikan capung yang kami berikan .

Bukan β€˜memetik’ capung-nya yang ingin ditularkan ke anak melainkan kegiatan bersepeda bersama setelah sholat subuh. Walaupun komplek masih cukup gelap dan sepi, tadi pagi kami berkeliling blok komplek sambil menunjukkan kecanggihan lampu sepeda yang dengan menempelkan dinamonya di ban sepeda depan dan gowes sedikit langsung deh bersinar terang.